Monolog untuk pemimpin

Duhai pemimpin negaraku

Kau adalah lambang dari suksesnya ideologimu.
Kau adalah harapan dari masyarakatmu.
Kami mengagumimu karna gaya kepemimpinanmu yang mengutamakan rakyat.
Kami menyukaimu karna visi dan misimu mengangkat kemaslahatan rakyat.
Rakyat setia dengan janji-janji manismu.
Kami kagum dengan cara berpidatomu.
Kami berharap indonesia di tanganmu menjadi lebih baik.

Duhai pemimpinku
Jika kau salah ijinkan kami menegurmu.
Jika kau lupa ijinkan kami mengiatkanmu.
Jika kau lelah ijinkan kami menyemangatimu.
Jika kau jenuh ijinkan kami menghiburmu.
Yang kau perlu ingat.
Kami adalah rakyat yang memilihmu.
Kami adalah rakyat yang mengangkatmu dari orang biasa menjadi orang luar biasa.
Kami adalah rakyat yang membelamu ketika kinerjamu sedang turun.
Kami adalah rakyat, yang bersedia kau ajak diskusi.

Duhai pemimpinku
Kami ingin negara indonesia di pimpin orang yang benar.
Di pimpin oleh pemimpin yang tidak mempunyai catatan buruk di masalalunya.
Wahai rakyat!
Apa kau punya catatan buruk tentang pemimpin yang akan memimpin indonesia di masa depan?
Jawab!
Kami punya!
Kami tidak sudi di pimpin oleh orang yang suka menculik aktivis.
Kami tidak sudi di pimpin oleh orang yang ceroboh hingga menyebabkan lumpur menjadi petaka.
Kami tidak sudi di pimpin oleh orang yang suka membantu dengan atribut partai.
Kami tidak sudi di pimpin oleh orang yang gemar prihatin.
Kami tidak sudi dipimpin oleh orang yang mengejar popularitas semata.
Kami rakyat indonesia tidak setuju.

Duhai pemimpinku
Apa yang kau perbuat untuk negriku di masa depan?
Apa yang kau perbuat hingga kami benar-benar tulus menghargaimu?
Itu adalah bagian kecil dari sebuah tanda tanya kami.

Duhai pemimpinku
Singgasana terkadang membuat lali.
Kau tau.
Terkadang janjimu manis sesaat.
Rayuanmu bagai nabi.
Di balik kebaikan sementaramu kau adalah keparat.

Duhai pemimpinku
Awalnya kau mencintai kami.
Kau lebur bersama kami.
Kau penyambung lidah rakyat.
Kau korbankan waktumu untuk kami.
Kau memperjuangkan hak-hak kami.
Kau nyatakan ucapan dukacita.
Tapi itu hanya sementara.
Iya, hanya sementara.
Omongkosong!
Keparat!

Duhai pemimpinku
Kami mencintaimu.
Kami rela mati untuk indonesia.
Dan kami rela mati untukmu.
Jangan kau sia-siakan pembelaan kami demi membela kepentingan partaimu.
Jangan kau sia-siakan hak pilih kami untuk mengambil keuntungan dari negara kesatuan republik indonesia.
Jangan!

Duhai pemimpinku
Jika kau mencintai kami utamakan kami.

Duhai pemimpinku
Kami butuh pemimpin yang tak menjadi raja kecil di kepemimpinan.
Jangan kau campurkan urusan pribadi dengan negara.

Kami adalah rakyat yang menanti kedatanganmu.
Menanti kedatangan pemimpin yang membawa kebahagian nyata.

Surabaya, 21 desember 2013.
Pukul, 03.54 pagi.

Salam,
Takzim.

Dikirim dari WordPress untuk BlackBerry.

Masbro dan Mbkbro Bisa Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s