Komunisme itu gimana sih?

Komunisme Dalam Cangkang Kacang (Bagian I)

Komunisme dan Agama

Komunisme. Apa yang pertama kali muncul di kepala kalian ketika mendengar kata tersebut? Sekumpulan orang-orang brutal tak beragama yang suka membunuh? Tahukah kalian bahwa gerakan komunis di Nusantara pertama kali justru muncul dari organisasi Islam terbesar di Hindia-Belanda pada saat itu, yaitu Sarekat Islam? Beberapa tokoh-tokoh awal komunis di Nusantara juga memiliki latar belakang agama yang kental, seperti Haji Misbach, H.O.S. Tjokroaminoto, dan Tan Malaka.

Haji Misbach bahkan pernah berkata, “orang yang mengaku dirinya Islam tetapi tidak setuju adanya komunisme, saya berani mengatakan bahwa mereka bukan Islam yang sejati, atau belum mengerti betul-betul tentang duduknya agama Islam.”

Kisah Haji Merah Dan Kongres PKI

Tan Malaka juga adalah seorang Minang dengan latar belakang pendidikan agama yang kuat. Beliau adalah seorang hafidz (penghafal Al Quran). Semasa hidupnya, beliau pernah menafsirkan Islam dengan menggunakan materialisme, dialektika, dan logika di bukunya yang berjudul Islam Dalam Tinjauan Madilog (1948). Beliau juga merupakan salah satu tokoh yang menyerukan Pan-Islamisme dalam perjuangan melawan imperialisme, di samping H.O.S. Tjokroaminoto.

“Saat ini, Pan-Islamisme berarti perjuangan untuk pembebasan nasional, karena bagi kaum Muslim Islam adalah segalanya: tidak hanya agama, tetapi juga Negara, ekonomi, makanan, dan segalanya. Dengan demikian Pan-Islamisme saat ini berarti persaudaraan antar sesama Muslim, dan perjuangan kemerdakaan bukan hanya untuk Arab tetapi juga India, Jawa dan semua Muslim yang tertindas. Persaudaraan ini berarti perjuangan kemerdekaan praktis bukan hanya melawan kapitalisme Belanda, tapi juga kapitalisme Inggris, Perancis dan Itali, oleh karena itu melawan kapitalisme secara keseluruhan. Itulah arti Pan-Islamisme saat ini di Indonesia di antara rakyat kolonial yang tertindas, menurut propaganda rahasia mereka – perjuangan melawan semua kekuasaan imperialis di dunia.”

Tan Malaka Dan Islam

Tuduhan bahwa komunisme merupakan ideologi yang anti-agama merupakan tuduhan yang sangat ahistoris. Beberapa figur diktator dalam sejarah yang mengklaim sebagai komunis memang ada yang merepresi agama, itu tidak bisa dinafikan. Akan tetapi, apakah komunisme sendiri merupakan ideologi yang secara inheren anti-agama?

Tokoh-tokoh yang menganggap bahwa komunisme itu adalah ideologi yang anti agama, baik dari kalangan komunis maupun anti-komunis, sering kali menggunakan kutipan dari Marx ‘agama adalah candu masyarakat’ sebagai dasar dari anggapan tersebut. Bagaimana sebenarnya kutipan lengkap dari Marx mengenai agama?

“The foundation of irreligious criticism is: Man makes religion, religion does not make man. Religion is, indeed, the self-consciousness and self-esteem of man who has either not yet won through to himself, or has already lost himself again. But man is no abstract being squatting outside the world. Man is the world of man – state, society. This state and this society produce religion, which is an inverted consciousness of the world, because they are an inverted world. Religion is the general theory of this world, its encyclopaedic compendium, its logic in popular form, its spiritual point d’honneur, its enthusiasm, its moral sanction, its solemn complement, and its universal basis of consolation and justification. It is the fantastic realization of the human essence since the human essence has not acquired any true reality. The struggle against religion is, therefore, indirectly the struggle against that world whose spiritual aroma is religion.

Religious suffering is, at one and the same time, the expression of real suffering and a protest against real suffering. Religion is the sigh of the oppressed creature, the heart of a heartless world, and the soul of soulless conditions. It is the opium of the people.

The abolition of religion as the illusory happiness of the people is the demand for their real happiness. To call on them to give up their illusions about their condition is to call on them to give up a condition that requires illusions. The criticism of religion is, therefore, in embryo, the criticism of that vale of tears of which religion is the halo.”

Marx menganalogikan agama sebagai opium, yang mana merupakan obat penahan rasa sakit pada jamannya, karena agama muncul sebagai obat atas penderitaan atas keterasingan yang diakibatkan dari masyarakat klas. Kritik Marx terhadap agama adalah ketika agama membuat manusia menjadi pasif terhadap kondisi sosial yang ada. Agama bisa saja digunakan sebagai alat oleh klas penguasa untuk meninabobokan masyarakat. Di satu sisi, agama juga bisa menjadi alat perjuangan pembebasan, seperti gerakan Teologi Pembebesan di Amerika Latin dan juga Pan-Islamisme yang sempat kami singgung di atas.

Secara simpel, komunisme melihat agama sebagai sesuatu yang “netral”. Ia tidak “baik” atau “buruk” secara sendirinya. Agama muncul sebagai bagian dari sejarah peradaban manusia. Bagaimana agama itu digunakanlah yang menjadikannya “baik” atau “buruk”.

Di tulisan selanjutnya, kami akan mengupas secara singkat mengenai apa sebenarnya komunisme itu. Apa yang menjadi tujuan besar gerakan komunis? Dan apakah komunisme merupakan suatu gerakan yang monolit, atau justru komunisme memiliki berbagai bentuk dan faksi di dalamnya?

( copas dari line : interseksionalisme)

Masbro dan Mbkbro Bisa Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s