Sedikit Mengulas tentang “Notonogoro” (Tulisan ini jangan dianggap serius, seandainya terjadi itu hanya kebetulan belaka. Kesamaan nama dan peristiwa juga hanya kebetulan belaka)

Notonogoro adalah ramalan/mitos Jayabaya yang kemudian dikait-kaitkan dengan urutan kepemerintahan di Indonesia. Kata Notonogoro kemudian dipecah dalam suku kata NO-TO-NO-GO-RO yang masing-masing suku kata mewakili nama pemimpin yang berkuasa atau akan berkuasa di Indonesia.

Orang kemudian mengkait-kaitkan NO yang pertama dengan nama Proklamator SeokarNO. Tidak ada perdebatan sampai tahapan ini.

Suku kata yang kedua adalah TO, ini dihubungkan dengan nama Presiden RI yang kedua SoeharTO. Sampai tahapan ini juga tidak ada perdebatan.

Perbedaan pendapat mulai muncul  mulai suku kata ketiga dan seterusnya: NO-GO-RO. Sebagian orang berpendapat pemerintahan yang sekarang lah yang mewakili NO (suku kata ketiga) yaitu YudhoyoNO. Lalu kemana Habibie, Gus Dur dan Megawati? Mereka hanyalah pengantar atau bisa dibilang hanya sebagai entitas yang mempersiapkan jalan untuk pemimpin yang sesungguhnya. Premis dari penganut patron ini (serius sekali pakai premis) diperkuat dengan fakta bahwa Habibie, Gus Dur dan Megawati tidak ada yang memulai dan menyelesaikan secara utuh masa kepemimpinan mereka.

Habibie, hanya pengganti SoeharTO yang waktu itu mengundurkan diri, agenda dia hanya mempersiapkan Pemilu, dia coba ikut lagi menjadi calon presiden, tapi laporan pertanggung jawabannya ditolak.

Gus Dur adalah presiden produk pemilu yang diselenggarakan Habibie pada tahun 1999. Gus Dur naik karena prakarsa Poros Tengah saat itu yang dimotori oleh Amien Rais dengan desakan “Asal Bukan Mega”. Tidak mungkin mengalahkan Megawati kalau Gus Dur tidak menjadi calon presiden. Akhirnya Gus Dur terpilih dan Megawati Jadi Wakil Presiden.

Namun tahun 2001 Gus Dur pun harus mundur dan digantikan Megawati sebagai Wakil Presiden saat itu menggantikan beliau. Jadi baik Habibie, Gus Dur maupun Megawati tidak pernah memerintah secara utuh lima tahun lamanya.

Sedikit loncat, penganut patron lainnya berpendapat, NO-GO, sudah terjadi. NO adalah Habibie, karena Habibie dalam Bahasa Arab artinya Kasih/Cinta yang bila diterjemahkan ke dalam Bahasa Jawa menjadi TresNO. GO nya adalah GOes Doer (haha, maksa ya) dan MeGOwati (lagi-lagi maksa). GOes Doer dan MeGOwati adalah kepeminpinan bersama yang mewakili generasi GO dalam NO-TO-NO-GO-RO.

Jadi penganut patron ini tinggal menunggu RO yang akan membawa Indonesia ke pintu kesejahteraan. Dulu ada pendapat yang bilang bahwa RO ini adalah Amien ROis (lagi-lagi maksa), namun melihat peta politik sekarang ini, sepertinya karir politik beliau sudah berakhir.

Penganut patron pertama menyatakan bahwa NO (suku kata ketiga) diwakili oleh YudhoyoNO. Lalu siapa GO? Disini saya sedikit mengambil peran sebagai penerjemah Jayabaya. Jangan terjebak bahwa entitas yang terlibat harus orang, GO ini bisa juga badan/partai yaitu GOlkar. GOlkar bukan partai berkuasa, tapi sudah terbukti dalam Pansus Century, GOlkar mampu memenangkan voting dan tetap memiliki kursi di Kabinet. Ketua-nya tetap tegar dengan semua kasus yang mengguncang dari mulai Lapindo sampai ke hutang pajak. Kemudian dibentuklah sekber koalisi dan ketuanya pun dari GOlkar. Jadi GO berikutnya adalah GOlkar. Jaman SoeharTO, bukan Golkar yang berkuasa tapi SoeharTO, sekarang ini GOlkar sudah mandiri, tidak perlu menang pemilu untuk berkuasa, hebat sekali.

Siapa RO? RO yang dipercaya akan membawa Indonesia ke kejayaan. Mungkin bisa “Edhie BaskoRO” dia sudah merintis karir di dunia politik dan menduduki jabatan sekjen saat ini di Partai Demokrat. RO bisa juga Anas UbaningROem (haha, penganut aliran maksa).

Apapun itu, kita siap menjadi saksi hidup. Asal jangan RO ini: ROehoet Xitompoel.

Tulisan ini jangan dianggap serius, seandainya terjadi itu hanya kebetulan belaka. Kesamaan nama dan peristiwa juga hanya kebetulan belaka.

**** Sumber :  S D P ****

 

7 thoughts on “Sedikit Mengulas tentang “Notonogoro” (Tulisan ini jangan dianggap serius, seandainya terjadi itu hanya kebetulan belaka. Kesamaan nama dan peristiwa juga hanya kebetulan belaka)

    1. betul 😀
      asal jangan sensi karna sudah banyak masyarakat indonesia yang terlalu sensian… 😀
      heheheh… trimakasih sudah mampir di wordpress saya.. silahkan mampir lagi…

Masbro dan Mbkbro Bisa Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s