Matahari tak menunggu

aspal menangis tak di buai senja, kala itu seorang renta menyusuri arah yang entah dituju. Beralas debu menyinggahkan raga dibisingnya kota, merenung.., apakah ada anak tuhan menjelma untuk sisa hidupnya, sisiri ruang pada deposito yang terlampau ruah, tapi itu tak berarti lagi, saat istana sepi tak berpenghuni, seorang diri..

 

si renta menangis, selalu menangis.., meratapi apa yang sudah dilakukannya tiada berarti. kuyup menggigil menunggu kasih sayang pada petang menantap lantang. suatu hari si renta menjerit, mencaci langit atas ketidak adilannya pada kehidupan.. “ dimana, Tuhan kamu dimana, lihat diriku pada fatamorgana dunia, inikah keindahanMu..! “..

 

pada setiap langkah hanya itu yang terlontar dari kerut bibirnya, menangis.., kadang tertawa.., kadang terdiam, kadang mencaci. malam kini mulai meninggalkan senja, si rentapun kala itu bersandar pada tiang pemberi cahaya, dan lagi mencaci dengan tatapan hampa..

 

beberapa menit kemudian melintas seorang bocah pria berbusana indah menghampiri si renta dengan mengulurkan jemarinya, bertanya ; ” om.., sedang apa..! “

 

lalu, si renta menatap tajam dengan lengan menarik busana sang bocah, bertanya ; ” Kamu.., apakah kamu melihat Tuhan, dimana..? dimana dia sekarang.., ayo katakan..?! “

 

pada kondisi tenang sang bocah menjawab ; ” tenang Om.., tenang.., ada apa dengan Om.., kenapa bisa seperti ini.., kenapa Om mencari Tuhan.. “

 

lalu, si renta memeluk sang bocah, menjawab..; ” saya hanya ingin menanyakan pada Tuhan, atas ketidak adilannya terhadap Do’a-Do’a, saya..(menangis) “

 

sang bocahpun terdiam, perlahan menanyakan kembali..; ” apa yang Om pinta pada Tuhan..? “

 

sirenta melepas pelukannya terhadap sang bocah dan menjawab.. ; ” aku meminta padaNya, aku bosan dengan hidup yang miskin, aku ingin kaya raya.., aku ingin derajatku didunia tak dipandang sebelah mata.., aku tak perduli wanita, karena wanita telah membuatku sakit hati.., saat aku kaya para wanita pasti menghampiri, lalu kupilih, wanita mana yang aku mau..”

 

lalu sang bocah bertanya dengan mengusap dahi si renta..; ” lantas, setelah itu apa lagi yang Om pinta pada Tuhan.. “si renta menjawab ;” aku ingin abadi pada sebuah kekaya’an… “sang bocahpun kembali bertanya.; ” apa yang Om fikirkan saat ini, bukankah Tuhan telah mengabulkan semua permintaan Om..”

 

si renta menjawab ; ” aku tidak mau.., aku tidak mau kaya lagi.., aku tidak mau menikmati kekayaanku tanpa darah dagingku sendiri, kini aku berdo’a padaNya agar kekayaanku diambil kembali, lalu ditukar dengan seorang istri sholeh dan memberiku generasi “

 

sang bocahpun dengan halus berbicara..; ” Om, tak perlu resah dan pesimis pada semua Permintaan Om, hanya untuk sebuah generasi, disana ada Panti asuhan, di sana ada lembaga Pendidikan, disana ada Tanah lapang yang belum terdapat rumah ibadah, cobalah.., ratapi mereka dengan sebuah kondisi, lalu berdo’a padanya, jika, hartaku tak lagi bisa ditukar kembali pada dunia, kuikhlaskan semua hartaku untuk mereka yang dahulu sama sepertiku dalam kemiskinan, namun saat kematian menjemputku tiba, aku ingin menjadi hambamu yang tak pernah mengeluh pada sebuah kondisi apapun yang diberikanMu, mungkin dengan Do’a itu kehidupan itu akan Om dapatkan..”

 

dan, si renta pun bertanya ; ” kamu darimana.., dimana tempat tinggalmu..? “sang bocah pun menjawab ; ” disudut kota sana, dimana terpampang jelas alamat bergapura ( panti asuhan ), akulah anak Tuhan yang terlupakan, kalian..”

 

si renta pun kembali memeluk dan mengangis, lalu mencium dan berkata ; ” maafkan, aku..nak.. “

 

malam memucat dingin menerjang raga yang bergumpal daging, menelusuri cahaya hanya setitik, si renta kembali bergairah menghadapi kehidupan.

Salam,
Takzim.

Masbro dan Mbkbro Bisa Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s