Pada embun jiwa

Pada embun jiwa, rindu-rindu yang sembab itu menemani kesendirian.
Engkau terdiam termenung, berpikir tentang “kekalnya sebuah cinta”, katamu dalam pikiran.
Di bumi ini tak lagi ada sebuah hal yang kekal, sekalipun sebuah pelukan ternyaman.
Pada angin yang merayu sendu, sesekali ia menyebut namamu, seolah tersipu.
Kekal pada kesunyian, nafasmu dan takdir.
Jiwa yang sembab itu seperti sejarah negeriku.

Ingatan demi ingatan, dalam atap kepala, menciptakan halaman dengan banyak coretan.

Pada embun jiwa, kita menjelma dalam doa. Sesekali berharap dalam doa, meski duka memeluk.

– setelah subuh, akbar halim-

Dikirim dari WordPress untuk BlackBerry.

Masbro dan Mbkbro Bisa Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s