Untuk Empat Orang Teman

4 orang teman

Chat pagi ini tiba-tiba membawa saya pergi mengingat masa lampau, di mana tertawa, masak-masak, dan berkumpul, menjadi suatu hal yang mungkin layak tak pergi di atap pikiran saya.

Dulu kita hanyalah siswa SMP cupu yang dipertemukan dengan tiba-tiba, Tuhan memang maha asik. Pagi ini, entah tiba-tiba, ada yang ingin kembali masuk di ruang paling hampa dan sunyi ini, setelah saya berdamai, kebersamaan hanyalah kelopak senja yang tersentuh kenangan.

Dulu, kita berlima acap kali bersama untuk kumpul, sekadar melepas penat atau pun belajar kelompok. Saya, Pandu, Arifah, Fachri, dan Anis. Meskipun kita berbeda sekolah. Kala itu mereka adalah orang-orang terbaik yang saya miliki. Hari demi hari kita lewati bersama, nyaman, damai, bahagia. Kita seperti keluarga dengan berbagai pemikiran yang saling menguatkan satu dengan lain.

Pernah suatu hari di doa saya, “jangan pisahkan kebersamaan ini, hingga masing-masing dari kita mempunyai anak”, doa terkonyol yang saya minta pada Tuhan. Tak semua permintaan harus selalu dikabulkan, iya kan?

semesta menyembunyikan banyak rahasia, termasuk cinta.

Sejujurnya,  saya benci dengan perpisahan. Tapi, cepat atau lambat, perpisahan akan datang tanpa diminta.

Mengenal mereka adalah sebuah keberuntungan untuk saya.

Masa SMA pun datang, terlihat perubahan dalam sikap kita berlima. Tentunya lebih dewasa. Ya meskipun kesibukan mulai menghampiri, ada waktu untuk kita kumpul dan berbagi cerita.

Saya tulis mereka di blog ini, ketika pertemuan tak lagi mudah dijangkau, kita akan tetap saling memeluk. Untuk teman-teman. Saya ingin merasuk dan merasakan dada yang belum ditemui, sedikit bernostalgia  melalui imajinasi.

Di internet, bahkan orang yang sangat jauh dapat membuat kita dekat. Saya suka mengamati mereka dari kejauhan.

Hi Pandu, apa kabar?

Hi Anis, apa kabar?

Hi Fachri, apa kabar?

Hi Arifah, apa kabar? Sudah dikaruniai berapa anak?

Jika kalian bertanya kabar saya, Alhamdulillah saya baik-baik saja. Kalian tahu, Surabaya menjadi tempat asing. Saya merasa Surabaya bukanlah tempat yang cocok selain Bekasi dan Jakarta. Tapi, sekali lagi Tuhan maha asik.

Keputusan saya untuk berkuliah di Surabaya ternyata membawa banyak pelajaran hidup. Di sini mungkin tidak semacet Jakarta atau Bekasi, namun ada damai yang saya dapat, yaitu kembali bersama  Ibu dan Ayah. Ada yang harus dikorbankan, kamu, segala harapan yang pernah ‘kau dan aku’ gumamkan bersama, kami sepakat untuk menjalani kehidupan masing-masing. Mungkin.

Kenangan bersama teman-teman terbaik, selalu mampu mengecup ingatan, namun ingatan hanyalah kening yang cuma mampu menunggu dikecup. Kata-kata selalu ingin mampu menyentuh jantung, namun ia tak mempunyai jemari.

Saya punya mimpi.

Kelak satu hari, saat kita berlima kita bertemu, saya ingin memasakan kalian pizza mie telor dan nasi goreng. Melepas jeda di dada menjadikan jauh terasa dekat.

Perihal jarak, kita akan berlomba-lomba melupakan. Mungkin.

Semoga kita berbahagia dan saling membahagiakan.

 

 

2 thoughts on “Untuk Empat Orang Teman

    • Akbar Halim berkata:

      Jangan lama-lama pan pacarannya, buru anis di tikung naruto. kalau lo kelamaan. alhamdulillah kalau kalian baik-baik saja. semoga ada waktu untuk silaturahmi. khusus elo, gua buatin pizza mie yang agak gosong ya. hahahaha🙂

Masbro dan Mbkbro Bisa Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s