Apa yang Sebenarnya Diperjuangkan Kaum Komunis?

Komunisme Dalam Cangkang Kacang (Bagian II)

Komunisme adalah suatu gerakan dan ideologi politik yang sangat luas. Ketika kita membicarakan komunisme, biasanya kita merujuk kepada mazhab Marxisme-Leninisme (ML). Akan tetapi, gerakan komunis tidak terbatas pada mazhab ML saja. Ada pemikiran-pemikiran komunis lain seperti anarko-komunisme (atau pendeknya: anarkisme). Ada pula mazhab-mazhab Marxisme yang tidak sepakat dengan ML, seperti mazhab Frankfurt, Luxemburgisme, Marxisme-libertarian (yang teorinya sangat dekat dengan anarkisme), dsb. Dalam tradisi ML sendiri juga kemudian ada perpecahan antara kaum Trotskyis dan kaum Stalinis paska Stalin berkuasa di Uni Sovyet.

Di sini, kami tidak akan membicarakan secara mendalam perbedaan-perbedaan antar satu pemikiran komunis dengan lainnya, karena pembahasan tersebut akan sangat panjang dan rumit. Lagipula, tanpa memahami apa yang sebenarnya ingin dicapai oleh kaum komunis, kita tidak akan bisa memahami perbedaan-perbedaan yang ada antar pemikiran-pemikiran komunis.

Jadi, apa yang menjadi tujuan semua kaum komunis?

Pendek kata, kaum komunis ingin mencapai masyarakat komunis, yakni masyarakat tanpa klas-klas sosial, mata uang, dan Negara dimana alat-alat produksi dimiliki secara bersama untuk kemaslahatan umat manusia secara luas.

Kaum komunis melihat bahwa di dalam sistem ekonomi yang berjalan di masyarakat sekarang, yakni sistem ekonomi kapitalis, selalu ada konflik antara klas borjuis dan klas proletar. Klas borjuis adalah klas yang memiliki alat-alat produksi seperti lahan, pabrik, mesin, dan infrastruktur, sementara klas proletar adalah klas pekerja yang tidak memiliki alat-alat produksi sehingga mereka harus menjual tenaga kerjanya kepada klas borjuis yang kemudian ditukar dengan upah tertentu.

Relasi kerja dalam moda produksi kapitalistik seperti ini memiliki konsekuensi terhadap masyarakat, yakni alienisasi atau keterasingan. Atau dalam bahasa ibu Marx: Entfremdung. Marx melihat bahwa kerja bisa menjadi sumber kebahagiaan manusia sebagai suatu spesies. Akan tetapi, mode produksi kapitalis dimana kaum pemodal mengapropriasi nilai lebih (surplus value) yang diciptakan oleh pekerja membuat pekerja menjadi teralienisasi dari produk yang ia ciptakan, dari kerjanya sendiri, dan dari dirinya sendiri sebagai seorang produser. Pada akhirnya, kebanyakan dari klas pekerja kemudian bekerja sekedar untuk bertahan hidup, tanpa bisa menemukan makna dari kerjanya tersebut.

Mode produksi kapitalistik juga dilihat kaum komunis sebagai akar dari permasalahan mendasar dalam masyarakat klas: kesenjangan. Apropriasi nilai lebih dari pekerja oleh kaum pemodal membuat jurang kesenjangan makin melebar. Ini juga yang menjadi penyebab utama dari konflik klas antar klas borjuis dan klas proletar. Pemodal memiliki kepentingan untuk menekan upah pekerja serendah mungkin dan memperpanjang jam kerja mereka sepanjang mungkin, sementara pekerja memiliki kepentingan untuk mendapat upah setinggi mungkin dan jam kerja sependek mungkin. Ini adalah imbas dari prinsip cost efficiency dalam kapitalisme. Persaingan dalam kapitalisme membuat pemodal harus mencari cara untuk menekan biaya produksi serendah mungkin agar tidak kalah bersaing dengan pemodal lainnya. Pada praktiknya, klas pekerja lah yang sering kali harus menjadi korbannya. Mereka harus menghadapi jam kerja yang panjang, kondisi kerja yang tidak manusiawi, dan upah yang sekedar cukup untuk hari ini agar bisa bekerja lagi keesokan harinya.

Tentu saja, itu sekedar analisis umum komunisme terhadap masyarakat klas di dalam kapitalisme. Akan tetapi, itu cukup untuk menjadi gambaran mengenai pandangan kaum komunis terhadap kapitalisme. Dalam praktiknya, ada klas-klas menengah yang tidak benar-benar termasuk klas borjuis, tapi tidak juga termasuk dalam klas proletar. Seperti seorang manajer suatu perusahaan yang menerima gaji dari perusahaan, tapi di saat bersamaan memiliki investasi di bursa saham. Ada analisis-analisis turunan mengenai masyarakat klas di era kapitalisme kontemporer.

Untuk menuju masyarakat komunis, kaum komunis menawarkan suatu metode, yakni sosialisme. Sosialisme adalah suatu fase sebelum masyarakat benar-benar beralih dari sistem yang ada sekarang, yakni kapitalisme, menuju komunisme penuh. Oleh karenanya, istilah sosialisme dan komunisme sering kali digunakan secara sinonim. Sosialisme oleh kaum Marxis ortodoks juga disebut sebagai komunisme taraf rendah (lower-stage communism).

“Socialism is the same as Communism, only better English.” – George Bernard Shaw

Sosialisme ditandai dengan kontrol pekerja atas alat-alat produksi. Dalam sosialisme, alat-alat produksi dimiliki secara kolektif dan dijalankan secara demokratis oleh para pekerja. Prinsip umum dalam sosialisme adalah from each according to their ability, and to each according to their contribution. Sementara ketika masyarakat sosialis sudah beralih ke komunisme penuh, maka prinsip yang digunakan adalah from each according to their ability, and to each according to their need.

Penjelasan diatas merupakan penjelasan umum mengenai komunisme dan sosialisme. Tentu ada perbedaan-perbedaan pemahaman antar kaum sosialis/komunis mengenai bagaimana seharusnya sosialisme itu dijalankan. Kaum Marxis dan anarkis, misalnya, berseberangan pendapat mengenai peran Negara dalam masyarakat sosialis. Kaum Marxis percaya bahwa sebelum masyarakat komunis tercapai, Negara harus dijalankan oleh kaum pekerja dalam bentuk kediktatoran kaum proletar (the dictatorship of the proletariat) sebelum akhirnya peran Negara semakin lama semakin mengecil dan akhirnya hilang sepenuhnya (withering away of the state). Sementara itu, kaum anarkis melihat bahwa Negara harus serta merta dihilangkan dari awal karena bentuk kediktatoran kaum proletariat hanya akan menciptakan klas penguasa baru, yakni Birokrasi Merah (the Red Bureaucracy).

Hal tersebut merupakan contoh sederhana bagaimana kaum sosialis/komunis memiliki perbedaan prinsip antar satu sama lain. Tentu dalam perkembangannya, perbedaan prinsip ini menjadi semakin beragam. Dalam diskursus Marxis juga ada perbedaan-perbedaan prinsip tersendiri. Muncul mazhab-mazhab Marxisme yang mendukung Revolusi Oktober di Russia, tapi di saat yang sama juga kritis terhadap konsep kepeloporan partai kaum Bolshevik (party vanguardism) seperti mazhab Luxemburgisme yang sempat kami sebut di atas. Ada juga mazhab-mazhab Marxisme yang pada perkembangannya memiliki kemiripan dengan anarkisme dalam hal peran Negara dalam sosialisme, seperti Marxisme-otonom dan Marxisme-libertarian.

Akan tetapi, terlepas dari perbedaan-perbedaan prinsip tersebut, sejatinya kaum komunis memiliki pandangan umum yang sama bahwa sistem ekonomi kapitalistik yang berjalan sekarang adalah suatu sistem yang eksploitatif dan tidak manusiawi.

( Copas dari line : interseksionalisme )

Masbro dan Mbkbro Bisa Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s