Tentang bidadari maut

Suatu hari, jendela kamar terbuka lebar seperti hati yang mempersilahkan siapapun masuk.
Orang adalah angin yang memasuki kehidupan.
Tak jarang waktu bermain-main dengan angin.
Terdengar rintik hujan dari jendela kamar, ternyata gerimis memberi warna kelabu. Mengingat sebuah kecupan pernah mendarat dalam kening, di kepala ada kota angan yang siap dihancurkan oleh tetesan airmata.
Terdengar suara bidadari maut berteriak di sepanjang jalan.
Bidadari dan maut dari pikiranku yang kelabu.

Dunia ini adalah fana, kata penyair.
Di tengah-tengah perjalanan yang panjang, tercium aroma penghianatan.
Burung bangkai terbang menghampiri bidadari dan maut menjemput dengan akad.

Terasa matahari tak lagi tergantung di langit.

Mungkin, ada baiknya jendela ini ditutup, untuk sementara waktu.

Kita adalah pengembara waktu yang mencari ketulusan cinta sejati.

Terpampang sosok wajah yang anggun antara ada dan tiada.

Antara sunyi dan sepi, tentang bidadari maut.

-akbar halim-

Dikirim dari WordPress untuk BlackBerry.

Masbro dan Mbkbro Bisa Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s