syi’ah BUKAN ISLAM……!!!! (warning..!!!)

Serupa tapi tak sama. Barangkali ungkapan ini tepat untuk menggambarkan Islam dan kelompok Syi’ah. Secara fisik, memang sulit dibedakan antara penganut Islam dengan Syi’ah. Namun jika ditelusuri -terutama dari sisi aqidah- perbedaan di antara keduanya ibarat minyak dan air. Sehingga, tidak mungkin disatukan.

Apa Itu Syi’ah?
Syi’ah menurut etimologi bahasa Arab bermakna: pembela dan pengikutseseorang. Selain itu juga bermakna: Setiap kaum yang berkumpul di atassuatu perkara. (Tahdzibul Lughah, 3/61, karya Azhari dan Tajul Arus, 5/405,karya Az-Zabidi. Dinukil dari kitab Firaq Mu’ashirah, 1/31, karya Dr. Ghalibbin ‘Ali Al-Awaji) Adapun menurut terminologi syariat bermakna: Mereka yang menyatakan bahwa Ali bin Abu Thalib lebih utama dari seluruh shahabat dan lebih berhak untuk
memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin, demikian pula anak cucu sepeninggal beliau. (Al-Fishal Fil Milali Wal Ahwa Wan Nihal, 2/113, karya Ibnu Hazm) Syi’ah, dalam sejarahnya mengalami beberapa pergeseran. Seiring dengan bergulirnya waktu, kelompok ini terpecah menjadi lima sekte yaitu Kaisaniyyah, Imamiyyah (Rafidhah), Zaidiyyah, Ghulat, dan Isma’iliyyah. Dari kelimanya, lahir sekian banyak cabang-cabangnya. (Al-Milal Wan Nihal, hal. 147, karya Asy-Syihristani) Dan tampaknya yang terpenting untuk diangkat pada edisi kali ini adalah sekte Imamiyyah atau Rafidhah, yang sejak dahulu hingga kini berjuang keras
untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin. Dengan segala cara, kelompok sempalan ini terus menerus menebarkan berbagai macam kesesatannya. Terlebih lagi kini didukung dengan negara Iran-nya. Rafidhah , diambil dari yang menurut etimologi bahasa Arab bermakna ,
meninggalkan (Al-Qamus Al-Muhith, hal. 829). Sedangkan dalam terminology syariat bermakna: Mereka yang menolak imamah (kepemimpinan) Abu Bakr dan ‘Umar c, berlepas diri dari keduanya, dan mencela lagi menghina para shahabat Nabi ?. (Badzlul Majhud fi Itsbati Musyabahatir Rafidhati lil Yahud, 1/85, karya Abdullah Al-Jumaili) Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata: “Aku telah bertanya kepada ayahku, siapa Rafidhah itu? Maka beliau menjawab: ‘Mereka adalah orang-orang yang mencela Abu Bakr dan ‘Umar’.” (Ash-Sharimul Maslul ‘Ala Syatimir Rasul hal. 567, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah) Sebutan “Rafidhah” ini erat kaitannya dengan Zaid bin ‘Ali bin Husain bin ‘Ali bin Abu Thalib dan para pengikutnya ketika memberontak kepada Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan di tahun 121 H. (Badzlul Majhud, 1/86) Asy-Syaikh Abul Hasan Al-Asy’ari berkata: “Zaid bin ‘Ali adalah seorang yang melebihkan ‘Ali bin Abu Thalib atas seluruh shahabat Rasulullah, mencintai Abu Bakr dan ‘Umar, dan memandang bolehnya memberontak1 terhadap para pemimpin yang jahat. Maka ketika ia muncul di Kufah, di tengah-tengah para pengikut yang membai’atnya, ia mendengar dari sebagian mereka celaan terhadap Abu Bakr dan ‘Umar. Ia pun mengingkarinya, hingga akhirnya mereka (para pengikutnya) meninggalkannya. Maka ia katakan kepada mereka:

“Kalian tinggalkan aku?” Maka dikatakanlah bahwa penamaan mereka dengan Rafidhah dikarenakan perkataan Zaid kepada mereka “Rafadhtumuunii.” (Maqalatul Islamiyyin, 1/137). Demikian pula yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawa (13/36). Rafidhah pasti Syi’ah, sedangkan Syi’ah belum tentu Rafidhah. Karena tidak semua Syi’ah membenci Abu Bakr dan ‘Umar sebagaimana keadaan Syi’ah
Zaidiyyah. Rafidhah ini terpecah menjadi beberapa cabang, namun yang lebih ditonjolkan
dalam pembahasan kali ini adalah Al-Itsna ‘Asyariyyah.

Siapakah Pencetusnya?
Pencetus pertama bagi faham Syi’ah Rafidhah ini adalah seorang Yahudi dari negeri Yaman (Shan’a) yang bernama Abdullah bin Saba’ Al-Himyari, yang menampakkan keislaman di masa kekhalifahan ‘Utsman bin Affan.2 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Asal Ar-Rafdh ini dari munafiqin dan zanadiqah (orang-orang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran, pen). Pencetusnya adalah Abdullah bin Saba’ Az-Zindiq. Ia tampakkan sikap ekstrim di dalam memuliakan ‘Ali, dengan suatu slogan bahwa ‘Ali yang berhak menjadi imam (khalifah) dan ia adalah seorang yang ma’shum (terjaga dari segala dosa, pen).” (Majmu’ Fatawa, 4/435)

Sesatkah Syi’ah Rafidhah ?
Berikut ini akan dipaparkan prinsip (aqidah) mereka dari kitab-kitab mereka yang ternama, untuk kemudian para pembaca bisa menilai sejauh mana kesesatan mereka.

a. Tentang Al Qur’an
Di dalam kitab Al-Kaafi (yang kedudukannya di sisi mereka seperti Shahih
Al-Bukhari di sisi kaum muslimin), karya Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub
Al-Kulaini (2/634), dari Abu Abdullah (Ja’far Ash-Shadiq), ia berkata :
“Sesungguhnya Al Qur’an yang dibawa Jibril kepada Muhammad ? (ada) 17.000ayat.”
Di dalam Juz 1, hal 239-240, dari Abu Abdillah ia berkata: “?Sesungguhnya di
sisi kami ada mushaf Fathimah ‘alaihas salam, mereka tidak tahu apa mushaf
Fathimah itu. Abu Bashir berkata: ‘Apa mushaf Fathimah itu?’ Ia (Abu
Abdillah) berkata: ‘Mushaf 3 kali lipat dari apa yang terdapat di dalam
mushaf kalian. Demi Allah, tidak ada padanya satu huruf pun dari Al Qur’an
kalian?’.”
(Dinukil dari kitab Asy-Syi’ah Wal Qur’an, hal. 31-32, karya Ihsan Ilahi
Dzahir).
Bahkan salah seorang “ahli hadits” mereka yang bernama Husain bin Muhammad
At-Taqi An-Nuri Ath-Thabrisi telah mengumpulkan sekian banyak riwayat dari
para imam mereka yang ma’shum (menurut mereka), di dalam kitabnya Fashlul
Khithab Fii Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab, yang menjelaskan bahwa Al
Qur’an yang ada ini telah mengalami perubahan dan penyimpangan.

b. Tentang shahabat Rasulullah
Diriwayatkan oleh Imam Al-Jarh Wat Ta’dil mereka (Al-Kisysyi) di dalam
kitabnya Rijalul Kisysyi (hal. 12-13) dari Abu Ja’far (Muhammad Al-Baqir)
bahwa ia berkata: “Manusia (para shahabat) sepeninggal Nabi, dalam keadaan
murtad kecuali tiga orang,” maka aku (rawi) berkata: “Siapa tiga orang itu?”
Ia (Abu Ja’far) berkata: “Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifari, dan
Salman Al-Farisi?” kemudian menyebutkan surat Ali Imran ayat 144. (Dinukil
dari Asy-Syi’ah Al-Imamiyyah Al-Itsna ‘Asyariyyah Fi Mizanil Islam, hal. 89)
Ahli hadits mereka, Muhammad bin Ya’qub Al-Kulaini berkata: “Manusia (para
shahabat) sepeninggal Nabi dalam keadaan murtad kecuali tiga orang:
Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifari, dan Salman Al-Farisi.”
(Al-Kafi, 8/248, dinukil dari Asy-Syi’ah Wa Ahlil Bait, hal. 45, karya Ihsan
Ilahi Dzahir)
Demikian pula yang dinyatakan oleh Muhammad Baqir Al-Husaini Al-Majlisi di
dalam kitabnya Hayatul Qulub, 3/640. (Lihat kitab Asy-Syi’ah Wa Ahlil Bait,
hal. 46)
Adapun shahabat Abu Bakr dan ‘Umar, dua manusia terbaik setelah Rasulullah
?, mereka cela dan laknat. Bahkan berlepas diri dari keduanya merupakan
bagian dari prinsip agama mereka. Oleh karena itu, didapati dalam kitab
bimbingan do’a mereka (Miftahul Jinan, hal. 114), wirid laknat untuk
keduanya:

Ya Allah, semoga shalawat selalu tercurahkan kepada Muhammad dan
keluarganya, laknatlah kedua berhala Quraisy (Abu Bakr dan Umar), setan dan
thaghut keduanya, serta kedua putri mereka?(yang dimaksud dengan kedua putri
mereka adalah Ummul Mukminin ‘Aisyah dan Hafshah)
(Dinukil dari kitab Al-Khuthuth Al-‘Aridhah, hal. 18, karya As-Sayyid
Muhibbuddin Al-Khatib)
Mereka juga berkeyakinan bahwa Abu Lu’lu’ Al-Majusi, si pembunuh Amirul
Mukminin ‘Umar bin Al-Khaththab, adalah seorang pahlawan yang bergelar “Baba
Syuja’uddin” (seorang pemberani dalam membela agama). Dan hari kematian
‘Umar dijadikan sebagai hari “Iedul Akbar”, hari kebanggaan, hari kemuliaan
dan kesucian, hari barakah, serta hari suka ria. (Al-Khuthuth Al-‘Aridhah,
hal. 18)
Adapun ‘Aisyah dan para istri Rasulullah ? lainnya, mereka yakini sebagai
pelacur -na’udzu billah min dzalik-. Sebagaimana yang terdapat dalam kitab
mereka Ikhtiyar Ma’rifatir Rijal (hal. 57-60) karya Ath-Thusi, dengan
menukilkan (secara dusta) perkataan shahabat Abdullah bin ‘Abbas terhadap
‘Aisyah: “Kamu tidak lain hanyalah seorang pelacur dari sembilan pelacur
yang ditinggalkan oleh Rasulullah?” (Dinukil dari kitab Daf’ul Kadzibil
Mubin Al-Muftara Minarrafidhati ‘ala Ummahatil Mukminin, hal. 11, karya Dr.
Abdul Qadir Muhammad ‘Atha)
Demikianlah, betapa keji dan kotornya mulut mereka. Oleh karena itu, Al-Imam
Malik bin Anas berkata: “Mereka itu adalah suatu kaum yang berambisi untuk
menghabisi Nabi ? namun tidak mampu. Maka akhirnya mereka cela para
shahabatnya agar kemudian dikatakan bahwa ia (Nabi Muhammad ? ) adalah
seorang yang jahat, karena kalau memang ia orang shalih, niscaya para
shahabatnya adalah orang-orang shalih.” (Ash-Sharimul Maslul ‘ala
Syatimirrasul, hal. 580)

c. Tentang Imamah (Kepemimpinan Umat)
Imamah menurut mereka merupakan rukun Islam yang paling utama3. Diriwayatkan
dari Al-Kulaini dalam Al-Kaafi (2/18) dari Zurarah dari Abu Ja’far, ia
berkata: “Islam dibangun di atas lima perkara:? shalat, zakat, haji, shaum
dan wilayah (imamah)?” Zurarah berkata: “Aku katakan, mana yang paling
utama?” Ia berkata: “Yang paling utama adalah wilayah.” (Dinukil dari
Badzlul Majhud, 1/174)
Imamah ini (menurut mereka -red) adalah hak ‘Ali bin Abu Thalib ? dan
keturunannya sesuai dengan nash wasiat Rasulullah ?. Adapun selain mereka
(Ahlul Bait) yang telah memimpin kaum muslimin dari Abu Bakr, ‘Umar dan yang
sesudah mereka hingga hari ini, walaupun telah berjuang untuk Islam,
menyebarkan dakwah dan meninggikan kalimatullah di muka bumi, serta
memperluas dunia Islam, maka sesungguhnya mereka hingga hari kiamat adalah
para perampas (kekuasaan). (Lihat Al-Khuthuth Al-‘Aridhah, hal. 16-17)
Mereka pun berkeyakinan bahwa para imam ini ma’shum (terjaga dari segala
dosa) dan mengetahui hal-hal yang ghaib. Al-Khumaini (Khomeini) berkata:
“Kami bangga bahwa para imam kami adalah para imam yang ma’shum, mulai ‘Ali
bin Abu Thalib hingga Penyelamat Umat manusia Al-Imam Al-Mahdi, sang
penguasa zaman -baginya dan bagi nenek moyangnya beribu-ribu penghormatan
dan salam- yang dengan kehendak Allah Yang Maha Kuasa, ia hidup (pada saat
ini) seraya mengawasi perkara-perkara yang ada.” (Al-Washiyyah Al-Ilahiyyah,
hal. 5, dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1/192)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Minhajus Sunnah, benar-benar
secara rinci membantah satu persatu kesesatan-kesesatan mereka, terkhusus
masalah imamah yang selalu mereka tonjolkan ini.
d. Tentang Taqiyyah
Taqiyyah adalah berkata atau berbuat sesuatu yang berbeda dengan keyakinan,
dalam rangka nifaq, dusta, dan menipu umat manusia. (Lihat Firaq Mu’ashirah,
1/195 dan Asy-Syi’ah Al-Itsna ‘Asyariyyah, hal. 80)
Mereka berkeyakinan bahwa taqiyyah ini bagian dari agama. Bahkan sembilan
per sepuluh agama. Al-Kulaini meriwayatkan dalam Al-Kaafi (2/175) dari Abu
Abdillah, ia berkata kepada Abu Umar Al-A’jami: “Wahai Abu ‘Umar,
sesungguhnya sembilan per sepuluh dari agama ini adalah taqiyyah, dan tidak
ada agama bagi siapa saja yang tidak ber-taqiyyah.” (Dinukil dari Firaq
Mu’ashirah, 1/196). Oleh karena itu Al-Imam Malik ketika ditanya tentang
mereka beliau berkata: “Jangan kamu berbincang dengan mereka dan jangan pula
meriwayatkan dari mereka, karena sungguh mereka itu selalu berdusta.”
Demikian pula Al-Imam Asy-Syafi’i berkata: “Aku belum pernah tahu ada yang
melebihi Rafidhah dalam persaksian palsu.” (Mizanul I’tidal, 2/27-28, karya
Al-Imam Adz-Dzahabi)

e. Tentang Raj’ah
Raj’ah adalah keyakinan hidupnya kembali orang yang telah meninggal. ‘Ahli
tafsir’ mereka, Al-Qummi ketika menafsirkan surat An-Nahl ayat 85, berkata:
“Yang dimaksud dengan ayat tersebut adalah raj’ah, kemudian menukil dari
Husain bin ‘Ali bahwa ia berkata tentang ayat ini: ‘Nabi kalian dan Amirul
Mukminin (‘Ali bin Abu Thalib) serta para imam ‘alaihimus salam akan kembali
kepada kalian’.” (Dinukil dari kitab Atsarut Tasyayyu’ ‘Alar Riwayatit
Tarikhiyyah, hal. 32, karya Dr. Abdul ‘Aziz Nurwali)

f. Tentang Al-Bada’
Al-Bada’ adalah mengetahui sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui. Mereka
berkeyakinan bahwa Al-Bada’ ini terjadi pada Allah ?. Bahkan mereka
berlebihan dalam hal ini. Al-Kulaini dalam Al-Kaafi (1/111), meriwayatkan
dari Abu Abdullah (ia berkata): “Tidak ada pengagungan kepada Allah yang
melebihi Al-Bada’.” (Dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1/252). Suatu keyakinan
kafir yang sebelumnya diyakini oleh Yahudi4.
Demikianlah beberapa dari sekian banyak prinsip Syi’ah Rafidhah, yang
darinya saja sudah sangat jelas kesesatan dan penyimpangannya. Namun sayang,
tanpa rasa malu Al-Khumaini (Khomeini) berkata: “Sesungguhnya dengan penuh
keberanian aku katakan bahwa jutaan masyarakat Iran di masa sekarang lebih
utama dari masyarakat Hijaz (Makkah dan Madinah, pen) di masa Rasulullah ?,
dan lebih utama dari masyarakat Kufah dan Iraq di masa Amirul Mukminin (‘Ali
bin Abu Thalib) dan Husein bin ‘Ali.” (Al-Washiyyah Al-Ilahiyyah, hal. 16,
dinukil dari Firaq Mu’ashirah, hal. 192)

Perkataan Ulama tentang Syi’ah Rafidhah
Asy-Syaikh Dr. Ibrahim Ar-Ruhaili di dalam kitabnya Al-Intishar Lish Shahbi
Wal Aal (hal. 100-153) menukilkan sekian banyak perkataan para ulama tentang
mereka. Namun dikarenakan sangat sempitnya ruang rubrik ini, maka hanya bisa
ternukil sebagiannya saja.
1. Al-Imam ‘Amir Asy-Sya’bi berkata: “Aku tidak pernah melihat kaum yang
lebih dungu dari Syi’ah.” (As-Sunnah, 2/549, karya Abdullah bin Al-Imam
Ahmad)
2. Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri ketika ditanya tentang seorang yang mencela Abu
Bakr dan ‘Umar, beliau berkata: “Ia telah kafir kepada Allah.” Kemudian
ditanya: “Apakah kita menshalatinya (bila meninggal dunia)?” Beliau berkata:
“Tidak, tiada kehormatan (baginya)?.” (Siyar A’lamin Nubala, 7/253)
3. Al-Imam Malik dan Al-Imam Asy-Syafi’i, telah disebut di atas.
4. Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Aku tidak melihat dia (orang yang
mencela Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Aisyah) itu orang Islam.” (As-Sunnah, 1/493,
karya Al-Khallal)
5. Al-Imam Al-Bukhari berkata: “Bagiku sama saja apakah aku shalat di
belakang Jahmi, dan Rafidhi atau di belakang Yahudi dan Nashara (yakni
sama-sama tidak boleh -red). Mereka tidak boleh diberi salam, tidak
dikunjungi ketika sakit, tidak dinikahkan, tidak dijadikan saksi, dan tidak
dimakan sembelihan mereka.” (Khalqu Af’alil ‘Ibad, hal. 125)
6. Al-Imam Abu Zur’ah Ar-Razi berkata: “Jika engkau melihat orang yang
mencela salah satu dari shahabat Rasulullah ?, maka ketahuilah bahwa ia
seorang zindiq. Yang demikian itu karena Rasul bagi kita haq, dan Al Qur’an
haq, dan sesungguhnya yang menyampaikan Al Qur’an dan As Sunnah adalah para
shahabat Rasulullah ?. Sungguh mereka mencela para saksi kita (para
shahabat) dengan tujuan untuk meniadakan Al Qur’an dan As Sunnah. Mereka
(Rafidhah) lebih pantas untuk dicela dan mereka adalah zanadiqah.”
(Al-Kifayah, hal. 49, karya Al-Khathib Al-Baghdadi)
Demikianlah selayang pandang tentang Syi’ah Rafidhah, mudah-mudahan bisa
menjadi pelita dalam kegelapan dan embun penyejuk bagi pencari
kebenaran?Amin.

MENGUPAS SYIAH

MUQADDIMAH

Semenjak kematian Imam mereka, Syi’ah mengalamiperkembangan dan perpecahan.
Dan semakin jauh perpecahan mereka, semakin banyakpula ajaran dan paham baru.
Dimana tidak jarang ajaran Syi’ah dalam satu periode bertentangan dengan ajaranmereka pada periode sebelumnya. Karena setiap Imam memberikan ajaran, dimana perkataan Imam bagi Syi’ah adalah hadits, sama dengan sabda RasulullahShallallahu ‘Alaihi Wa Aalihi Wasallam. Bahkan adayang ber-anggapan bahwa perkataan Imam sama denganfirman Allah. Namun yang kita bicarakan dalam kapasitas ini adalahkelompok Syi’ah yang percaya kepada dua belas Imam(Syi’ah Imamiyah Al-Itsna ‘Asyariyah) dan sekte inilah yang masuk dan berkembang di Indonesia.Namun kemungkinan orang-orang Syi’ah di sekitar anda akan mengingkari tulisan ini sambil berkata: “Syi’ah tidak seperti ini!” Tetapi tidak selayaknyalah merekamengingkari perkataan-perkataan ulama-ulama besar me-reka, Karena bahan bacaan yang kami gunakan dalampenyusunan risalah ini menggunakan kitab-kitab pokok Syi’ah yang ditulis oleh ulama-ulama besar Syi’ah sebagai referensi.

PEMBAHASAN

Abdullah bin Saba’ adalah seorang pendeta Yahudi dariYaman yang pura-pura masuk Islam pada akhirkekhalifahan ‘Utsman radiallahu ‘anhu. Dialah orang yang pertama mengisukan bahwa yang berhakmenjadi khalifah setelah Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wasallam adalah Ali Shallallahu ‘AlaihiWasallam.Tetapi pada abad ke-14, dimunculkanlah isu bahwa Abdullah bin Saba’ itu adalah manusia bayangan.Mungkin didorong oleh rasa tidak enak, karena timbul imajinasi bahwa ajaran Syi’ah itu berasal dari Yahudi.Tetapi itu merupakan fakta sejarah yang telah dibakukan,diakui oleh ulama-ulama Syi’ah pada jaman dahulu hingga sekarang.Sungguh keliru orang yang mengatakan bahwa tidak ada perbedaan antara Sunni dan Syi’ah, kecuali sebagaimanaperbedaan yang terjadi antara madzhab yang empat(Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali) dan masalah-masalah furu’iyah ijtihadiyyah!Ketahuilah bahwa Syi’ah adalah agama di luar Islam.
Perbedaan antara kita kaum Muslimin dengan Syi’ahsebagaimana berbedanya dua agama dari awal sampaiakhir yang tidak mungkin disatukan, kecuali salah satunya meninggalkan agamanya.Agar para pembaca mengetahui bashirah (yakni hujjahyang kuat dan terang naqliyyun dan aqliyyun) bahwa Syi’ah adalah dien/agama, maka di bawah ini kami tuliskan sebagian dari aqidah Syi’ah yang tidak seorang Muslim pun meyakini salah satunya melainkandia telah keluar dari Islam.

1. Mereka mengatakan bahwa Allah Ta’ala tidakmengetahui bagian tertentu sebelum terjadi. Dan merekasifatkan Allah Ta’ala dengan al-Bada’ yakni AllahSubhanahu wa Ta’ala baru mengetahui sesuatu setelahterjadi.

2. Tahriful Qur’an (Perubahan Al-Qur’an). Yakni mereka mengi’tiqadkan telah terjadi perubahan besar-besarandi dalam Al-Qur’an. Ayat-ayat dan surat-suratnya telahdikurangi atau ditambah oleh para shahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di bawah pimpinan tigakhalifah yang merampas hak ahlul bait, yaitu Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsman radhiallahu ‘anhum ajmain. Salah satu ayat yang dibuang menurut versi Syi’ah adalah ayat wilayah (kedudukan) yang terdiri dari tujuh ayat. Kami tuliskan ayat ketujuhnya : Dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan Ali termasukorang-orang yang menjadi saksi.

3. Mereka juga mengatakan bahwa Al-Qur’an yang ada ditangan kaum Muslimin dari zaman shahabat sampai hariini tidak asli lagi. Kecuali Al-Qur’an mereka yang tiga kali lebih besar dari Kitabullah yang merekanamakan mushaf Fatimah yang akan dibawa oleh Imam Mahdi. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman(yang terjemahannya):

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dansesungguhnya Kami-lah yang benar-benarmemelihara/menjaganya.” (Al-Hijr: 9).

(Al-Qur’an) yang tidak datang padanya kebathilan baik dari depan maupun belakangnya, yang diturunkan ALLAH Yang Maha Bijaksana (lagi) Maha Terpuji.”(Fush-shilat : 42).

Alangkah besarnya dusta dan penghinaan mereka terhadapAl-Qur’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala tegaskan bahwa Al-Qur’an di dalam pemeliharaan-Nya dan tidak akankemasukan satupun yang bathil dari segala jurusan.Akan tetapi mereka mengatakan bahwa Al-Qur’an telah diubaholeh tangan-tangan manusia, yaitu para shahabat.

4. Mengadakan penyembahan terhadap manusia. Merekabersikap berlebih-lebihan terhadap imam-imam mereka,sehingga mereka tinggikan sampai kepada derajatuluhiyyah (ketuhanan). Untuk itu, mereka telahberbohong atas nama shahabat besar ahlul jannah, Alibin Abi Thalib bersama istrinya (Fatimah puteri NabiShallallahu ‘Alaihi Wa Aalihi Wasallam) dan kedua orang anaknya (Hasan dan Hushain) dan seluruh ahlul bait. Lihatlah kepada sebagian perkataan ulama mereka tentang Ali bin Abi Thalib yang kata mereka -secara dusta- telah mengatakan:

Demi Allah. Sesungguhnya Akulah yang bersama Ibrahim di dalam api, dan Akulah yang men-jadikan api itu dingin dan selamatlah Ibrahim. Dan Aku bersama Nuh didalam bahtera (kapal), dan Akulah yang menyelamatkannya dari teng-gelam. Dan Aku bersama Musa, lalu Aku ajarkan ia Taurat. Dan Akulah yang membuat Isa dapat berbicara di waktu masih bayi dan Akulah yangmengajarkannya Injil. Dan Aku bersama Yusuf di dalam sumur, lalu Aku selamatkan ia dari tipu daya saudara-saudaranya. Dan aku bersama Sulaiman di atas permadani (terbang),dan aku-lah yang menundukkan angin untuknya).(Dinukil dari kitab Syi’ah wa Tahrifu al-Qur’an oleh Syaikh Muhammad Malullah halaman 17, nukilan darikitab al-Anwaaru an-Nu’maaniyyah (I/31) salah satukitab terpenting Syi’ah).

Sekarang lihatlah apa yang dikatakan Khomeini,pemimpin besar agama Syi’ah di dalam kitabnyaal-Hukuumatu al-Islamiyyah (hal. 52):”Dan sesungguhnya yang terpenting dari madzhab kami,sesungguhya imam-imam kami mempunyai kedudukan (maqam)yang tidak bisa dicapai oleh seorang pun malaikat yang muqarrab/dekat dan tidak oleh seorangpun Nabi yang pernah diutus.”

Maksudnya, imam-imam mereka itu jauh lebih tinggi daripara malaikat dan sekalian Nabi yang pernah diutus. Inilah salah satu penghinaan terbesar Khomeini kepadaseluruh Malaikat dan para Nabi semuanya (termasuk Jibril dan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,berpegang kepada keumuman lafadz yang diucapkanKhomeini). Sangat tidak pantas seorang pemuda Ahlus Sunnah mengidolakan orang seperti ini, bahkan sampai memajang posternya di dalam kamarnya.Mereka pun meriwayatkan secara dusta atas nama Ali:Dan akulah yang menghidupkan dan memati-kan. (Syi’ahwa Tahrifu al Qur’an, hal 17).Lihatlah! Bagaimana mereka samakan Ali dengan Namruddan Fir’aun yang mengaku sebagai tuhan yang menghidupkan dan mematikan.

5. Di antara I’tiqad Syi’ah yang terpenting danmenjadi salah satu asas agama mereka adalah aqidahraj’ah, yaitu keyakinan hidup kembali di dunia inisesudah mati, atau kebangkitan orang-orang yang telahmati di dunia.Peristiwanya terjadi ketika Imam Mahdi mereka bangkitdan bangun dari tidur panjangnya yang sampai sekarangtelah seribu tahun lebih (karena selama ini iabersembunyi di dalam gua). Kemudian dihidupkanlahkembali seluruh imam mereka dari yang pertama sampaiyang terakhir tanpa terkecuali Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wa Aalihi Wasallam dan putri beliau Fatimah. Kemudian dihidupkan kembali pula musuh-musuh Syi’ahyang terdepan yakni Abu Bakar, Umar dan Utsman danseluruh shahabat dan seterusnya. Mereka semua akandiadili, kemudian disiksa di depan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Aalihi Wasallam karena telahmendzalimi ahlul bait, merampas imamah dan seterusnya.(Lihat kitab mereka, Haqqul Yaqin, Hal. 347).

Aqidah Raj’ah ini terang-terangan telah mendustakanisi Al-Qur’an diantaranya firman ALLAH Subhanahu waTa’ala (yang terjemahannya):”Dan di hadapan mereka (orang-orang yang telah mati)ada alam kubur sampai hari mereka dibangkitkan (yaknihari kiamat).”Ayat yang mulia ini menegaskan bahwa orang yang telahmati akan hidup di alam barzakh (alam kubur) dan tidakakan hidup lagi di dunia sampai mereka dibangkitkannanti pada hari kiamat.

6. Pengkafiran kepada seluruh shahabat RasulullahShallallahu ‘Alaihi Wa Aalihi Wasallam, kecualibeberapa orang seperti Ali, Fatimah, Hasan dan Hushain dan..Mereka merendahkan para shahabatdengan caci maki dan laknat dalam melawan firman AllahSubhanahu wa Ta’ala yang banyak memuji para shahabatdi antaranya keridhaan Allah kepada mereka radhiallau ‘anhum ajmain.

7. Taqiyyah. Berkata Mufid dalam kitabnya Tashhiihal-I’tiqaad, menerangkan pengertian taqiyah dikalanganSyi’ah:”Taqiyah adalah menyembunyikan kebenaran dan menutupikeyakinannya, serta menyem-bunyikannya dari orang-orang yang berbeda dengan mereka dan tidakmenampakkannya kepada orang lain karena dikhawatirkanakan berbahaya terhadap aqidah dan dunianya.”Ringkasnya, taqiyah adalah berdusta untuk menjaga rahasia.

Hakekat Syi’ah memang terka-dang sulitdiketahui para pengikutnya sendiri. Itu semua dikarenakan aqidah taqiyah dan kitman (sikap menjaga rahasia) yang ada pada mereka. Bahkan terkadang mereka berpenampilan seolah-olah mencintai Ahlus Sunnah, sehingga semua ini menjadikanorang-orang yang polos di kalangan Ahlus Sunnah tertipu dan terpedaya oleh mereka.Syi’ah mensyari’atkan dusta yang merupakan aqidah yangharus dipercayai dan bahkan masuk dalam rukun iman,sebagaimana disebut-kan dalam kitab mereka:”Kulani menukil dari Abdullah, ia berkata: Taq-walahatas agamamu dan berhijablah dengan “taqiyah”, makasesungguhnya tidak sempurna iman seseorang apabilatidak berdusta (taqiyah). (Ushulul Kaafi hal. 483.

Al Kaafi merupakan salah satukitab pegangan pokok mereka dalam hal aqidah dan agamaSyi’ah Imamiah).Kulaini mengatakan dari Abdullah ia berkata: AdalahBapakku mengatakan: “Dan apakah yang dapat menenangkan pikiranku selain berdusta (taqiyah).

Sesungguhnya taqiyah adalah surga bagi orang yangberiman.” (Ushul Al-Kaafi hal.484).Jagalah agama kalian dan lindungilah dengan taqiyah,sesungguhnya tidak beriman bagi siapa yang tidakbertaqiyah. (Al Kulani dalam Ushul Al-Kafi, I/218).

Rafidhah (Syi’ah) memandang wajibnya menggunakantaqiyah terhadap kaum Muslimin. Dengan taqiyah, seakanmereka menunjukkan iltizam-nya tehadap hukum Islam. Saling meno-long dengan dasar cinta dan kasih sayang dengan kaum Muslimin. Padahal kenyataannya merekaberlepas diri dari kaum Muslimin.Mere-ka menganggap bahwa Ahlus Sunnah lebih kafirdaripada orang-orang Yahudi, Majusi dan Musyrik.Mereka juga memandang bahwa mereka tidak mungkinbertemu dengan kaum Muslimin dalam masalah agama.Seperti yang dijelaskan oleh Ni’matullah al-Jazairi, ia berkata: “Sesungguhnya kita tidak bertemu dengan mereka atassatu ilah (sembahan), tidak pula atas satu nabi dan tidak pula atas satu imam. Yang demikian itu karenamereka mengatakan bahwasanya Tuhan mereka adalah yangmengutus Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagainabinya dan mengangkat Abu Bakar sebagai khalifahnya. Sedangkan kami tidak mengatakan dengan Tuhan yangdemikian itu dan tidak pula dengan nabinya. Akantetapi yang kami katakan bahwa Tuhan yang mengangkatAbu Bakar bukanlah Tuhan kita, tidak pula nabitersebut adalah nabi kita.”(Ash-Shirath al-Mustaqim Ila Mustahqi at-Taqdim,III/73).

Oleh karena itu mereka menyelisihi kaum Muslimin dalamsegala perkaranya.Menjadikan hal demikian sebagai prinsip mereka yangpaling penting, dan mereka membangun agamanya atasprinsip tersebut. Seperti yang diriwayatkan olehash-Shadiq dari Ali bin Absath, ia berkata: “Aku berkata kepada Radha ‘Alaihissalaam : ‘Aku memiliki masalah, tetapi aku tidak memperolehpemecahannya. Sedang di negeri tersebut tidakseseorang pun ulama kita (Syi’ah). Radha menjawab: ‘Datanglah kepada ahli fiqh yang ada di negeri itu,lalu mintalah fatwa berkenaan dengan masalahmu. Tapi ambillah kebalikannya. Karena, kebenaran itu ada padakebalikan (pernyataan fatwa) tersebut.” (Dikutip dari kitab mereka Al-Anwar An-Nu’maniyah II/278).Menurut Khomeini, imannya orang Syi’ah tidak sempurna kecuali bila ia telah berbeda dengan Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Al-Hukumat al-Islamiyyah hal. 83).

Berkata Ash-Shadiq; “Ayahku berkata dalam suratnya:’Janganlah engkau bermakmum shalat kecuali pada duamacam orang. Pertama orang yang engkau percayai agamadan kewaraannya. Kedua, orang yang engkau khawatirkan pedang, kekerasan, dan kekejiannya terhadapagama-(mu). Shalatlah di belakangnya dengan carataqiyah dan berpura-pura.” (Dikutip dari kitab mereka Man laa yahdhuruhual-Faqiih, I/265). Syaikh mereka Majlisi meriwayatkan dari Abi Abdillah,bahwasanya ia pernah berkata: ……. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallambersabda:”Diperintahkan supaya bertaqiyah…..” (Kitab Syi’ah, Bihar al-Anwar,XXIV/47)

Inilah kepalsuan yang sangat besar terhadap kedudukanRasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan terhadapkeluarga-nya dan kerabatnya. Seandainya kita menerima bahwa ahlul bait takutterhadap para penguasa, maka siapakah yang ditakutioleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan kepada siapakah beliau pernah bertaqiyah? Padahal beliaulah yang tegak menentang kaum kafir Quraisy dan para pembesarnya. Beliau hadapi mereka, beliau selisihi agamanya serta beliau seru mereka untukberibadah kepada Allah semata. Jadi mengaitkan taqiyah kepadaNabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan keluarganyamerupakan dusta yang sangat besar.

Tobatnya Ayatullah `Uzma As Sayyid Abu Al Fadhl Al Burqu`i

Syi`ah tertusuk pada jantungnyua, tatkala seorang Ayatullah Al `Uzma As Sayyid Abu Al Fadhl mengumumkan taubat dan keluarnya dari agama Syi`ah yang kotor itu, akal mereka tidak siap menerima kenyataan pahit seperti ini. Belum sembuh borok akibat Ahmad Al Kisrawi Rahimahullah yang bertaubat mendapat hidayah kepangkuan Islam dan memproklamirkan kebatilan agama Syi`ah Imamiyah Ja`fariyah, disusul dengan bala` susulan dengan taubatnya Ayatullah Al `Uzma As Sayyid Abu Al Fadhl Al Burqu`i yang diberi hidayah oleh Allah dan dilapangkan dadanya menerima Islam, menyambut panggilan kebenaran meninggalkan kebathilan dan orang-orangnya. Keluarnya Ayatullah Al `Uzma Al Burqu`i benar-benar mengguncang Syi`ah, karena ia (Al Burqu`i) memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan berpengaruh.
Sekapur Sirih tentang Al Burqu`i
Dia adalah Sayyid Abu Fadhl bin Muhammad At Taqiy bin Ali bin Musa Ar Ridha Al Burqu`i. Nasabnya kembali kepada jalur Ahlul Bait. Dia adalah selevel dengan Khumaini dalam hal ilmu, hanya saja Khumaini lebih tinggi peringkatnya dalam referensi agama Syi`ah. Dia merupakan salah satu mercusuar agama Syi`ah kala itu. Dia mengumandangkan taubatnya setelah menjadi jelas baginya kesesatan agama Imamiyah Ja`fariyah. Peristiwa itu terjadi sebelum revolusi Iran, hal ini merupakan pukulan berat bagi Syi`ah secara umum dan bagi negara Iran secara khusus.
Telah ditegakkan upaya-upaya penculikannya dan pembunuhannya. Satu diantara upaya itu hampir menghabisi hidupnya ketika salah seorang Iran menembakkan peluru ke arahnya yang sedang berdiri shalat, maka tidak ayal, peluru pun menembus pipi kirinya dan tembus keluar dari pipi kanannya. Dengan pertolongan Allah, dia bisa selamat dari tragedi ini.
Dia bergabung dengan jama`ah ahlus sunnah dan salaf di Iran, shalat Jum`at serta jama`ah di Teheran, kawasan luar `Ghadzar Wazir Daftar`. Pemerintah menekan dan mempersempit ruang geraknya, dengan menguasai masjidnya secara paksa. Sementara gereja-gereja Nashrani dan sinagog-sinagog Yahudi menghirup udara segar dan bernafas dengan aman hingga ia menyebutkan dalam kitab-kitabnya, Sesungguhnya di negeri kami ini, orang-orang Kristen, Yahudi dan Sekuler yang anti agama bisa hidup dengan nyaman. Sementara ahlus sunnah tidak pernah merasa tenang di negeri kami ini dan tidak bisa hidup ditengah-tengah orang-orang musyrik itu.
Dia menulis banyak kitab, antara lain:
Kasr Ash Shanam (Menghancurkan Berhala), yaitu bantahan terhadap Ushul Al Kafi, tertuang dalam 411 halaman dan dari sela-selanya dia mengurangi akidah Syi`ah dan menunjukkan kebatilannya.
Tadhad Mafatih Al Jinan (Kontradiksi Kitab Kunci-Kunci Surga), kitab bantahan terhadap kitab Mafatih Al Jinan yang memuat doa-doa ziarah kubur dan tempat-tempat sakral lainnya serta doa haji ke makam. Kitab Mafatih Al Jinan ini tergolong kitab terpenting bagi Syi`ah yang selalu mereka bawa kemana mereka pergi. Didalamnya banyak ungkapan-ungkapan syirik, kufur dan ingkar Allah. Kitab bantahannya tertuang dalam 209 halaman.
Dirasah fi Ahadits Al Mahdi (Studi tentang Hadits-hadits Mahdi), dia membongkar bangunan khurafat Al Mahdi versi Syi`ah dengan hujah (normatif rasional) dan burhan (demonstratif).
Al Jami` Al Manqul fii Sunan Ar Rasul (Penghimpun yang Ternukul tentang Sunnah-sunna Rasul). Dia menghimpun hadits-hadits shahih ahlus sunnah yang dicocokkan dengan hadits-hadits yang ada pada Syi`ah. Ushlub (metode) atau teknik ini membuktikan bahwa Syi`ah tidak mengambil kebenaran melainkan taqlid buta dan fanatik dengan hawa nafsu dan kesesatan. Kitab ini tertuang dalam 1406 halaman.
Dirasah Nushush Al Imamah (Studi tentang Nash-nash Imamiyah). Disini dia menetapkan dengan dalil-dalil dan bukti-bukti yang pasti bahwa khilafah adalah haqq dan imamah yang mereka yakini adalah tidak berasal dan tidak berdasar, ia hanyalah kebohongan yang nyata. Kitab ini tertuang dalam 170 halaman.
Disamping itu masih banyak karya-karyanya yang lain seperti: Naqd `Ala Al Muraja`at dan Tadhad Madzhab Al Ja`fari Ma`a Quran wa al Islam. Dia juga menterjemahkan mukhtashar Minhaj As Sunnah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ke dalam bahasa Persia.
Yang sangat mengherankan adalah bahwa Sayyid Al Burqu`i ini dulunya termasuk pemimpin gerakan melawan Ahmad Al Kisrawi Al Irani yang lebih dulu mengumumkan kebathilan Syi`ah. Dia sangat produktif dan dinamis dalam membantah pemikiran-pemikiran Ahmad Al Kisrawi, dan membela agama Syi`ah secara mati-matian. Tetapi Allah ingin menghinakan Syi`ah mulai dari ubun-ubun hingga di bawah telapak kaki, Dia menunjukkan ke jalan Islam. Sayyid Al Fadhl bukanlah Syi`ah awam, melainkan simbol dan mercusuar bagi Syi`ah yang ditunjuk dengan unung jari, dia mengemban gelar Ayatullah al `Uzma.
Perlu pembaca ketahui, Syaikh Al Burqu`i setelah mendapat hidayah dia mengumumkan dan mengajak bahwa siapa saja yang pernah membayar khumus kepada dirinya, dia siap mengembalikannya, karena dia telah mengakui haramnya harta tadi yang dicuri dan dirampas dari tangan manusia. Dia telah memfatwakan haram mengambil khumus dari selain rampasan parang seperti keyakinan yang ada pada kaum muslimin.
Akhirnya syi`ah telah memiliki pilihan lain untuk terbebas dari pengaruh selain memvonis penjara selama tiga puluh tahun tanpa memperhatikan usianya yang lanjut. Dan Syaikh Al Burqu`i meninggal dunia setelah matinya Khumaini.
Renungkanlah bersama-sama, Syi`ah mengaku setia dan cinta kepada Ahlul Bait, bagaimana mereka memperlakukan Syaikh Al Burqu`i Rahimahullah? Padahal ia termasuk cucu dan keturunan Ahlul BaitQ
Lihatlah bagaimana upaya mereka dalam menculik dan mem%@!#$& orang yang nasabnya kembali kepada Ahlul Bait? Lihatlah akhirnya, bagaimana mereka mengurung dalam penjara dengan vonis 30 tahun tanpa ada belas kasih?!
Apakah mereka termasuk orang yang patut dicontoh?
Kemanakah perginya cinta mereka yang didengung-dengungkan itu? Di manakah bersembunyi?
Telah banyak kaum Syi`ah yang terpengaruh dengan gerakan Syaikh Al Burqu`i Rahimahullah. Maka sebagian peneliti dan pencari kebenaran serta para mullah mulai mengkaji kembali dan berfikir ulang tentang ritus-ritus paganisme yang ada pada mereka. Hasilnya sebagian mereka kembali kepada kebenaran dan yang lain menyembunyikan taubatnya karena takut disakiti.
Belum lewat tahun-tahun yang panjang, Allah sudah menimpakan musibah yang lain lagi kepada Syi`ah. Pada saat-saat ini seorang guru besar mereka Ustadz (Prof.) Ahmad Al Khatib Al Irani mengumumkan batilnya wilayah (imamah), rusaknya ishmah imam, khurafat Mahdi Muntazhar, dan bahwa Ahlul Bait (Ali Radhiyallahu `anhu dan anak-anaknya) adalah penganjur dan penyeru musyawarah, tidak memiliki ambisi menjadi sultan. Dia juga menyebutkan bahwa tasyayyu` rentan dengan penyelewengan dari pangkalan yang sebenarnya. Maka dia menulis dalam kitabnya, Min Asy Syura ila Wilayah al Faqih:
Didalam permulaan sejarah, terdapat banyak sahabat dan tabi`in pilihan menanggulangi penyimpangan politik dan sikap egois, mereka menyerukan reformasi dan perbaikan dengan kembali ke sistem syura. Dan yang paling depan di antara mereka adalah ahlul bait, keluarga Rasulullah Shallallahu `alaihi wasallam. Mereka adalah sosok-sosok manusia yang paling zuhud terhadap dunia. Tidak memiliki ambisi terhadap kekuasaan dan tidak pula rela mengikut para pemimpin yang menyimpang dalam menegakkan pemerintah dengan sistem warisan. Mereka justru menyeru pengembalian kekuasaan ke tangan umat Islam, melalui ahlul haili wal `aqdi dan menghormati suara dan keinginannya. Begitulah Syi`ah pada generasi-generasi awal, para revolusioner yang mengibarkan bendera syra, melawan anarkhisme dan egoisme. Akan tetapi prinsip-prinsip tasyayyu` (dukung mendukung) telah mengalami pencorengan dan penyimpangan dengan adanya arus asing yang baru yang menenggelamkan risalah ahlul bait dan menghilangkannya dari ingatan masyarakat. Hal yang mengakibatkan perjalanan Syi`ah dalam berabad-abad penuh dengan kebingungan, kemandegan, keterasingan dan keluar dari layar sejarah.
Perlu kita ingatkan, bahwa mulai terungkap di tengah-tengah pemuda dan pemudi Iran, khurafat Mahdi Muntazhar. Mereka menjadikan sosok Mahdi Syi`i sebagai bahan lelucon, dan permainan yang menjadi bahan tertawaan dan lawak-lawak di panggung-panggung teater mereka. Maka bergulirlah perbincangan tentang kelucuan Mahdi buatan di kalangan masyarakat Syi`ah. Karena itu para mullah bergerak menyebarkan agama Syi`ah di luar wilayah Iran dan di luar masyarakat Syi`i yang sudah memahami alur ceritanya. Mereka memanfaatkan harta untuk menyebarkan agama kotor ini, mereka tidak lain adalah tumbal-tumbal yang disuguhkan kepada bangsa-bangsa Iran Parsi agar bertambah imannya kepada khurafat Mahdi, sehingga menjadi lekat dongeng itu dalam pikiran.
Begitulah pukulan demi pukulan menerpa dada Syi`ah, belum hilang panasnya tamparan sudah melayang tamparan lain. Berkas cahaya pasti merobek hijab kegelapan, lalu akalpun menjadi tenang dan cerah satu demi satu, sehingga sekalipun lapisan-lapisan kegelapan dari para pemimpin kesesatan berusaha menutupi kenyataan dan berusaha mengusir dan menghalau sorot-sorot cahaya. Sesungguhnya kebenaran pasti tampil, aqidah shahihah adalah batu besar yang padat yang tidak lapuk dan rontok karena tiupan badai khurafat, tiupan bid`ah dan ombak dhalalah.

Maraji` : Gen Syi`ah Sebuah Tinjauan Sejarah, Penyimpangan Aqidah dan Konspirasi Yahudi, Mamduh Farhan Al Buhairi, Penerbit Darul Falah, hal 243-247.

Siapakah Al Imam Ja`far Ash Shadiq?

Semenjak dahulu Syi`ah mengklaim bahwa mereka mengikuti manhaj dan langkah Ja`far Ash Shadiq. Madzhab mereka dalam bidang fikih adalah ucapan-ucapan dan pendapat-pendapatnya. Karena mereka menamakan dirinya sebagai Ja`fariyun, padahal Ja`far berlepas diri dari mereka dan orang-orang seperti mereka. Mereka tidak berada di atas manhaj dan langkah-langkahnya dan dia bukanlah pemilik manhaj dan langkah-langkah yang diklaim tersebut.
Mereka menukil dari Ja`far tanpa sanad atau dengan sanad maudhu` (dipalsukan) atau dhaif atau maqthu` (terputus). Dan ini berlaku untuk para imam yang lain. Sudah dimaklumi bersama bahwa Syi`ah sangat kurang dan lemah dalam ilmu sanad, karena mereka tidak berpengalaman di dalam agamanya. Agama mereka adalah agama masyayikh mereka. Apa yang dikatakan oleh masyayikh, mereka menukilnya dari mereka tanpa memilih dan memilah. Salah seorang Syaikh Rafidhah telah mengakui dan dan membenarkan hal ini bahwa mereka menerapkan ilmu al jarh wa at ta`dil sebagaimana ahlus sunnah, maka tidak tersisa sedikitpun dari hadits mereka. Orang Syi`ah telah banyak berdusta atas Ja`far Ash Shadiq, mereka menasabkan kepadanya banyak sekali dari riwayat-riwayat yang dibuat-buat, hingga pada akhirnya mereka pada perubahan dan penggantian ayat-ayat Al Qur-an.
Sebagaimana mereka menasabkan sebagian kitab kepada Ja`far. Padahal para ahli ilmu bersaksi bahwa kitab-kitab itu dipalsukan atas namanya. Diantara kitab-kitab tersebut adalah:
Kitab Rasail Ikhwan Ash Shafa. Kitab ini dikarang lebih dari dua ratus tahun setelah wafatnya Ja`far, pada waktu Dinasti Buwaihiyyah. Pada abad ketiga hijriyah (321 H – 447 H). Sementara Ja`far telah wafat pada tahun 148 H. Kitab ini banyak berisi kekufuran, kebodohan dan juga filsafat buta yang tidak layak bagi Ja`far Ash Shadiq dan ilmunya. Semoga Allah merahmati beliau dengan rahmat yang luas.
Kitab Al Ja`far, yaitu kitab ramalan-ramalan tentang kejadian dan ilmu ghaib.
Kitab Ilm Al Bithaqah.
Kitab Al Jadawil atau Jadawil Al Hilal, telah memalsukan atas nama Abdullah bin Mu`awiyah salah seorang yang sudah terkenal dengan kebohongan.
Kitab Al Haft.
Kitab Ikhtilaj Al A`dha.
Juga kitab-kitab lain seperti Qaus Qazah (pelangi) dan disebut Qaus Allah, Tafsir Al Qur-an, Manafi` Al Qur-an, Qira`ah Al Qur-an fi Al Manam, Tafsir Qira`ah As Surah fi Al Manam dan Al Kalam `ala Al Hawadits.
Tidak ada satu penetapan yang jelas di kalangan Syi`ah bahwa kitab-kitab ini adalah kitab-kitab Ja`far Ash Shadiq selain oleh Abu Musa Jabir bin Hayyan Ash Shufi Ath Tharthusi Al Kimai (200 H). Ibnu Hayyan ini diragukan tentang agama dan amanahnya. Dia memang menjadi teman bagi Ja`far, tetapi bukan Ja`far Ash Shadiq melainkan Ja`far Al Barmaki. Diantaranya yang mengukuhkannya adalah Ibnu Hayyan tinggal di Baghdad sementara Ja`far Ash Shadiq tinggal di Madinah. Juga abad pertama dan abad kedua tidak membutuhkan kitab-kitab dan risalah-risalah seperti yang telah dinasabkan kepada Ja`far Ash Shadiq ini.
Sekapur Sirih Tentang Kehidupan Ja`far Ash Shadiq
Dia adalah Imam Ja`far bin Muhammad bin Ali Zainal Abidin bin Al Husain bin Ali bin Abu Thalib. Begitu pula ia adalah keturunan dari Abu Bakar Ash Shiddiq, karena ibunya adalah Ummu Farwah binti Al Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Ash Shiddiq. Dan nenek dari ibunya adalah Asma binti Abdurrahman bin Abu Bakar Ash Shiddiq. Semoga Allah meridhai mereka semua. Karena itu Ja`far Ash Shadiq berkata, Aku dilahirkan oleh Abu Bakar dua kali. (Syiar `A`lam An Nubala : 259).
Dia dilahirkan di Madinah tahun 80 H dian wafat tahun 148 H dalam usia mendekati 68 tahun. Dia wafat di tempat dia dilahirkan yaitu Madinah. Dia meninggalkan tujuh putra: Ismail, Abdullah, Musa Al Kazhim, Ishaq, Muhammad, Ali dan Fathimah.
Dia benar-benar shadiq, jujur dalam ucapannya dan perbuatannya, tidak dikenal dari diri Ja`far selain sifat shidq (jujur, benar), karena itu digelar ash shadiq. Dia juga digelari al imam oleh ahlus sunnah karena kedalaman dan keluasan ilmunya. Ja`far menimba ilmu dari para sahabat besar seperti Sahl bin Sa`ad As Sa`idi dan Anas bin Malik Radhiyallahu anhu dan dari ulama tabi`in seperti Atha` bin Abi Rabah, Muhammad bin Syihab Az Zuhri, Urwah bin Az Zubair, Muhammad bin Al Munkadir, Abdullah bin Abu Rafi` dan Ikrimah Mawla bin Al Abbas Radhiyallahu anhuma.
Diantara murid-muridnya adalah Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Sufyan Ats Tsauri, Syu`bah bin Al Hajjaj dan Sufyan bin Uyainah. Para ulama Islam telah banyak memuji dan menyanjung.
Ja`far Ash Shadiq termasuk orang yang sangat mencintas kakeknya Abu Bakar Ash Siddiq dan juga Umar bin Khaththab Radhiyallahu `anhu. Beliau sangat mengagungkan keduanya karena itu beliau sangat membenci Rafidhah yang telah membenci keduanya.
Ja`far juga membenci Rafidhah yang telah menetapkannya sebagai imam yang ma`sum. Diriwayatkan oleh Abdul Jabbar bin Al Abbas Al Hamdzani bahwa Ja`far bin Muhammad mendatangi mereka ketika mereka hendak meninggalkan Madinah, dia (Ash Shadiq) berkata,
Sesunggunya kalian insya Allah adalah termasuk orang-orang shalih di negeri kalian, maka sampaikanlah kepada mereka ucapanku, `Barangsiapa mengira bahwa aku adalah imam ma`shum yang wajib ditaati maka aku benar-benar tidak ada sangkutpaut dengannya. Dan barangsiapa mengira bahwa aku berlepas diri dari Abu Bakar dan Umar maka aku berlepas diri daripadanya`. (Syiar `A`lam An Nubala : 259).
Muhammad bin Fudhail menceritakan dari Salim bin Abu Hafshah, Saya bertanya kepada Abu Ja`far dan putranya, Ja`far, tentang Abu Bakar dan Umar. Maka dia berkata, `Wahai Salim cintailah keduanya dan berlepas diri musuh-musuhnya karena keduanya adalah imam huda.` Kemudian Ja`far berkata, `Hai Salim apakah ada orang yang mencela kakeknya? Abu Bakar adalah kakekku. Aku tidak akan mendapatkan syafaat Muhammad Shallallahu `alaihi wasallam pada hari kiamat jika aku tidak mencintai keduanya dan memusuhi musuh-musuhnya.` Ucapan imam Ash Shadiq seperti ini dia ucapkan dihadapan bapaknya, Imam Muhammad bin Ali Al Baqir dan dia tidak mengingkarinya. (Tarikh Al Islam 6/46)
Hafsh bin Ghayats murid dari Ash Shadiq berkata, Saya mendengar Ja`far bin Muhammad berkata, `Aku tidak mengharapkan syafaat untukku sedikit pun melainkan aku berharap syafaat Abu Bakar semisalnya. Sungguh dia telah melahirkanku dua kali`.
Sebagaimana murid Ja`far yang tsiqat lainnya yaitu Amr bin Qa-is Al Mulai mengatakan, Saya mendengar Ibnu Muhammad (Ash Shadiq) berkata, `Allah ta`ala berlepas diri dari orang yang berlepas diri dari Abu Bakar dan Umar`. (Syiar Alam An Nubala : 260).
Zuhair bin Mu`awiyah berkata, Bapaknya berkata kepada Ja`far bin Muhammad, `Sesungguhnya saya memiliki tetangga, dia mengira bahwa engkau berbara` (berlepas diri) dari Abu Bakar dan Umar`. Maka Ja`far berkata, `Semoga Allah berbara` dari tetanggamu itu, demi Allah sesungguhnya saya berharap mudah-mudahan Allah memberikan manfaat kepadaku karena kekerabatanku dengan Abu Bakar. Sungguh aku telah mengadukan (rasa sakit) maka aku berwasiat kepada pamanku (dari ibu) Abdurrahman bin Al Qasim. (At Taqrib, Ibnu Hajar, Tarikh Al Islam, Adz Dzahabi).
Semua teks ini adalah dari Ja`far Ash Shadiq, secara jelas menjelaskan kecintaanya kepada Abu Bakar dan Umar, wala`nya kepada keduanya serta taqarrubnya kepada Allah dengan wasilah mahabbah dan wala` tersebut. Juga menunjukkan kebencian kepada yang membenci keduanya dan bara` kepada yang bara` dari keduanya. Bahkan bara`nya dari orang yang meyakini imamah dan kema`shumannya. Dan permohonannya kepada Allah agar Allah memutus segala Rahmat-Nya dari orang-orang yang memusuhi Abu Bakar dan Umar.

Maraji`: Gen Syi`ah, Sebuah Tinjauan Sejarah Penyimpangan Aqidah dan Konspirasi Yahudi, Mamduh Farhan Al Buhairi, Penerbit Darul Falah

Abdullah bin Saba` Tokoh Fiktif?

Oleh Abu Abdillah Muhammad Elvi Syam

Dakwaan yang mengatakan Abdullah bin Saba itu adalah tokoh fiktif, selalu dielu-elukan oleh orang syi`ah modern dan orang orentalis, agar mereka bisa diterima ditengah-tengah masyarakat. Dakwaan seperti ini bagaikan orang yang mengingkari cahaya matahari ditengah siang bolong lagi cerah.
Marilah kita lihat apa pengakuan orang syiah terdahulu terhadap keberadaan Abdullah bin Saba, sebagai bukti yang konkrit atas keberadaannya :
1) An Nasyi Al Akbar (293 H) mencantumkan tantang Ibnu Saba, dan golongan As Sabaiyah, yang teksnya: Dan suatu golongan yang mereka mendakwahkan bahwa Ali `alaihi salam masih hidup dan tidak pernah mati, dan ia tidak akan mati sampai ia menghalau (mengumpulkan) orang arab dengan tongkatnya, orang ini adalah As Sabaiyah, pengikut Abdullah bin Saba. Dan adalah Abdullah bin Saba seorang laki-laki dari penduduk San`a, seorang yahudi, telah masuk Islam lewat tangan Ali dan bermukim di Al Madain?.Ref : Masailul Imaamah Wa Muqtathofaat minil kitabil Ausath fil Maqalat / ditahqiq oleh Yusuf Faan As, (Bairut 1971) hal : 22, 23.
2) Al Qummi (301 H), menyebutkan : Sesungguhnya Abdullah bin Saba adalah orang yang pertama sekali menampakkan celaan atas Abu Bakr, Umar, dan Utsman, serta para sahabat, dan berlepas diri dari mereka. Dan ia mendakwakan sesungguhnya Ali-lah yang memerintahkannya akan hal itu. Dan sesungguhnya Taqiyah tidak boleh. Lalu Ali diberitahukan, lantas Alipun menanyakannya akan hal itu, maka ia mengakuinya. Dan Ali memerintah untuk membunuhnya, lalu orang-orang berteriak dari setiap penjuru : Wahai Amirul Mukminin apakah anda akan membunuh seorang yang mengajak kepada mencintai kalian Ahli Bait, dan mengajak kepada setia kepadamu dan berlepas diri dari musuh-musuhmu, maka biarkan dia pergi ke Al Madain Ref : Al Maqaalat wal Firaq, hal : 20. Diedit dan dikomenteri serta kata pengantar oleh Dr. Muhammad Jawad Masykur, diterbitkan oleh Muasasah Mathbu`ati `athani, Teheran 1963.
3) An Naubakhti (310H) menyetujui Al Qummi dalam memperkuat barita-berita tentang Abdullah bin Saba, lalu ia menyebutkan satu contoh, yaitu bahwasanya tatkala sampai kepada Abdullah bin Saba berita kematian Ali di Madain, maka ia berkata kepada orang yang membawa berita itu : Kamu telah berdusta kalau seandainya kamu datang kepada kami dengan otaknya sebanyak tujuh puluh kantong, dan kamu mendatangkan tujuh puluh saksi atas kematiannya, maka sungguh kami telah mengetahui sesungguhnya dia belum mati, dan tidak terbunuh, dan tidak akan mati sampai ia memiliki bumi.Ref : Firaqus Syi`ah : hal : 23. oleh Abu Muhammad Al Hasan bin Musa An Naubakhti, ditashhih oleh H. Raiter, Istambul, percetakan Ad Daulah, 1931.
4) AL Kisysyi mencantumkan (dari tokoh-tokoh abad ke empat) beberapa riwayat yang menegaskan hakikat Ibnu Saba, dan menerangkan kabar beritanya, dan ini sebagiannya: Telah menceritakan kepada saya Muhammad bin Quluwiyah Al Qummi, ia berkata : telah menceritakan kepada saya Sa`ad bin Abdillah bin Abi Khalaf Al Qummi, ia berkata telah menceritakan kepada saya Muhammad bin Utsman Al Abdi dari Yunus dengannya, Abdurrahman bin Abdillah bin Sinan telah berkata : telah menceritakan kepada saya Abu Ja`far Alaihis Salam : sesungguhnya Abdullah bin Saba, adalah orang yang mendakwakah kenabian, dan mendakwakan bahwa sesungguhnya Amirul Mukminin alaihi salam, sebagai Allah, Maha tinggi dari hal itu dengan ketinggian yang besar. Lalu berita itu sampai ke Amiril mukminin alaihis salam, beliau menanyakannya, maka iapun mengakui hal itu, dan berkata : Ya, engkau adalah Dia (Allah), dan sungguh telah dibisikkan ke dalam hatiku, bahwasanya engkau adalah Allah, dan saya adalah nabi. Lalu Amirul Mukminin berkata kepadanya : Celaka kamu, sungguh syaitan telah menguasaimu, kembalilah kamu (kepada kebanaran) dari ini, celaka ibumu, dan bertaubatlah. Maka iapun enggan (untuk bertaubat), lalu beliau menahannya, dan memintanya agar bertaubat selama tiga hari, namun belum juga bertaubat, lantas beliau membakarnya dengan api, dan berkata : syaitan telah menguasainya, selalu mendatanginya dan membisikkan ke dalam hatinya hal itu.Ref : Al Kisysyi : Rajalul Kasysyi hal : 98, 99, Ma`rifatu Akhbaarir Rijaal (al mathba`ah al musthafawiyah 1317) hal : 70.
5) Abu Hatim Ar Razi (322H) (bukan Abu Hatim Sunni karena ia meninggal th 277 H) menyebutkan bahwasanya Abdullah bin Saba dan orang-orang yang mengikuti perkataannya dari kalangan As Sabaiyah, adalah mereka mendakwakan sesungguhnya Ali adalah Tuhan dan beliau menghidupkan orang mati, dan mendakwakah menghilangnya Ali setelah meninggal dunia dan berhenti sebatas itu? Ref : Az Zinah Fil Kalimaatil Islamiyah Al `Arabiyah, hal : 305. ditahqiq oleh DR. Abdullah bin Salum As Samiraai (terbitan Daarul Huriyah litaba`ah, di baghdad 1392 H / 1972).
6) Berkata syeikh golongan ini : Abu Ja`far Muhammad bin Al Hasan at Thuusi (460 H) tentang Ibnu Saba, bahwa sesungguhnya ia telah kembali kepada kekafiran dan menampakkan pujian yang melampaui batas, kemudian ia menukilkan di kitabnya Tahdziibul Ahkaam sikap Ibnu Saba dimana ia menantang Ali dalam mengangkat kedua tangan ke langit.Ref : At Thuusi Tahdziibul Ahkaam (diterbitkan oleh Darul Kutub Al Islamiyah / Teheran, cetakan ke dua) dita`liq oleh Hasan AL Musawi, 2/322.
7) Al Hasan bin Ali Al Hulliy (726 H) menyebutkan Abdullah bin Saba dari golongan-golongan orang yang lemah (tercela).Ref : Ar Rijaal (cetakan AL Haidariyah / An Najfah 1392 H) : 2/71.
8) Adapun Ibnu Murtadha (Ahmad bin Yahya meninggal tahun 840 H) yang ia itu adalah orang mu`tazilah dan menisbatkan dirinya ke Ahli Bait, dan termasuk imam (tokoh) syi`ah Zaidiyah, maka dia tidak hanya memperkuat keberadaan Ibnu saba, bahkan menegaskan bahwa sumber ajaran syiah dinisbatkan kepada Abdullah bin Saba, karena ia adalah orang yang pertama kali membuat perkataan adanya nas (ketetapan keimaman), dan perkataan keimaman dua belas imam.Ref : Tabaqatul Mu`tizilah (diterbitkan oleh Faranz Syatain / cetakan Al Katolikiyah / Bairut hal : 5 dan 6) dan lihat juga Dirasaat fil firaq wa aqaidil Islamiyah (diterbitkan oleh Penerbit Irsayd Baghdad) hal : 5.
Ini adalah sebagian kecil dari nash-nash yang dikandung oleh buku-buku syi`ah dan riwayat-riwayat mereka tentang Abdullah bin Saba, dan saya sebutkan di riwayat-riwayat di atas tanpa komentar karena nas itu sendiri sudah cukup untuk memberikan apa yang kita maksudkan di sini, nas-nas itu boleh dikatakan dokumen-dokumen tertulis yang membantah orang-orang dari kalangan syi`ah belakangan ini yang berusaha untuk mengingkari keberadaan Abdullah bin Saba dan meragui kabar beritanya, dengan dalih sedikitnya berita atau lemahnya sumber-sumber yang menceritakan.
Saif bin Umar At Tamimi
Menurut orang Syi`ah modern Abdulah Bin Saba` hanyalah tokoh fiktif ciptaan Saif bin Umar Tamimi yang disebut pertama kali dalam bukunya berjudul al-Futuh al Kabir wa ar Riddah dani al-jamal wamasiri Ali wa Aisyah (170 H). Mereka juga mengatakan bahwa keberadaan Abdullah bin Saba` ini adalah fiktif, dikarenakan hanya bersumber dari satu orang yaitu Saif At-Tamimi, yang dinilai cacat (oleh ahli jarh wa ta`dil). Tertolaknya riwayat tentang Abdullah bin Saba` bukan hanya karena dalam jalur periwayatannya terdapat Saif At-Tamimi, melainkan bahwa Saif At-Tamimi merupakan sumber tunggal tentang cerita keberadaan Abdullah bin Saba` yang dengan predikat semacam itu maka sudah semestinya setiap kisah dari Saif At-Tamimi tidak bisa dipercaya, baik dalam wacana syari`at maupun tarikh.
Perkataan tentang Saif bin Umar At Tamimi tersebut seakan mereka sedang berusaha untuk menegakkan benang basah, dengan dalih Saif bin Umar At Tamimi haditsnya tidak bisa diterima, maka saya katakan:
Kalau seandainya yang anda cantumkan dari perkataan ulama jarh wa ta`dil tentang Saif bin Umar at Tamimi, bahwa lemah dan haditsnya tidak bisa diterima maka pembicaraan anda terfokus pada Saif bin Umar At Tamimi yang berkapasitas sebagai muhadits (ahli hadits dan yang meriwayatkan hadits). Tapi apa gerangan perkataan ulama tentang dia sebagai orang yang berkapasitas Ahli sejarah, marilah kita kembali ke buku-buku rijal (jarh wa ta`dil):
Berkata Adz Dzahabi : adalah ia sebagai ahli sejarah yang mengetahui (Mizan `Itidal : 2/255).
Berkata Ibnu Hajar : Lemah dalam Hadits, pakar (rujukan) dalam sejarah (Taqriibut Tahdziib no 2724).
Dangan ini habislah lemah dan ditinggalkan yang dinisbatkan ke diri Saif sebab perkataan itu ditujukan dalam segi Hadits bukan dalam segi sejarah. Inilah titik pembahasan kita.
Perlu diketahui, kita harus membedakan antara meriwayatkan hadits dengan yang meriwayatkan sejarah (kisah), maka atas yang pertama (riwayat hadits) hukum-hukum dibangun dan ditegakkan, dilaksanakannya hudud, maka ia berhubungan langsung dengan pokok syariat agama yaitu sunnah nabi, dan sinilah ulama selalu sangat hati-hati menentukan syarat-syarat orang yang akan diambil riwayatnya. Berbeda halnya dengan riwayat sejarah (kisah), walaupun tak kalah penting -apalagi dalam mengisahkan sejarah sahabat- akan tetapi tidak melahirkan hukum-hukum yang lazim dari ajaran agama, karena perkataan seseorang itu bisa dipakai dan dibuang kecuali perkataan penghuni kubur ini (yaitu Nabi) sebagaimana kata Imam Malik. Sebab semua perkataan nabi menjadi syariat bagi kita, semua yang shahih harus diambil dan tidak boleh ditinggalkan.
Sebagai argumen yang memperkuat perkataan kita bahwa Saif bin Umar at Tamimi ini adalah umdah, pokok, dan tempat bersandar dalam masalah sejarah, diantaranya:
1) Bahwa Imam Thobari menukil darinya kejadian-kejadian fitnah lebih banyak daripada yang lain, sampai-sampai ia berpatokkan kepadanya. (lihat At Thobari :4/344).
2) Kemudian Adz Dzahabi menjadikan Saif adalah salah satu sumber yang dipegangnya dalam kitabnya Tarikhul Islam. (lihat tarikhul Islam : 1/14,15).
3) Adapun Ibnu Katsir ia lebih cenderung untuk menshahihkan riwayat Saif dalam kronologi terbunuhnya Utsman, walaupun ia mencatumkan lebih dari satu riwayat dalam bab itu, perlu diketahui bahwa di bab itu ada riwayat Khalifah bin Khayat (salah seorang guru Bukhari) dan riwayatnya lebih kuat dari riwayat Saif. (lihat bidayah wan nihayah : 7/203).
Dari pandangan ahli sejarah yang terdahulu kita meninjau pendapat ahli sejarah masa kini tentang Saif bin Umar At Tamimi :
Muhibbuddin Al Kahthib berkata tentang Saif : ?. Dan beliau adalah ahli sejarah yang paling mengetahui tetang sejarah Iraq
Dan darinya dari guru-gurunya ia berkata : dan ia orang yang lebih mengetahui dari kalangan ahli sejarah tetang kejadian di Iraq.
Berkata Ahmad Ratib `Armusy : dan jelas dari referensi buku-buku biografi, bahwa sesungguhnya Saif tidak termasuk perowi hadits yang diandalkan (dipercayai), akan tetapi pengarang-pengarang buku biografi itu sepakat bahwa dia adalah pakar / pemimpin dalam sejarah, bahwasanya dia itu adalah ahli sejarah yang mengetahui, dan sungguhn At Thobari telah bersandar kepadanya dalam kejadian-kejadian di masa permualaan Islam. (lihat buku Fitnah wa waqi`atul Jamal, hal : 27)
Adapun Dr. Ammar At Tholibi mengisyaratkan bahwa Saif adalah termasuk ahli sejarah yang terdahulu, karena ia meninggal pada zaman pemerintahan Ar Rasyid (193 H) setelah tahun 170 H. dan dari segi lain ia merupakan rijal Tirmizi (279 H) -orang-orang yang melaluinya Tirmizi meriwayatkan hadits-, dan ia (Tirmizi) belum menyanggah riwayatnya akan perowi lain. Dan tidak seorangpun dari kalangan ahli hadits dan ahli sejarah yang membantah khabarnya (riwayatnya) khususnya berhubungan dengan Ibnu Saba. (lihat buku : Araa` Khawarij : 77).
Kita tambahkan lagi di sini bahwa sesungguhnya orang-orang yang menghukum Saif itu lemah (dalam hadits), dan berbicara tentang dirinya, mereka meyebutkan Ibnu saba, dan mereka tidak mengingkarinya, seperti : Ibnu Hibban (Al Majruhiin 1/208 dan 2/253), Adz Dzahabi (Al Mughni fi Du`afaa` 1/399 dan di Mizanul `Itidal 2/426) dan Ibnu Hajar (Lisanul Mizan 3/290).
Dengan demikian dapatlah kita memastikan bahwa Abdullah bin Saba, bukanlah tokoh fiktif akan tetapi adalah tokoh yang ada realitanya, dan terbukti ia itu ada. Hal itu telah disaksikan sendiri oleh buku-buku syiah terdahulu yang menjadi pegangan mereka. Dan sesungguhnya orang yang berusaha mengkaburkan dan mengingkari keberadaan Abdullah bin Saba, sama dengan orang yang mengingkari cahaya matahari pada siang bolong yang terang benderang. Dan sama dengan orang yang mengingkari keberadaan Khumaini celaka yang telah meninggal

fatwa-fatwa sesat syiah rafidhoh

Batasan aurat
Karaki berkata bila kamu menutup kemaluanmu maka benar-benar telah menutup aurat (Al Kaafi 6/501 Tahdzibul Ahkam 1/ 374), sedangkan pantat, yang diangap aurat adalah lobang dubur, bukan dua pantat, dan paha juga bukan termasuk aurat.
Shodiq AS berkata ?paha tidak termasuk aurat?, bahkan Imam AL Baqir As telah mengecat auratnya dan membalut lubang kemaluannya (Jamial Maqosid Lilkaraki 2 / 94. Al Mu?tabar karangan Al Hulli 1 / 222 Muntaha Tolab 1/39, Tahrirul Ahkam1/202,semuanya karangan Al Hulli Madarikul Ahkam 3/191)
Abu Hasan Al Madhi : ?bahwa aurat itu hanya ada dua yaitu lubang depan dan lubang belakang, lubang belakang sudah ditutup oleh pantat, apabila kamu telah menutup keduanya maka berarti telah menutup auratnya, karena selain itu bukan tempat najis, maka bukanlah aurat, seperti betis?.( Al Kaafi 6 / 51, Tahzibul Ahkam 1/374 Wasa?ilusyiah 1/365 Muntaha Tolab 4/269 Al Khilaf karangan Tusi 1/396).
Dari Abu Abdullah As berkata: ? paha tidak termasuk aurat? (Tahdhibul Ahkam 1/ 374, Wasa?ilusyiah jilid 1 hal 365).
Kotoran para imam menyebabkan masuk surga
Kotoran dan air kencing para imam bukan sesuatu yang menjijikan dan tidak berbau busuk, bahkan keduanya bagaikan misik yang semerbak. Barang siapa yang meminum kencing,darah dan memakan kotoran mereka maka haram masuk neraka dan wajib masuk surga (Anwarul Wilayat Liayatillah Al Akhun Mulla Zaenal Abidin Al Kalba Yakani : th 1419 halaman 440).
Kentut dari imam bagaikan bau misik.
Abu Jafar berkata : ?ciri-ciri Imam ada 10:
– Dilahirkan sudah dalam keadaan berkhitan.
– Begitu menginjakkan kaki di bumi ia mengumandangkan dua kalimat syahadat.
– Tidak pernah junub.
– Matanya tidur hatinya terbangun.
– Tidak pernah menguap
– Melihat apa yang di belakangnya seperti melihat apa yang di depannya.
– Bau kentut dan kotorannya bagaikan misik.
(Al Kaafi 1/319) Kitabul Hujjah Bab Maulidul Aimmah)
Khumaini memperbolehkan menyodomi istri-istri.
Dalam kitab Tahrirul Wasilah hal 241- masalah ke 11. Khumaini berkata : ?pendapat yang kuat dan terkenal adalah diperbolehkan menyetubuhi istrinya lewat lubang belakang walaupun hal itu sangat dibenci?, Rasulullah bersabda : terkutuklah orang yang menyetubuhi istrinya lewat belakang.?
Meminjamkan istri
Diriwayatkan oleh Thusi dari Muhamad bin Abi Jafar berkata dihalalkan bagi saudaranya Farji istri-istrinya ia berkata boleh-boleh saja boleh bagi temannya seperti bolehbagi suami terhadap istri sendiri. (Kitabul Istibhsor 3/136)
Diperbolehkan menyetubuhi bayi.
Khumaini berkata : ?Semua bentuk menikmati, seperti meraba dengan penuh syahwat, memeluk , dan adu paha boleh walaupun dengan bayi yang sedang menyusui?. Tahrirul Wasilah 2/216.
Alkhui : ia memperbolehkan seorang laki-laki memegang-megang atau bermain dengan aurat laki-laki lain atau wanita bermain dengan alat kelamin wanita lain bila sebatas gurau dan canda sebatas tidak menimbulkan syahwat. Sirotunnajah fi Ajwibatil istifta?at jilid 3

Nahjul Balaghoh

Tulisan berikut ini akan melumpuhkan penghinaan Syi`ah terhadap sahabat Rasulullah shalallahu `alaih wasallam dengan kitab mereka sendiri:
Nahjul Balagghoh., Cetakan Dar-Al-Kitab-Beirut 1387H
Tahqiq:Shubhi Shalih.
Inilah Ali Radhiyallahu `anhu, beliau mencaci dan menjelekkan Syi`ah dan memuji para sahabat Rasulullah.Beliau berkata pada hal 143:
“Sungguh saya telah melihat para sahabat Muhammad , tidak satupun diantara mereka yang mirip dengan kamu!Mereka dipagi hari rambutnya kusut dan wajahnya penuh debu, karena semalaman telah sujud dan ruku`, dengan bergantian antara dahi dan pipi mereka, mereka berdiri seakan-akan diatas bara api karena mengingat hari kebangkitan mereka! Sepertinya diantara mata mereka ada guratan-guratan keteduhan (kekhusuan)
karena lamanya sujud! Jika disebut nama Allah berderailah air mata merekahingga membasahi dada mereka, mereka menunduk bagaikan pohon yang diterpa angina yang kencang, itu semua karena takut adzab dan mengharapkan pahala”
Begitulah Amirul Mukminin Ali bin Abu Thalib memuji sahabat Rasulullah dengan sanjungan yang sangat indah. Sementara itu Ali mencelasyi`ahnya (pendukungnya) dengan celaan yang sangat buruk, setelah sekali lagimemuji sahabat Rasulullah .Ia berkata pada hal 91,92 , masih di Nahjul Balaghoh:”Sungguh kita bersama-sama Rasulullah SAW , dibunuh anak-anak kami,cucu-cucu kami, saudara ?saudara dan paman-paman kami. Hal itu tidak membuat kami melainkan semakin menambah iman dan kepasrahan.Kita melewati jalan yang jelas, sabar diatas kepahitan dan kepedihan dalam jihad melawan musuh. Adalah perang tanding antara seorang dari kita dan seorang dari musuh, keduannya bertanding bagaikan dua hewan jantan yang tangguh,terkadang dari kita yang jatuh terkadang dari musuh, maka tatkala Allah melihat kesungguhan dan kejujuran kita,Allah menurunkan kekalahn dipihak musuh dan kemenangan dipihak kami, hingga Islam menjadi kokoh dan mantap kuat menancap.Demi Allah, seandainya kita melakukan seperti apa yang kalian lakukan , tentu tiang agama ini tidak pernah akan tegak dan batang iman tidak akan menghijau.Demi Allah kalian akan memerah darah dan mengakhiri dengan penyesalan”Ini adalah bunyi kitab mereka sendiri! Ya Allah saksikanlah!Ali Radhiallahu `anhu menambahkan kesedihannya atas kepergian sahabat pada halaman 177,178:” Manakah kaum yang diajak kepada Islam lalu menerimanya, yang membaca Al-Qur`an dan merincinya, yang diseru kepada perang lalu berhamburan maju sambil menghunus pedang, mengambil ujung-ujung bumi dengan menyerbu dan merapatkan barisan, sebagian gugur dan sebagian selamat. Mereka tidak merasa gembira dengan yang hidup dan tidak bersedih dengan yang mati,terkadang mereka pucat karena tidak tidur malam, diatas wajah mereka ada debu-debu orang yang khusu`. Mereka itulah saudara-saudaraku yang telah pergi. Sungguh pantas merindukan mereka dan menggigit jari atas kepergiannya”Ali menyebut kemuliaan yang telah dianugerahkan Allah kepada mereka pada hal.383:”Ketahuilah wahai hamba-hamba Allah bahwa orang-orang yang bertakwa telah pergi membawa dunia yang fana dan akhirat yang abadi. Mereka menyertai ahli dunia dalam dunia mereka, tetapi tidak menyertai mereka dalam upah mereka. Mereka telah tinggal didunia sebaik-baik (tingkah laku) yang dikenal dunia, dan memakan dari dunia dengan sebaik-baik (sikap) yang dikenal duniaMereka telah mendapatkan dunia sebagaimana yang didapatkan oleh orang-orang mewah dan mengambil dari padanya apa yang diambil oleh penguasa yang sombong, kemudian mereka berpaling dari dunia, cukup dengan bekal yang mengantarkan ke akhirat, dan dengan perniagaan yang menguntungkan. Mereka merasakan lezatnya zuhud didunia dan meyakini bahwa mereka akan berdekatan dengan Allah besok di akhirat, tidak ditolak doa mereka dan tidak dikurangi sedikitpun kelezatan dari mereka”Ali memuji kaum Muhajirin dalam jawabannya kepada Muawiyah bin Abi Sufyan:” Sungguh beruntung `Ahlu as-sabq` (orang-orang Islam terdahulu) dengan kedahuluannya (masuk islam) dan kaum Muhajirin yang pertama telah membawa keutamaan mereka”Sekalipun ada konflik dengan Muawiyah, Ali ?mudah2an Allah meridhoinya?
TIDAK MENGKAFIRKANNYA.
Hal ini ia tulis dalam surat-suratnya yang ia kirim keberbagai daerah dalam rangka menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di”Shiffin”. Surat ini diriwayatkan oleh Imam Syi`ah Muhammad Ar-Ridha dalam Nahjul Balaghoh hal 488. Ali menulis untuk mereka :”Awalnya kita bertemu dengan kelompok dari penduduk Syam, yang nampaknya memang Rabb kita satu dan dakwah kita satu.Kita tidak menambahi (melebihi) mereka dalam iman kepada Allah dan membenarkan Rasul-Nya, mereka juga tidak melebihi kita. Semuanya sama kecuali apa yang kita perselisihakan tentang darah Ustman radhiallahu `anhu, dan kita bersih daripadanya.”Ali pun telah mengingkari orang-orang yang yang mencela Mu`awiyah dan bala tentaranya. Ar-Ridha meriwayatkan dari Ali, dia berkata (hal 323):”Sesungguhnya aku membenci untuk kalian jika kalian menjadi para pencela akan tetapi jika kalian mensifati amal-amal mereka dan menyebut kondisi mereka, maka hal itu lebih tepat dalam ucapan dan lebih mengena dalam memberikan alasan, dan kalian (hendaknya)mengganti celaan terhadap mereka dengan do`a”Ya Allah lindungilah darah kami dan darah mereka dan perbaikilah hubungan di antara kami dan mereka”
Sumber:Gen Syiah,Asy Syaikh Mamduh Farhan Al Buhairi

KAWIN KONTRAK TRADISI SYIAH

Dalam urusan nikah mut?ah Syi’ah memiliki banyak keburukan, kekejian, hal-hal yang menjijikkan dan kebodohan terhadap Islam. Mereka mengangkat nilai setiap keburukan dan meninggikan setiap yang kotor. Mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah (berupa zina) atas nama agama dan dusta terhadap para Imam. Mereka membolehkan semua yang mereka mau, mereka membiarkan nafsu tenggelam dalam kelezatan yang menipu dan kemungkaran-kemungkaran. Mut?ah adalah sebaik-baik saksi dan bukti, mereka telah menghiasi mut’ah dengan segala kesucian, keagungan dan keanggunan, hingga mereka menjadikan balasan pelakunya adalah surga -Naudzubillah-, mereka memperbanyak keutamaan-keutamaan mut?ah dan keistimewaannya, seraya menyesatkan -sebagaimana lazimnya- orang-orang yang mereka jadikan sebagai tawanan bagi ucapan-ucapan mereka yang dusta. Di antaranya ialah:
Al-Kasyani dalam tafsirnya, berbohong atas Rasulullah Shallallahu?alaihi wasallam, mereka mengatakan bahwa beliau bersabda, Telah datang kepadaku Jibril darl sisi Tuhanku, membawa sebuah hadiah. Kepadaku hadiah itu adalah menikmati wanita-wanita mukminah (dengan kawin kontrak). Allah belum pernah memberikan hadiah kepada para nabipun sebelumku, Ketahuilah mut?ah adalah keistimewaan yang dikhususkan oleh Allah untukku, karena keutamaanku melebihi semua para nabi terdahulu. Barangsiapa melakukan mut?ah sekali dalam umurnya, la menjadi ahli surga. Jika laki-laki dan wanita yang melakukan mut?ah berter di suatu tempat, maka satu malaikat turun kepadanya untuk menjaga hingga mereka berpisah. Apabila mereka bercengkerama maka obrolan mereka adalah berdzikir dan tasbih. Apabila yang satu memegang tangan pasangannya maka dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan bercucuran keluar dari jemari keduanya. Apabila yang satu mencium yang lain maka ditulis pahala mereka setiap ciuman seperti pahala haji dan umrah. Dan ditulis dalam jima’ (persetubuhan) mereka, setiap syahwat dan kelezatan satu kebajikan bagaikan gunung-gunung yang menjulang ke langit. Jika mereka berdua asyik dengan mandi dan air berjatuhan, maka Allah menciptakan dengan setiap tetesan itu satu malaikat yang bertasbih dan menyucikan Allah, sedang pahala tasbih dan taqdisnya ditulis untuk keduanya hingga hari Kiamat.” (Tafsir Manhaj Asshadiqin Fathullah Al-Kasyani)
Mereka juga berdusta atas nama Ja?far Ash-Shadiq, alim yang menjadi lautan ilmu ini! dikatakan oleh mereka telah bersabda: ?Mut?ah itu adalah agamaku dan agama bapak-bapakku. Yang mengamalkannya, mengamalkan agama kami dan yang mengingkarinya mengingkari agama kami, bahkan ia memeluk agama selain agama kami. Dan anak dari mut?ah lebih utama dari pada anak istri yang langgeng. Dan yang mengingkari mut?ah adalah kafir murtad.? (Tafsir Manhaj Asshadiqin Fathullah Al-Kasyani hal.356)
Mereka juga berbohong atas nama Rasulullah Shallallahu ?Alaihi wasallam, mereka mengatakan bahwa beliau bersabda: ?’Barangsiapa melakukan mut’ah sekali dimerdekakan sepertiganya dari api neraka, yang mut’ah dua kali dimerdekakan dua pertiganya dari api neraka dan yang melakukan mut’ah tiga kali dimerdekakan dirinya dari neraka.?
Mereka menambah tingkat kejahatan dn kesesatan merea dengan meriwayatkan atas nama Rasulullah Shallallhu?alihi wasallam: “Barangsiapa melakukan mut’ah dengan seorang wanita Mukminah, maka seoloh-olah dia telah berziarah ke Ka’bah (berhaji sebanyak 70 kali).(?Ujalah Hasanah Tarjamah Risalah Al Mut?ah oleh Al-Majlisi Hal.16).
Mut?ah, Rukun, Syarat dan Hukumnya
Fathullah Al-Kasyani menukil di dalam tafsirnya sebagai berikut, “Supaya diketahui bahwa rukun akad mut?ah itu ada lima: Suami, istri, mahar, pembatasan waktu (Taukit) dan shighat ijab qabul.” (Tafsir Manhaj Asshadiqin Fathullah Al-Kasyani hal.357)
Dia menjelaskan, “Bilangan pasangan mut?ah itu tidak terbatas, dan pasangan laki-laki tidak berkewajiban memberi nama, tempat tinggal, dan sandang serta tidak saling mewarisi antara suami-istri dan dua pasangan mut?ah ini. Semua ini hanya ada dalam akad nikah yang langgeng,” (Tafsir Manhaj Asshadiqin Fathullah Al-Kasyani hal.352)

Syarat-syarat Mut?ah
Perkawinan ini cukup dengan akad (teransaksi) antara dua orang yang ingin bersenang-senang (mut?ah) tanpa ada para saksi!
Laki-laki terbebas dari beban nafkah!
Boleh bersenang-senang (tamattu’) dengan para wanita tanpa bilangan tertentu, sekalipun dengan seribu wanita!
Istri atau pasangan wanita tidak memiliki hak waris!
Tidak disyaratkan adanya ijin bapak atau wali perempuan!
Lamanya kontrak kawin mut?ah bisa beberapa detik saja atau lebih dari itu!
Wanita yang dinikmati (dimut?ah) statusnya sama dengan wanita sewaan atau budak!
Abu Ja?far Ath-Thusi menukil bahwa Abu Abdillah Alaihis-Salam (Imam mereka yang di anggap suci) ditanya tentang mut?ah apakah hanya dengan empat wanita?
Dia menjawab, “Tidak, juga tidak hanya tujuh puluh.”
Sebagaimana dia juga pernah ditanya apakah hanya dengan empat wanita?
Dia menjawab, “Kawinlah (secara mut?ah) dengan seribu orang dari mereka karena mereka adalah wanita sewaan, tidak ada talak dan tidak ada waris dia hanya wanita sewaan.”(At-Tahdzif oleh Abu Ja?far Aht-Thusi, Juz III/188)
Mereka menisbatkan kepada imam keenam. yang ma’shum dia bersabda, “Tidak mengapa mengawini gadis jika dia rela tanpa ijin bapaknya.” (At-Tahdzif Al-Ahkam juz VII/256)
Mereka menisbatkan kepada Ja?far Ash-Shadiq, dia ditanya, “Apa yang harus, saya katakan jika saya telah berduaan dengannya?” Dia berkata, engkau cukup mengatakan ,aku mengawinimu secara mut?ah (untuk bersenang-senang saja) berdasarkan kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya, tidak ada yang mewarisi dan tidak ada yang diwarisi, selama sekian! hari.Jika kamu mau, sekian tahun, Dan kamu sebutkan upahnya, sesuatu yang kalian sepakati sedikit atau banyak.(Al-Furu? Min Al Kafi Juz V/455)
Demikianlah kawin mut?ah dalam agama Syi’ah yang dengannya mereka menipu orang-orang bodoh dari kalangan orang-orang yang awam, seraya menyihir mata mereka dengan berbagai macam atraksi sulap dan sihir serta, mengada-ada ucapan dusta, atas nama Allah dan Rasul-Nya.
Bantahan terhadap Kebolehan Mut?ah
Sesungguhnya nikah mut?ah pernah dibolehkan pada awal Islam untuk kebutuhan dan darurat waktu itu kemudian Rasulullah Shallallahu?alaihi wasallam mengharamkannya untuk selama-lamanya hingga hari Kiamat. Beliau malah mengharamkan dua kali, pertama pada waktu Perang Khaibar tahun 7 H, dan yang kedua pada Fathu Makkah, tahun 8 H.
Mereka [Syi?ah sendiri] meriwayatkan bahwa Ali berkata, “Rasullullah Shallallahu ?Alaihi wa Sallam telah mengharamkan pada Perang Khaibar daging himar jinak dan nikah mut’ah.” (At-Tahdzif Juz II/186) Riwayat inipun terdapat dalam sahih Bukhari. Maka semakin jelas tentang agama mereka yang dibangun atas dasar rekayasa, ucapan mereka bertentangan satu sama lain. Maka kami membantah kalian wahai Syi?ah !!, dengan kitab-kitab kalian sendiri.
Ini adalah salah satu sebab yang membuat mereka berakidah taqiyah (berbohong). Padahal perlu diketahui bahwa dalam agama Syi?ah tidak boleh melakukan taqiyah dalam mut?ah, la taqiyyata fi al-mut’ah (tidak ada taqiyah dalam mut’ah).
Ali, Umar dan Ibnu Abbas Berlepas Diri
Kemudian, Umar tidak pernah mengatakan, “Mut’ah halal pada zaman Nabi dan saya melarangnya!” Tetapi mut?ah dulu halal dan kini Umar menegaskan dan menegakkan hukum keharamannya. Yang demikian itu karena masih ada orang yang melakukannya. Adapun dia mengisyaratkan bahwa dulu memang pernah halal, ya, akan tetapi beberapa waktu setelah itu diharamkan. Di antara yang menguatkan lagi adalah pelarangan ?Ali ketika menjadi khalifah.
Syi?ah tidak memiliki bukti dari Salaf Shalih kecuali dari Ibnu Abbas Radhiallahu ?anhu, akan tetapi Ibnu abbas sendiri telah rujuk dan mencabut kembali kebolehannya kembali kepada pengharamannya, ketika di mengetahui larangan dari Rasulullah Shallallahu ?alaihi wa sallam. Dia (Ibnu Abbas) telah berkata : ?Sesungguhnya hal ini perlu saya jelaskan agar sebagian Syi?ah Rafidhoh tidak berhasil mengelabui sebagian kaum Muslimin.? (Sunan Al-Baihaqi 318 100 ; muhammad Al-Ahdal, hal. 251-252)
Sebagaimana kitab Syi?ah sendiri menyebutkan keharamannya, dan Imam Syi?ah ke-enam [yang diangap suci dari kesalahan] telah berkata kepada sebagian sahabatnya : ?Telah aku haramkan mut?ah atas kalian berdua? (Al-Furu? min Al-Kafi 2 48).
Adapun dalil mereka dengan sebagian hadits-hadits yang ada pada kitab Shahih Ahlussunnah maka hadits-hadits tersebut telah dinasakh [dihapus hukumnya]. Hal ini menjadi jelas dari hadits-hadits yang datang mengharamkan setelahnya. Di antara yang menunjukkan mut?ah bukan nikah adalah mereka [syi?ah] memandang bahwa mut?ah boleh dengan berapa saja sekalipun seribu wanita. Ini adalah menyalahi Syari?at yang hanya membolehkan [paling banyak] empat wanita.
Syaikh Mamduh Farhan Al-Buhairi ?Asy-Syi?ah minhum ?alaihim?

TAQIYAH RITUAL KAUM SYI’AH

Taqiyah menurut kaum Muslimin adalah sebuah istilah yang pemahamannya hanya terarah kepada satu arti Yaitu ?Dusta?. Adapun menurut Syi?ah taqiyah berarti perbuatan seseorang yang menampakkan sesuatu berbeda dengan apa yang ada dalam hatinya, artinya nifaq dan menipu dalam usaha mengelabui atau mengecoh manusia. Taqiyah adalah satu prinsip dari prinsip-prinsip kesesatan mereka. Taqiyah memiliki kedudukan yang luar biasa, mereka telah menempatkannya dalam tempat pengagungan dan pengkultusan, hingga mereka menjadikannya sebagai asas dalam agama mereka, dengan taqiyah seorang hamba akan mendapatkan pahala dan ihsan dari Allah.
Taqiyah adalah satu rukun dari rukun-rukun agama mereka, seperti halnya shalat. Ibnu Babawaih mengatakan:?Keyakinan kami tentang taqiyah itu adalah dia itu wajib. Barangsiapa meninggalkannya maka sama dengan meninggalkan shalat.?[Al-I?tiqadat, hal.114].
Mereka menisbatkan kepada imam keenam Ja?far Ash-Shadiq, dia berkata: ?seandainya saya mengatakan bahwa yang meninggalkan taqiyah sama dengan yang meninggalkan shalat tentu saya benar.? [Al-I?tiqadad, hal.114]
Sebagaimana mereka katakan juga bahwa: ?Daulah Azh-zhalimin? mereka menegaskan, ?Taqiyah adalah fardhu yang diwajibkan kepada kami dalam negara orang-orang yang zhalim. Karena itu barangsiapa meninggalkan taqiyah maka sungguh dia telah menyalahi agama imamiyah* dan telah berpisah dengannya.?[Bihar op. cit. 57/421]
mereka menipu kaum muslimin hanya karena mengikuti hawa nafsu iblis mereka, sekaligus propaganda kesesatan mereka. Mereka menganggap bahwa taqiyah lebih tinggi kedudukannya dibandingkan keimanan seseorang.
Imam Bukhari mereka, yaitu Muhammad Al-Kulaini berkata: ?Bertaqwalah kalian kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam agama kalian dan lindungilah agama kalian dengan taqiyah, maka sesungguhnya tidaklah mempunyai keimanan orang yang tidak bertaqiyah. Dia juga mengatakan ?Siapa yang menyebarkan rahasia berarti ia ragu dan siapa yang mengatakan kepada selain keluarganya berarti kafir.? .?[Al-KafiS 2/371,372 & 218].
Dan demikianlah firqoh Syi?ah menjadikan taqiyah, sebagai pilar agama dan menjadikan sebagai salah satu simbol mazhabnya. Keyakinan akan keharusan bertaqiyah mengandung konsekuensi membolehkan mereka berbohong. Sehingga perbuatan ini menjadi ?trade mark? atau simbol Syi?ah. Umpamanya ada yang mengatakan, ?Dia itu lebih pembohong dari orang rafidhah? [Tahqiq Mawaqif al-Sahabah fi al-Fitnah].
Atas kebolehan taqiyah mereka berdalil dengan?
Firman Allah ‘Azza wa Jalla, artinya :
?Janganlah orang-orang Mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali (kekasih, penolong, pemimpin) dengan meninggalkan orang-orang Mukmin. Barangsiapa berbuat demikian niscaya, lepaslah ia dari pertolongon Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka.? [Ali Imran: 28].
Ini adalah istidlal (pengambilan dalil) yang salah, menyalahi pengertian ayat yang jelas yang tidak menerima ta?wil semacam di atas, memelihara diri yang dimaksud dalam ayat adalah memelihara diri dari orang-orang kafir.
Firman Allah ‘Azza wa Jalla, artinya:
?Kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa).? [An-Nahl: 106].
Ini juga istidlal yang keliru jauh dari kebenaran karena ayat ini khusus bagi orang yang sudah tidak tahan siksaan, jika ia terpaksa mengucapkan kekufuran, maka ia boleh mengucapkannya tanpa diyakini dan diamalkan.
Sebagaimana mereka beristidlal dengan firman Allah ‘Azza wa Jalla, melalui lisan Ibrahim Alaihis-Salam, artinya:
?Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang, kemudian ia berkata, ?Sesungguhnya aku sakit?,? [Ash-Shaffat: 88-89].
Ini tidak sama dengan kedustaan dan kebohongan model Syi?ah, tetapi ayat ini membolehkan ?tawriyah? (penyamaran) dalam zhahir ucapan jika diharuskan dalam kondisi darurat.
Ucapan Ibrahim Alaihis-Salam ?Sesungguhnya aku sakit.? maksudnya,?Dari amal kamu dan ibadah kamu kepada berhala-berhala itu.? Ini bukan dusta tetapi di dalamnya mengandung sindiran (ta?ridh) untuk maksud syar?i, yaitu menghancurkan tuhan-tuhan mereka setelah ditinggalkan oleh para penyembahnya. Bahkan taqiyah Syi?ah tidak hanya halal bagi manusia biasa, tetapi halal juga bagi para Nabi dan Rasul. Ini adalah sangat buruk dan keji serta kemungkaran yang nyata. Karena Allah Ta?ala mengutus para Nabi dan Rasul untuk tugas menyampaikan risalah Tuhan mereka, mengajar manusia dan menyucikan mereka. Jika tidak tentu tidak akan tersebar dakwah mereka, tidak akan muncul pertentangan antara mereka dan orang-orang yang mereka utus kepadanya, tentu tidak akan merasakan cobaan-cobaan, siksaan-siksaan dan mara-bahaya.
Al-Qur?an adalah sebaik-baik saksi dalam hal ini dan yang menepiskan ini adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla, artinya:
?(Yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tidak merasa takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah.? [AI-Ahzab: 39].
Diantara riwayat dusta Syi?ah adalah taqiyah yang dialamatkan kepada Rasulullah saw mereka menyebut dari Abu abdillah Alaihis-Salam.
Dia berkata: ?Tatkala Abdullah bin Ubay bin Salul (pemimpin orang-orang munafik) mati, Rasulullah saw menghadiri jenazahnya.
Maka umar menegur Rasulullah saw, ?Bukankah Allah telah melarang anda untuk berdiri di kuburannya ??
Rasulullah terdiam.
Umar mengulagi lagi, ?Bukankah Allah ‘Azza wa Jalla telah melarang Anda untuk berdiri diatas kuburannya??
Maka beliau menjawab, celaka kamu, tahukah kamu apa yang aku ucapkan ? Sesungguhnya aku mengatakan, ?Ya Allah tutuplah mulutnya dengan api, penuhilah kuburannya dengan api, dan masukkanlah dia kedalam api neraka.?
Abu Abdillah Alahis-Salam berkata: ?Maka jelaslah bahwa Rasulullah saw apa yang tadinya tidak dia sukai.? [Al-Kafi fi Al-furu?.Kitab Al-Janaiz 3/188]
Apakah seperti ini sifat dan karakter Rasul yang diutus sebagai rahmatan lil?alamin, yang datang sebagai pengajar dan pendidik bagi ummat manusia? Sungguh ini adalah kebohongan dan kecurangan dari orang-orang zindik untuk mendeskreditkan Rasulullah saw.
Allah ‘Azza wa Jalla telah memuji nabi-Nya dengan berfirman yang artinya: ?Dan sesungguhnya engkau berada di atas akhlak yang agung.?
Tuduhan yang curang dan taqiyah yang didakwakan bertolak belakang dengan kandungan dan makna ayat ini. Kemudian bagi yang masih memiliki sisa akal, apakah rasululalh saw memerlukan sikap taqiyah dan nifaq sementara kedudukannya sangat kuat dan posisinya sangat tinggi saat itu?
Justru Ibnu-Salul lah yang memerlukan sikap dusta dan taqiyah ini karena kelemahnya di hadapan kekuatan islam.
Lalu apakah yang ditakuti oleh Rasulullah saw sehinga bertaqiyah dihadapan Ibnu Salul yang sudah menjadi mayat itu!
?Takutlah kamu kepda Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.?[At-Taubah:119]
?Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kamu kepada Allah, dan katakanlah perkataan yang benar.?[Al-Ahzab:70]
Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan mereka yang telah menyipati Rasulullah saw yang diutus sebagai penyebar rahmat dengan sifat-sifat seperti tadi.
Sesungguhnya taqiyah yang dilakukan oleh Rafidhah adalah kemunafikan yang nyata, mereka menginginkan sesuatu tapi mengucapkan dengan sesutu yang lain. Memerintahkan sesuatu secara-terang-terangan dan melarangnya dalam kesendirian. Allah Ta?ala telah menjelaskan sifat-sifat orang munafik dan sifat-sifat tersebut adalah sifat-sifat orang Syiah yang sudah terbiasa terdidik dengan pendidikan yang rendah ini, dan dari sana mereka mewariskan kepada putra-putrinya.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
?Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, kami mengakui bahwa sesungguhnya kamu adalah benar-benar Rasul Allah. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu adalah benar-benar Rasul-Nya. Dan Allah mengetahu bahwa sesungguhnya orang munafik itu benar-benar orang pendusta.?[Al-Munafiqun:1].
Allah berfirman,artinya: ?Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan kami beriman, dan apabila mereka kembali kepada syetan-syetan mereka, mereka mengatakan, ?Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok?.?[Al-Baqarah:14]
Latar Belakang Akidah Taqiyah
Posisi Syi?ah dahulu telah mengalami krisis ketika mereka membuka-buka lembaran kitab-kitab mereka, dalam kitab ini Al-Imam mengancam dan mengintimidasi, dan dalam kitab lain imam yang keempat menghalalkan dan dalam kitab yang sama imam keenam mengharamkan , imam yang ini mengatakan surya sementara imamnya yang lain mengtakan rembulan, maka mereka mendapati bahwa ucapakan orang yang mereka yakini sebagai imam yang ma?shum terbebas dari kesalahan dan ketergelinciran ternyata ucapan mereka dalam satu perkara saling bertentangan tanpa menemukan alasan pembenaran untuk itu. Sebgaimana mereka merasa terpukul ketika mendapatkan dalam sebagian riwayat mereka memuji dan mencintai para sahabat Rasulullah saw, dan mengakui baiyat terhadap mereka, berbalik dari apa yang mereka yakini. Maka kesulitan mereka semakin rumit, karena orang-orang bodoh dan hakham Rafidhah telah menghukumi sesat orang-orang sesat disekitar mereka, dan menjejali hati mereka dengan kebencian terhadap para sahabat dan ummahat Al-Mukminin ?semoga Allah meridhai mereka- sepanjang zaman . maka mereka berlari menuju tipu muslihat , makar dan kesesatan. Mereka memandang bahwa tidak ada jalan selamat bagi mereka melainkan dengan taqiyah, mereka merancang konsep taqiyah dan melengkapinya dengan berbagai macam fadhilah, dengan begitu merreka telah mengelabui manusia.
Apabila orang yang mengerumuni mereka dan yang menganut agama mereka hanyalah orang-orang bododh ?semoga Allah memberi hidayah kepada mereka- yang tidak ammpu memilah-milah didalam masalah akidah. Jika mereka mendengar dari satu imam yang berkata begini dan begitu, mereka langsung membenarkan sebelum orang yang menceritakan hadits itu menyempurnakan haditsnya. Mereka telah menjadikan para pengikut sebagi tawanan bagi ucapan para imam yang dipalsukan itu, karena mereka telah menanamkan ketaatan buta di hati mereka kepada imam, mereka telah menakut-nakuti pengikutnya dan telah memotivasi mereka dengan hadits-hadits yang tidak ada sangkut pautnya dengan islam.
Maka jika ucapan seorang imam bertentangan dengan imam itu sendiri, atau ucapan seorang imam berbenturan dengan imam yang lai, mereka mengatakan sesungguhnya itu terjadi dengan karena taqiyah. Mereka benar-benar telah menghiasi taqiyah ini dengan berbagai macam keutamaan dan keistimewaan sesuai dengan keinginan nafsu mereka.
Bagaimakah kesaksian ulama mereka?
Berikut ini adalah kesaksian ulama Syi?ah yang berakal tentang taqiyah yang dia sebutkan dalam kitabnya, ?Sesungguhnya saya meyakini dengan seyakin-yakinnya bahwa tidak ada satu ummat didunia yang menghinakan dirinya dengan menerima konsep taqiyah dan mengamalkannya. Inilah saya, saya memohon kepada Allah secara ikhlas dan saya mengetahui hari yang orang syi?ah tidak pernah berfikir, bahkan tidaka pernah berfikir tentang taqiyah apalagi tentang pengamalannya.?
Dan dia menambahkan, ?Sesungguhnya yang menjadi kewajiban bagi Syi?ah adalah menjadikan perhatiannya terhadap kaidah akhlak yang telah diwajibkan oleh islam atau seluruh kaum muslimin, yaitu: seorang muslim tidak boleh menipu, tidak menjilat,tidak melakukan kecuali yang haq dan tidak berkata melainkan yang haq sekalipun atas dirinya. Dan sesungguhnya perbuatan baik itu adalah baik di segala tempat dan amal yang buruk adalah buruk di segala tempat.?
Sampai dia berkata, ?Hendaklah mereka juga mengatahui bahwa apa yang mereka nasabkan kepada imam Ash-Shadiq dari ucapanya taqiyah adalah ?agamamu dan agama bapak-bapakku?, sesungguhnya itu anyalah dusta, bohong dan fitnah atas imam yang sangat agung itu.?[ibid, hal.159]
Sebagimana dikatakan oleh seorang iran, Ahmad Al-Kisrawi, ?Sesungguhnya taqiyah adalah satumacam dari dusta dan nifaq, apakah masih perlumenelti tentang keburukan dusta dan nifaq??[Syi?ah wa At-Tasyayyu?, hal.87]
Sesungguhnya taqiyah itu hanya di bolehkan untuk orang-orang lemah yang ditindas yang khawatir tidak bisa tegar di atas kebenaran dan bagi orang-orang yang tidak menempati qudwah (teladan) bagi manusia, orang seperti merekalah yang boleh mengambil rukhsyah (taqiyah) ini. Adapun orang-orang yang memiliki semangat dan tekat dari para Imam yang menjadi petuntuk jalan maka mereka harus mengambil azimah (hukum yang kuat) menanggung derita , tetap tegar dijalan Allah apapun yang mereka hadapi. Dan adalah para sahabat Rasulullah saw orang yang mulia sebagaimana yang dipersaksikan Al-Qur?an. Allah berfirman :
? Kekuatan, kemuliaan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang yang mukmin, tetapi orang-orang yang munafik itu tidak mengetahui.? [Al-Munafiqun: 8].
Maka tidak boleh orang-orang yang mulia (kuat) itu hanya berasal dari para sahabat yang khusus, karena Ali dan Ibnu Abbas , bukan orang yang munafik juga bukan orang yang hina sehingga mengambil sikap taqiyah.
Ibnu Taimiyah berkata ?inilah sikap Rafidhah.? Syi?ar mereka adalah kehinaan, baju mereka adalah nifak dan taqiyah, modal mereka adalah dusta dan sumpah palsu mereka berdusta atas nama Ja?far As-Siddiq bahwa dia berkata taqiyah adalah agamaku dan agama bapak-bapakku.Dan Allah telah membersihkan ahlul bait dari hal itu dan tidak menjadikan mereka butuh kepadanya , karena mereka adalah manusia paling jujur dan paling agung imannya. Agama mereka adalah takwa dan bukan taqiyah [Al-Muntaqa: 86].
Inilah hakikat taqiyah dalam agama syi?ah dia tidak lain hanyalah dusta, nifaq, dan penipuan; tidak ada amanah bagi mereka, tidak ada keikhlasan dan kejujuran dalam agama mereka . Mereka adalah para pendusta yang bangga dengan dustanya dan terang-terangan dengan maksiatnya dihadapan mata manusia.
Allah berfirman:?Diantara orang-orang Mukmin ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kapada Allah, maka diantara mereka ada yang gugur dan diantara mereka (ada pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak mengubah-ubah janjinya, supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.? [Al-Ahzab:23-24].
Tikaman Syi’ah Terhadap Sahabat
Apa kata mereka tentang sahabat ??
Ibnu taimiyah berkata : ?Syi?ah rafidhah mengatakan : sesungguhnya kaum muhajirin dan anshor menyembuyikan nash-nash sehingga mereka kafir kecuali hanya sedikit saja, lebih dari 10 orang dan sesungguhnya Abu Bakar, Umar dan semisal keduanya adalah orang munafik , yang sebelumnya adalah iman kemudian kafir. [Majmu? fatawa 3/356].
Mereka juga mengatakan sesunguhnya para sahabat, karena mereka telah membai?at Abu Bakar, maka semuanya menjadi kafir kecuali tiga atau empat orang ,(Kitab syiah Itsna ?asyariyah) diantaranya dari Hinan bin Sadir (tokoh syi?ah) dari bapaknya dari Abu Ja?far, ia berkata : ?semua manusia menjadi kafir setelah meninggalnya Nabi saw kecuali tiga orang yaitu : Miqdad bin Aswad, Abu Dzar al Ghifari dan salman al- Farisi.?[Al-Kafi 12/321,322]. Lebih dari itu mereka juga mengkafirkan sebagian dari ahli Bait Rasulullah saw , seperti Al-Abbas dan Abdulullah bin Abbas, mereka menganggapnya kerdil dan bodoh. [Ushul Kafi 1/247]. Maka lihatlah bagaimana mereka menganggap generasi termulia menjadi seperti iblis atau Abu Jahal. Padahal dengan celaan mereka terhadap sahabat saja sudah berarti mencela Nabi dan Islam. Cukuplah bagi kita untuk menepis kebatilan itu dengan Hadist: ?Janganlah kalian mencela sahabatku, karena seandainya kalian berinfaq emas sebesar gunung uhud tidak akan menyamai kebaikan mereka (walaupun) satu mud atau setengahnya? [HR. Bukhari dari Abi Said Al- khudri]
Bukan hanya itu saja tetapi mereka juga mengkafiran khalifah, serta menghukumi pemerintahannya sebagai negara kafir.
Menurut syi?ah Itsna?asyariyah, bahwa semua pemerintahan selain pemerintahan itsna?asyariyah adalah bathil, dan penguasanya adalah thagut. Barangsiapa yang berbai?at kepadanya tak ubahnya seperti orang yang membai?at thagut. Mereka berpendapat bahwa semua khalifah selain Ali dan Hasan adalah thagut, sekalipun mereka menyeru kepada kebenaran. Al-majlisi mengatakan:?bahwa khulafa?urrosyidin adalah perampas yang murtad dari islam, semoga Allah melaknat mereka dan orang yang mengikuti mereka, karena mereka mendzalimi Ahlul bait dari awal hingga akhir.? [Ushul kafi: 1/427 dan rijal al-kusyi hal:35]. Dimasa ja?far bin shadiq, Syi?ah rafidhah juga mengatakan : penduduk syam lebih jelek dari pada penduduk romawi (Nasrani), dan penduduk Madinah tujuh puluh kali lebih jelek dari penduduk makkah, sedangkan penduduk makkah telah kafir dengan nyata. [Ushul kafi: 2/49]

SYI’AH = YAHUDI

? Dan janganlah Engkau hinakan aku (Ibrahim) pada hari mereka (musyrikin) dibangkitkan. Pada hari (dimana) harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang-orang yang mendatangi Allah dengan hati yang salim (bersih dan selamat)? [QS. Asy-Syu?ara : 88-89]. Demikianlah Ibrahim Khalilullah berdo?a kepada Rabb semesta alam tatkala mengingkari ayahnya bersama kesyirikan dan aqidah kufurnya. Dan tidak diragukan lagi bahwa hati yang salim dalam ayat tersebut adalah hati yang sesak dengan sinar Tauhid dan selamat dari kegelapan syirik dan segala macam bentuk kekufuran. Namun Iblis dan bala tentaranya tak pernah bosan menjalankan misi mereka untuk menjauhkan hamba-hamba Ar-Rahman dari hati yang salim. Dan SYI?AH adalah salah satu produk mereka untuk misi keji tersebut.
Kami angkat risalah ini (Insya Allah secara ber-seri) kehadapan pembaca, untuk menjabarkan secara mendetail sebuah tatanan konspirasi Yahudi melalui agama Syi?ah yang sepintas lalu menampakkan label Islam yang pada hakikatnya merupakan seruan untuk berbondong-bondong menuju panasnya Jahannam. Dikarenakan pula wabah Syi?ah yang kini semakin merebak di tengah-tengah ummat khususnya di Lombok. Telah sampai kepada kami informasi bahwa pada sebuah penampungan imigran di Lombok terdapat 158 Syi?i (orang Syi?ah). Maka kita tidak perlu heran kalau mereka lari dari peperangan dan taman surga yang dijanjikan Allah bagi mereka yang terbunuh dalam perang karena-Nya, sebab mereka adalah orang-orang munafik hasil didikan Yahudi untuk menggembosi pejuang-pejuang Islam. Dan pada seri yang pertama ini kami hadirkan kepada pembaca tentang cikal bakal munculnya Syi?ah sebagai pengantar untuk menyelami hakikat mereka lebih dalam lagi dan mengungkap borok-borok mereka kepada ummat. Semoga kita dapat menjumpai Allah dengan hati yang salim.
Prakarsa seorang Yahudi menelurkan Syi?ah
Adalah orang-orang Yahudi yang pertama kali menebarkan racun di dalam agama Islam ini untuk memalingkan putra-putra Islam dari agama dan aqidah yang lurus. Dan adalah Abdullah bin Saba? seorang Yahudi gembong munafik yang menyembunyikan kekufuran dan menampakkan keislaman yang geram melihat Islam tersiar dan tersebar di jazirah Arab, di Imperium Romawi, negeri-negeri Persia sampai ke Afrika dan masuk jauh di Asia, bahkan sampai berkibar di perbatasan-perbatasan Eropa. Ibnu Saba? ingin menghadang langkah Islam supaya tidak mendunia dengan merencanakan makar bersama Yahudi San?a (Yaman) untuk mengacaukan Islam dan ummatnya. Mereka menyebarkan orang-orangnya termasuk Ibnu Saba? sendiri ke berbagai wilayah Islam termasuk ibukota Khalifah, Madinah Nabawiyah. Mereka mulai menyulut fitnah dengan memprovokasi orang-orang lugu dan berhati sakit untuk menentang Khalifah Utsman. Pada waktu itu juga memperlihatkan rasa cinta kepada ?Ali bin Abi Thalib Rhadhiallahu ?anhu. Mereka mengaku dan mendukung kelompok ?Ali, padahal ?Ali tidak ada sangkut pautnya dengan mereka.
Fitnah ini terus menggelinding. Mereka mencampur pemikiran mereka dengan aqidah-aqidah yang rusak. Dan mereka menyebut diri sebagai ?Syi?ah ?Ali? (pendukung ?Ali), padahal ?Ali membenci mereka bahkan ?Ali sendiri telah menghukum mereka dengan siksaan yang pedih, begitu pula putra-putra dari keturunan ?Ali membenci dan melaknat mereka, akan tetapi kenyataan ini ditutup-tutupi serta kemudian diganti secara lici dan keji.Pada waktu itu Persia (Majusi) juga menyimpan dendam kesumat karena di zaman Khalifah ?Umar bin Khattab negeri kufur mereka hancur di saat puncak kejayaannya oleh ?Umar sendiri, demikian pula Yahudi yang diusir dari Madinah oleh beliau. Maka bertemulah Majusi dan Yahudi menyatukan rencana mereka untuk menumpas Islam dari dalam.
Pengakuan tokoh-tokoh besar Syi?ah
Seorang ?Ulama Syi?ah pada abad 3 H Abu Muhammad Al-Hasan bin Musa An-Nubakhti mengatakan dalam kitabnya ?Firaq Asy-Syi?ah? : ?Abdullah bin Saba? adalah orang yang menampakkan cacian kepada abu Bakar, ?Umar dan Utsman serta para sahabat, ia berlepas diri dari mereka dan mengatakan bahwa ?Ali telah memerintahkannya berbuat demikian. Maka ?Ali menangkapnya dan menanyakan tentang ucapannya itu, ternyata ia mengakuinya, maka ?Ali memerintahkan untuk membunuhnya. Orang-orang berteriak kepada ?Ali, ?Wahai Amirul mukminin! Apakah Anda akan membunuh seorang yang mengajak untuk mencintai Anda, ahlul bait, keluarga Anda dan mengajak untuk membenci musuh-musuh Anda?? Maka ?Ali mengusirnya ke Madain (ibukota Iran waktu itu). Dan sekelompok ahli ilmu dari sahabat ?Ali mengisahkan bahwa Ibnu Saba? adalah seorang Yahudi lalu masuk Islam dan menyatakan setia kepada ?Ali. Ketika masih Yahudi ia berkata bahwa Yusa? bin Nun adalah Washi (penerima wasiat) dari Nabi Musa ?Alaihissalam -secara berlebihan- kemudian ketika Islamnya, setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu ?alaihi wa sallam ia mengatakan tentang ?Ali sebagai penerima wasiat dari Rasulullah (sebagaimana Musa kepada Yusa? bin Nun). Dia adalah orang pertama yang menyebarkan faham tentang Imamah ?Ali, menampakkan permusuhan terhadap musuh-musuh ?Ali (yang tidak lain adalah para Sahabat yang dicintai ?Ali) dan mengungkap para lawannya. Dari sanalah orang-orang diluar Syi?ah mengatkan bahwa akar masalah ?Rafdh? (menolak selain Khalifah ?Ali) diambil dari Yahudi. Ketika kabar kematian ?Ali sampai ke telinga Ibnu Saba? di Madain dia berkata kepada yang membawa berita duka, ?Kamu berdusta, seandainya engkau datang kepada kami dengan membawa (bukti) otaknya yang diletakkan dalam 70 kantong dan saksi sebanyak 70 orang yang adil, kami tetap meyakini bahwa dia (?Ali) belum mati dan tidak terbunuh. Dia tidak mati sebelum mengisi bumi dengan keadilan.?
Demikianlah ucapan orang yang dipercaya oleh semua orang Syi?ah dalam bukunya ?Firaq Asy-Syi?ah? [hal. 43-44. Cet Al-Haidariyah,Najef 1379 H]. Ucapan senada juga diungkapkan oleh Abu Umar Al-Kasysyi, ulama Syi?ah abad 4 H dalam bukunya yang tersohor ?Rijal Al-Kasysyi? [hal. 101. Mu?assasah Al-A?lami. Karbala Iraq].
Kini setelah lebih dari seribu tahun sebagian Hakham (pemimpin ulama) Syi?ah mengingkari keberadaan sosok Ibnu Saba? dengan tujuan supaya tidak terbongkar kebusukan mereka. Di antara yang mengingkarinya adalah Muhammad Al-Husain Ali Kasyf Al-Ghitha di dalam kitabnya ?Ashl Asy-Syi?ah wa ashuluha.? Namun anehnya banyak sekali kitab-kitab Syi?ah yang mengukuhkan tentang keberadaan Ibnu Saba? sebagai peletak batu pertama agama Syi?ah. Sebagian ulama Syi?ah kontemporer telah mengubah pola mereka dan mulai mengakui adanya tokoh Ibnu Saba?, setelah bukti tampak di depan mata mereka dan tidak bisa lagi mengelak. Mengelak harganya sangat mahal bagi mereka sebab konsekuensinya adalah menganggap cacat sumber-sumber agama mereka.karena itu Muhammad Husain Az-Zen seorang Syi?ah kontemporer mengatakan, ?Bagaimanapun juga Ibnu Saba? memang ada dan dia telah menampakkan sikap ghuluw (melampaui batas), sekalipun ada yang meragukannya dan menjadikannya tokoh dalam khayalan. Adapun kami sesuai dengan penelitian terakhir maka kami tidak meragukan keberadaannya dan ghuluwnya.? [Asy-Syi?ah wa At-Tarikh, hal. 213].
Kemiripan dua saudara kembar,Syi?ah dan Yahudi
Persinggungan antara aqidah Syi?ah dan aqidah Yahudi yang kotor itu bisa dilihat dari poin-poin berikut :
Yahudi telah mengubah-ubah Taurat, begitu pula Syi?ah mereka punya Al-Qur?an hasil kerajinan tangan mereka yakni ?Mushaf Fathimah? yang tebalnya 3 kali Al-Qur?an kaum Muslimin.Mereka menganggap ayat Al-Qur?an yang diturunkan berjumlah 17.000 ayat, dan menuduh Sahabat menghapus sepuluh ribu lebih ayat
Yahudi menuduh Maryam yang suci berzina [QS. Maryam : 28], Syi?ah melakukan hal yang sama terhadap istri Rasulullah ?Aisyah Radhiallahu ?anha sebagaimana yang diungkapkan Al-Qummi (pembesar Syi?ah) dalam ?Tafsir Al-Qummi (II 34)?
Yahudi mengatakan, ?kami tidak akan disentuh oleh api neraka melainkan hanya beberapa hari saja?. [QS. Al-Baqarah : 80] Syi?ah lebih dahsyat lagi dengan mengatakan, ?Api neraka telah diharamkan membakar setiap orang Syi?ah? sebagaimana tercantum dalam kitab mereka yang dianggap suci ?Fashl Kitab (hal.157)?
Yahudi meyakini bahwa, Allah mengetahui sesuatu setelah tadinya tidak tahu, begitu juga dengan Syi?ah
Yahudi beranggapan bahwa ucapan ?amin? dalam shalat adalah membatalkan shalat. Syi?ah juga beranggapan yang sama.
Yahudi berkata, ?Allah mewajibkan kita lima puluh shalat? Begitu pula dengan Syi?ah.
Yahudi keluar dari shalat tanpa salam,cukup dengan mengangkat tangan dan memukulkan pada lutut. Syi?ah juga mengamalkan hal yang sama.
Yahudi miring sedikit dari kiblat, begitu pula dengan Syi?ah.
Yahudi berkata ?Tidak layak (tidak sah) kerajaan itu melainkan di tangan keluarga Daud?. Syi?ah berkata,? tidak layak Imamah iut melainkan pada ?Ali dan keturunanannya?
Yahudi mengakhirkan Shalat hingga bertaburnya bintang-bintang di langit. Syi?ah juga mengakhirkan Shalat sebagaimana Yahudi
Yahudi mengkultuskan Ahbar (?ulama) dan Ruhban (para pendeta) mereka sampai tingkat ibadah dan menuhankan.Syi?ah begitu pula, bersifat Ghuluw (melampaui batas) dalam mencintai para Imam mereka dan mengkultuskannya hingga di atas kelas manusia.
Yahudi mengatakan Ilyas dan Finhas bin ?Azar bin Harun akan kembali (reinkarnasi) setelah mereka bedua meninggal dunia. Syi?ah lebih seru, mereka menyuarakan kembalinya (reinkarnasinya) ?Ali, Al-Hasan, Al-Husain, dan Musa bin Ja?far yang dikhayalkan itu.
Yahudi tidak Shalat melainkan sendiri-sendiri, Syi?ah juga beranggapan yang sama, ini dikarenakan mereka meyakini bahwa tidak ada Shalat berjama?ah sebelum datangnya ?Pemimpin ke-dua belas? yaitu Imam Mahdi.
Yahudi tidak melakukan sujud sebelum menundukkan kepalanya berkali-kali, mirip ruku. Syi?ah Rafidhah juga demikian.
Yahudi menghalalkan darah setiap muslim. Demikian pula Syi?ah, mereka menghalalkan darah Ahlussunnah.
Yahudi mengharamkan makan kelinci dan limpa dan jenis ikan yang disebut jariu dan marmahi. Begitu pula orang-orang Syi?ah.
Yahudi tidak menghitung Talak sedikitpun melainkan pada setiap Haid. Begitu pula Syi?ah.
Yahudi dalam syari?at Ya?qub membolehkan nikah dengan dua orang wanita yang bersaudara sekaligus. Syi?ahjuga membolehkan penggabungan (dalam akad nikah) antara seorang wanita dengan bibinya.
Yahudi tidak menggali liang lahad untuk jenazah mereka. Syi?ah Rafidhah juga demikia.
Yahudi memasukkan tanah basah bersama-sama jenazah mereka dalam kain kafannya demikian juga Syi?ah Rafidhah.
Yahudi tidak menetapkan adanya jihad hingga Allah mengutus Dajjal. Syi?ah Rafidhah mengatakan,?tidak ada jihad hingga Allah mengutus Imam Mahdi datang.
[kitab Badzl Al-majhud fi Itsbat musyabahah Ar-Rafidhah li Al-Yahud , oleh Abdullah Al-jamili]
Ini adalah setetes air dari luasnya samudra tentang kemiripan mereka dengan Yahudi, karena sesungguhnya Syi?ah merupakan aqidah campuran dari Yahudi, Nashrani, Persi (Majusi), Romawi dan Hindu. Mereka aduk unsur-unsur itu bagaikan adonan lalu dituangkan dalam satu cetakan kemudian diletakkan dalam suatu kemasan dan disajikan dengan nama ?Syi?ah?.Maka jelaslah sudah, sebagaimana jelasnya mentari yang tak diselimuti awan bahwa ? Syi?ah adalah Yahudi dan Yahudi adalah Syi?ah?. Akan lebih jelas lagi bagi Anda tentang apa dan bagimana Syi?ah dalam andilnya menghancurkan Islam Serta membuka jalan bagi musuh-musuh Islam jika Anda menyimak seri-seri selanjutnya tentang Syi?ah.

sumber : http://anshorussunnah.cjb.net/

ada apa syiah dengan HT??

Hizbut Tahrir bekerjasama dengan Syiah musuh Islam, mereka bersegera pergi ke Iran (ketika terjadi revolusi Iran) dan mereka pun mengusulkan siapa yang akan menjadi khalifah disana. Tahukah kamu siapa yang mereka usulkan? Dia adalah Khomeini, mereka meminta Khomeini menjadi khalifah. Dan hal ini mereka nyatakan dalam surat kabar mereka, Al Khilafah no.18, jum’at, 2 januari 1410 H (1989 M). Dalam surat kabar ini, kami menemukan sebuah artikel berjudul “Hizbut Tahrir wal ‘Imam’ Khomeini”. Dalam artikel itu mereka berkata “Kami pergi ke Iran dan mengusulkan agar Khomeini menjadi khalifah umat ini”. Jadi dengan umat manakah yang mereka inginkan agar kita, kaum muslimin, bekerja sama dan bila tidak bekerja sama maka dihukumi musyrik? Lalu siapakah khalifahnya? Dia adalah Khomeini
Dalam majalah mereka (Hizbut tahrir), Al Wa’ie, mereka mengatakan bahwa karangan yang berkenaan dengan politik terbesar (terbaik) yang pernah ditulis adalah Al Hukumah Al Islamiyyah, yang ditulis oleh KhomeiniMereka memuji kitabnya, Al Hukumah Al Islamiyyah, padahal didalamnya dia mencaci Abu Bakar, Umar, Mu’awiyah dan lainnya. Dia mencaci ipar laki-lakinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kenapa hal ini tidak dipermasalahkan oleh mereka (Hizbut Tahrir)? Dia juga mengatakan bahwa “imam-imam” kami berada pada tingkatan tertinggi, yang tidak ada nabi ataupun malaikat yang dapat mencapainya (Al Hukumah Al Islamiyyah, halaman 52). Bagaimana bisa dia berkata seperti itu? Bagaimana mungkin imam-imamnya itu lebih baik daripada semua nabi dan malaikat? Tapi hal itu bukanlah sesuatu yang hal yang dipermasalahkan bagi Hizbut Tahrir?. Oleh karena itu, mereka (Hizbut Tahrir) dapat ditemukan di Qum, tempat dimana Khomeini hidup. Mereka mengira bahwa di sana dapat ditegakkan khilafah

‘Adalatus shahabah

Semua Shahabat Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallamAdalah Adil Dan Haram Hukumnya Mencaci/Menghina Mereka

Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Halaman satu dari tiga tulisan

KATA PENGANTAR
“Artinya : Dari Abu Said Al-Khudri ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Jangan kalian mencaci maki/menghina para shahabatku, karena seandainya salah seorang diantara kalian berinfaq emas sebanyak gunung Uhud tak akan dapat menyamai derajat salah seorang diantara mereka, bahkan separuhnyapun tidak”. (Hadits Shahih Riwayat : Bukhari 4:195, Muslim 7:188, Ahmad 3:11, Abu Dawud 4658 dan Tirmidzi 3952).
A. TAQDIM
Para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang telah mendapatkan keridhaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka telah berjuang bersama Rasulullah untuk menegakkan Islam dan mendakwahkannya ke berbagai pelosok negeri, sehingga kita dapat merasakan ni’matnya iman dan Islam.
Perjuangan mereka dalam li’ila-i kalimatillah telah banyak menelan harta dan jiwa. Mereka adalah manusia yang sepenuhnya tunduk kepada Islam, benar-benar membela kepentingan umat Islam, setia kepada Allah dan Rasul-Nya tanpa kompromi, mereka tunduk kepada hukum-hukum agama Allah, tujuan mereka adalah untuk mendapatkan keridhaan Allah dan Sorga-Nya.
Model dan corak kehidupan masyarakat Islam terwujud dalam kehidupan mereka sehari-hari, model masyarakat Islam seperti yang tercermin dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah benar-benar dipraktekkan oleh mereka dan hal yang seperti ini belum pernah kita jumpai dalam sejarah umat sejak dulu sampai hari ini. Hidup mereka dilandasi Iman, cinta kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka selalu berjalan dalam prinsip-prinsip yang telah digariskan Allah.
Persoalan ‘Adalatus Shahabah (Keadilan Shahabat) sudah diyakini oleh umat Islam dari masa Shahabat sampai hari ini, bahwa merekalah orang-orang yang adil dan benar. Tetapi dalam rangkaian sejarah yang panjang ada saja kelompok yang selalu merongrong eksitensi perjuangan mereka bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kelompok/golongan ini mengaku diri mereka “Islam” ? Mereka lebih terkenal dengan nama “kelompok Syi’ah atau agama Syi’ah” karena aqidah mereka berbeda dengan aqidah kaum muslimin. Agama Syi’ah yang dianut sekarang ini adalah Agama Syi’ah Immamiyah Itsna ‘Asy’ariyah. Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asy’ariyah sejak dulu sampai hari ini telah sepakat mengkafirkan ketiga Khulafa’ur Rasyidin (mengecualikan Ali bin Abi Thalib) dan semua shahabat sesudah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kecuali 3 atau 4 shahabat.
Semua buku-buku mereka dipenuhi dengan caci makian, penghinaan, dan laknat kepada Khulafa’ur Rasyidin dan shahabat-shahabat yang lainnya. Di dalam kitab Al-Furu’ul Kaafi jilid 3 fatsal Kitabur Raudhah hal.115 karangan Al-Kulaini disebutkan : Bahwa ada seorang murid Muhammad Al-Baqir bertanya tentang Abu Bakar dan Umar. Lalu ia jawab : “Tidak ada seorangpun yang mati dari kalangan kami (Syi’ah) melainkan benci dan murka kepada Abu Bakar dan Umar”. Bahkan Khumaini dalam kitabnya Kasyful Asrar hal. 113-114 (cet. Persia) menuduh para shahabat kafir. Wal-‘Iyaadzu billah. 1)
Pengikut agama Syi’ah di Indonesia yang terdiri dari cendikiawan, mahasiswa dan orang-orang awam berusaha mencari-cari kesalahan individu dan meragukan ‘adalah (keadilan) mereka para shahabat, untuk menguatkan aqidah mereka yang rusak tentang shahabat dan tujuannya untuk merusak Agama Islam, karena bila shahabat sudah dicela maka otomatis Al-Qur’an dan Sunnah dicela, karena merekalah (shahabat) yang pertama kali menerima risalah Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pengikut agama Syi’ah berusaha agar Islam ini hancur.
Membicarakan sikap dan kedudukan shahabat dan mengkritiknya berarti mengkritik Al-Qur’an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Meragukan keadilan mereka berarti meragukan kesaksian Allah dan pujian Allah serta pujian Rasul-Nya terhadap mereka.
Orang-orang Syi’ah mengkritik para shahabat dengan menggunakan potongan-potongan ayat Qur’an dan hadits Nabi untuk kepentingan hawa nafsu mereka, dan meninggalkan puluhan ayat dan ratusan hadits Nabi yang shahih yang memuji keadilan shahabat.
Standar nilai dan tolok ukur perilaku mereka yang tepat adalah Al-Qur’an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sebagai penguat adalah pendapat Jumhur Ulama kaum Muslimin.
Oleh karena itu penulis akan paparkan nash-nash tentang ‘adalah shahabat.
B. DEFINISI SHAHABAT
1. Menurut Lughah (Bahasa).
Shahabi diambil dari kata-kata Shahabat = Persahabatan, dan bukan diambil dari ukuran tertentu yakni harus lama bersahabat, hal ini tidak demikian, bahkan persahabatan ini berlaku untuk setiap orang yang menemani orang lain sebentar atau lama. Maka dapat dikatakan seseorang menemani si fulan dalam satu masa, setahun, sebulan, sehari atau sejam. Jadi persahabatan bisa saja sebentar atau lama. Abu Bakar Al-Baqilani (338-403H) berkata : “Berdasarkan definisi bahasa ini, maka wajib berlaku definisi ini terhadap orang yang bersahabat dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kendatipun hanya sejam di siang hari. Inilah asal kata dari kalimat Shahabat ini”. 2)
2. Menurut Istilah Ulama Ahli Hadits.
Kata Ibnu Katsir : “Shahabat adalah orang Islam yang bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, meskipun waktu bertemu dengan beliau tidak lama dan tidak meriwayatkan satu hadits pun dari beliau”.
Kata Ibnu Katsir : “Ini pendapat Jumhur Ulama Salaf dan Khalaf (=Ulama terdahulu dan belakangan)”. 3)
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani melengkapi definisi Ibnu Katsir, ia berkata : “Definisi yang paling shahih tentang Shahabat yang telah aku teliti ialah : “Orang yang berjumpa dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan beriman dan wafat dalam keadaan Islam”. Masuk dalam definisi ini ialah orang yang bertemu dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baik lama atau sebentar, baik meriwayatkan hadits dari beliau atau tidak, baik ikut berperang bersama beliau atau tidak. Demikian juga orang yang pernah melihat beliau sekalipun tidak duduk dalam majelis beliau, atau orang yang tidak pernah melihat beliau karena buta. Masuk dalam definisi ini orang yang beriman lalu murtad kemudian kembali lagi ke dalam Islam dan wafat dalam keadaan Islam seperti Asy’ats bin Qais.
Kemudian yang tidak termasuk dari definisi shahabat ialah :
Orang yang bertemu beliau dalam keadaan kafir meskipun dia masuk Islam sesudah itu (yakni sesudah wafat beliau).
Orang yang beriman kepada Nabi Isa dari ahli kitab sebelum diutus Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan setelah diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dia tidak beriman kepada beliau.
Orang yang beriman kepada beliau kemudian murtad dan wafat dalam keadaan murtad. Wal’iyaadzu billah. 4) Keluar pula dari definisi shahabat ialah orang-orang munafik meskipun mereka bergaul dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah dan Rasul-Nya mencela orang-orang munafik, dan nifaq lawan dari iman, dan Allah memasukkan orang munafik tergolong orang-orang yang sesat kafir dan ahli neraka (Lihat : Al-Qur’an surat An-Nisaa : 137,138,141,142,143,145. Juga surat Ali Imran : 8 – 20).
Sistim mu’amalah yang diterapkan oleh Rasulullah dan para shahabat dalam bergaul dengan orang-orang munafiqin jelas menunjukkan bahwa shahabat bukanlah munafiqin dan munafiqin bukanlah shahabat. Jadi tidak bisa dikatakan bahwa diantara shahabat ada yang munafik !!! Ayat-ayat Al-Qur’an dengan jelas membedakan mereka :
Allah menyuruh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi orang-orang kafir dan munafiq (At-Taubah:73, At-Tahriim:9), sedangkan kepada orang-orang yang beriman , Allah menyuruh beliau menyayangi mereka (Asy-Syu’araa’ :215, Al-Fath:29).
Orang-orang munafiq tidak mendapat ampunan dari Allah (At-Taubah:80, Al-Munafiquun:6), sedangkan orang-orang beriman mendapatkan ampunan dari Allah (Muhammad:19).
Nabi, para shahabat dan orang-orang yang beriman dilarang menyalatkan mayat munafiqin (At-Taubah:84) sedangkan mayat orang yang beriman wajib di shalatkan sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits shahih. Dan ayat-ayat lain serta hadits yang membedakan mereka. 3. Pendapat Ulama Tentang Definisi Shahabat.
Definisi yang diberikan oleh Ibnu Hajar merupakan definisi Jumhur Ulama di antara mereka ialah Imam Bukhari, Imam Ahmad, Imam Madini, Al’iraqi, Al-Khatib, Al-Baghdadi, Suyuti dll. Ibnu Hajar berkata : Inilah pendapat yang paling kuat. Di antara ahli Ushul Fiqih yang berpendapat demikian Ibnul Hajib, Al-Amidi dan lain-lain. 5)
C. BAGAIMANA BISA DIKETAHUI SESEORANG ITU DIKATAKAN SHAHABAT ?
Kita dapat mengetahui seseorang itu dikatakan shahabat dengan :
Kabar Mutawatir seperti Khulafaur Rasyidin dan 10 orang ahli surga.
Kabar yang masyhur yang hampir mencapai derajat mutawatir seperti Dhamam bin Tsa’labah dan ‘Ukkaasyah bin Mihsan.
Dikabarkan oleh seorang shahabat lain atau oleh Tabi’i Tsiqat (terpercaya) bahwa si fulan itu seorang shahabat, seperti Hamamah bin Abi Hamamah Ad-Dausiy wafat di Ashfahan. Abu Musa Al-Asy’ari menyaksikan bahwa ia (Hamamah) mendengar hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Seseorang memberitakan tentang dirinya bahwa ia adalah seorang shahabat Rasulullah dan dimungkinkan bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menurut pemeriksaan ahli hadits bahwa ia memang seorang yang adil dan wafatnya tidak melebihi tahun 110H. 6)
Footnote :
1. Lihat Shurtani Mutadhodataani oleh Abul Hasan All Al-Hasani An-Nadwi : Aqaidus Syi’ah fii Miizan hal. 85-87 oleh DR Muhammad Kamil Al-Hasyim cet. I th, 1409H/1988M
2. Lihat Lisanul “Arab II:7; Al-Kilayat fi ‘Ilmir Riwayah hal.51 oleh Al-Khathib Al-Baghdadi ; As-Sunnah Qablat-Tadwin hal. 387.
3. Al-Baa’itsul Hatsits Syarah Ikhtisar ‘Uluumil-Hadits Lil-Hafizh Ibnu Katsir oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir hal. 151 cet. Darut turats Th. 1399H/1979M.
4. Al-Ishabah fil Tanyizis-Shahabah I hal. 7-8 cet. Daarul-fikr 1398H.5. Lihat Fathul Mughits 3/93-95, ‘Ulumul-Hadits oleh Ibnu Shaleh hal. 146 ; At-Taqyid wal-idah Al-‘Iraqi hal. 292 Alfiyah Suyuti hal. 57; Fathul Bari 7/3;Al-Ihkam fi Ushulil-Ahkam Lil-Amidi:83; Tanbih Dzawi Najabah ila ‘Adalatis Shahabah hal. 11.6. Lihat Tadribur-Rawi 2:213 oleh Imam Suyuthi cet. Daarul Maktabah ilmiyah 1399H/1979M ; Fathul-Mughits 3:140 Ushulul-Hadits 405-406.

PENGERTIAN RAFIDHAH DAN SYI’AH MENURUT ULAMA SUNNI

Sunni yang Sunni
Tinjauan Dialog Sunnah-Syi’ah-nya al-Musawi
Mahmud az-Za’by
——————————————————————————–

2. PENGERTIAN RAFIDHAH DAN SYI’AH MENURUT ULAMA SUNNI
Ummat Islam suka mencampuradukkan antara al-rafadh (berpaham Rafidhah) dan al-tasyayyu’ (berpaham Syi’ah). Mereka tidak bisa membedakan kedua istilah tersebut. Ini disebabkan ketidakpahaman tentang akidah mereka sendiri. Mereka tidak mau mengkaji akidah Islam secara benar dari sumbernya yang asli dan otentik, yaitu al-Qur’an dan hadits, serta pendapat para sahabat Nabi, pengikutnya (tabi’in) dan generasi ketiga (tabi’it-tabi’in). Padahal, mereka itu tiga angkatan, yang dinilai oleh Rasulullah sebagai generasi terbaik ummat Islam.

Masalahnya, sebagian ummat tidak mau mempelajari Islam dan ilmunya. Akibatnya, akidah Islam mereka artikan secara tidak proporsional. Mereka tidak tertarik untuk menjaga kesucian dan kemurnian akidah Islam. Bahkan mereka hampir tidak mengenal satu pun buku yang membicarakan akidah Sunni atau Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Akibatnya, mereka akan terjebak tatkala membaca buku-buku tafsir dan hadits, yang mengandung kisah-kisah israiliyyat dan kisah-kisah palsu. Atau, mereka memahami akidah Islam dari literatur-literatur baru tanpa dasar yang kokoh dan benar. Karena itu, mereka terputus dari ulama salaf salih, yang mendapatkan kerelaan dari Allah.

Karena ketidaktahuan itu, pulalah yang membuat mereka menganut paham yang berlawanan dengan akidah ulama salaf. Misalnya, tanpa disadari, mereka menganut ajaran kaum Rafidhah, Qadariyah, Khawarij dan Jahamiyah. Bahkan, ketidaktahuan itu berakibat buruk, Ketika anda mencoba meluruskan pemahaman mereka, dan mengembalikannya kepada pemahaman dan akidah salaf yang benar, mereka tidak memperdulikan koreksi anda. Mereka telah menjadi penganut fanatik.

Kenyataan ini dikhawatirkan melanda ummat Islam. Apalagi bila para ulama tidak berperan-serta mengajarkan dan menanamkan akidah kepada setiap Muslim. Ilmu akidah mestinya diberikan lebih dini daripada ilmu-ilmu lain, seperti dilakukan oleh Rasulullah.

Akibat logis dari strategi, pendidikan yang salah selama ini –tidak menanamkan akidah lebih dini– maka banyak ummat Islam resah atau bingung menghadapi paham-paham yang, sebelumnya, dipandang jelas dan tuntas oleh kaum Sunni. Paham-paham yang mapan itu seharusnya tetap tertanam di hati kaum Muslimin saat ini. Mereka membutuhkan itu, karena sejarah berulang dengan sendirinya. Untuk itu, saya merasa terdorong menjelaskan pengertian al-rafadh dan al-tasyayyu’.

1. Pengertian Etimologi1
Menurut bahasa, rafadh berarti meninggalkan, menyempal (taraka). Sedangkan al-Rafidhah berarti: sempalan atau salah satu golongan (firqah) dari Syi’ah. Menurut al-Ashmu’i, disebut demikian, karena mereka menyempal dari salah seorang imam Syi’ah, yaitu Zayd ibn ‘Ah.

Tasyuyyu’,2 menurut bahasa berarti sikap menganut atau mendukung. Syi’at al-rijal berarti penganut dan pendukung seseorang. Jadi, kata-kata tasyayya’arrajul, artinya; seorang lelaki menganut paham Syi’ah.

Setiap masyarakat memiliki sesuatu pandangan. Sebagian mereka mengikuti pendapat yang lain. Mereka adalah satu kelompok, seperti firman Allah: “Sebagaimana dilakukan terhadap orang-orang yang serupa dengan mereka pada masa lalu.” (QS, Saba’; 34:54)

2. Pengertian Istilah
Tadi kita telah membedakan antara istilah rafadh dan tasyayyu’ menurut pengertian bahasa. Kini kita akan menjelaskan perbedaan keduanya dari segi istilah dan syari’at.

Ada perbedaan yang menyolok antara kedua istilah tersebut. Ini perlu kita ketahui, bila hendak menolak tuduhan palsu kaum Rafidhah terhadap kaum Sunni. Kaum Rafidhah selalu mengacaukan pengertian rafadh di kalangan ummat Islam, dan menyelewengkan makna kecintaan ummat kepada keluarga Nabi. Ini mereka lakukan untuk merusak kesucian Islam dengan syi’ar yang palsu.

Menurut syari’at agama, istilah rafadh berarti sikap memuliakan ‘Ali ibn Abi Thalib lebih dari Abu Bakar dan ‘Umar. Menurut mereka, ‘Ali lebih utama dibanding mereka berdua. Karena itu, ‘Ali lebih pantas menduduki kursi kekhalifahan. Dalam hal ini, mereka tidak sampai mencaci maki Abu Bakar dan ‘Umar.

Tapi, bila sikap tersebut diikuti oleh rasa benci kepada Abu Bakar dan ‘Umar, atau malah memaki mereka, ini disebut rafadh ekstrim. Tak soal, apakah makian itu dengan bahasa yang jelas, ataukah hanya dengan bahasa isyarat. Dan jika sikap ini diikuti pula dengan kepercayaan bahwa ‘Ali ibn Abi Thalib atau keturunannya akan muncul kembali ke dunia setelah mereka wafat, maka inilah rafadh yang paling ekstrim.

Sedangkan istilah tasyayyu’, menurut syari’at agama berarti sikap mencintai ‘Ali ibn Abi Thalib dan memandangnya lebih utama dari para sahabat Nabi yang lain –kecuali Abu Bakar dan ‘Umar. Jika ‘Ali lebih ditokohkan daripada Abu Bakar dan ‘Umar, maka itu namanya paham rafadh.

Menurut ibn Hajar,3 Tasyayyu’ adalah sikap mencintai ‘Ali dan memandangnya lebih utama dari para sahabat lain. Dan bila di antara sahabat-sahabat itu termasuk Abu Bakar dan ‘Umar, maka tasyayyu’nya ekstrim, dan biasanya disebut paham Rafidhah. Tetapi jika sikap tadi tidak memandang ‘Ali lebih utama daripada Abu Bakar dan ‘Umar, maka itu hanya disebut Syi’ah. Namun, jika sikap tersebut ditambah rasa benci dan makian terhadap Abu Bakar dan ‘Umar, maka itu menjadi paham rafadh ekstrim. Kalau kemudian dilengkapi dengan kepercayaan bahwa ‘Ali bakal muncul kembali ke dunia, maka rafadh-nya menjadi sangat ekstrim.”

Kami telah menjelaskan pengertian rafadh dan tasyayyu’, baik secara etimologis maupun terminologis. Perbedaannya telah jelas dan nyata. Kini tiba saatnya membicarakan penganut paham Rafidhah dan Syi’ah. Siapakah mereka?

Rafidhah adalah sekelompok penganut Syi’ah yang memandang ‘Ali dan anak cucunya lebih utama daripada Abu Bakar dan ‘Umar. Mereka tidak menyukai kedua sahabat Nabi yang khalifah itu, bahkan mencaci-makinya. Kaum Rafidhah mempercayai, para imam itu ma’shum alias bebas-salah. Mereka memberikan segala kehormatan Nabi (selain kenabian) kepada para imam. Mereka juga mempercayai kedatangan kembali imam Muntadhar (imam tertunggu) yang sementara ini menghilang, tanpa meninggal. Mereka mempunyai pemikiran khusus, yang sangat berbeda dari dasar pemikiran Sunni.

Adapun kaum Syi’ah, mereka itu pencinta berat keluarga Nabi (ahl al-bayt). Mereka lebih mengutamakan Ahl al-Bayt daripada sahabat yang bukan keluarga Nabi. Tetapi mereka tidak membenci, memaki atau mengkafirkan para sahabat, terutama Abu Bakar dan ‘Umar.

Dalam Minhaj al-Sunnah, Ibn Taimiyyah4 mengemukakan alasan mengapa ada sekte Syi’ah yang disebut Rafidhah. Menurut ibn Taimiyyah, sejak Zayd5 tampil ke gelanggang politik, Syi’ah terpecah menjadi dua, yaitu golongan Rafidhah dan golongan Zaidiyyah. Ketika ditanya mengenai Abu Bakar dan ‘Umar, Zaid menyatakan simpatinya kepada kedua sahabat itu. Zaid mendoakan keduanya. Sekelompok pengikutnya kemudian meninggalkan Zaid. Zaid berkata kepada mereka: “Apakah kalian menyempal dariku?” Sejak mereka menyempal dari Zaid itu, istilah Rafidhah muncul. Adapun kaum Syi’ah yang tetap setia kepada Zaid, mereka itu diberi nama Zaidiyah, artinya, yang memihak kepada Zaid.

Ibn Taimiyyah juga menjelaskan, ‘Ali ibn Abi Thalib pernah berpidato di mimbar, di kota Kufah. Katanya: “Ummat Islam terbaik setelah Nabi Muhammad adalah Abu Bakar dan ‘Umar.” Orang Syi’ah yang mengenal ‘Ali dan hidup seangkatan dengannya, tidak pernah berselisih paham mengenai keutamaan Abu Bakar dan ‘Umar. Tetapi mereka berbeda pendapat menentukan siapa yang lebih utama antara ‘Utsman dan ‘Ali. Itu diakui oleh para tokoh Syi’ah yang terdahulu dan yang belakangan.

Abul Qasim al-Balhi juga menyebutkan sama. la menceritakan, seseorang bertanya kepada Syarik ibn ‘Abdillah, “Siapa yang lebih utama di antara Abu Bakar dan ‘Ali? “Abu Bakar,” jawab Syarik.

Ketika ditanya, mengapa dia menjawab begitu, padahal dia seorang Syi’ah, Syarik menjawab bahwa orang yang tidak berkata begitu bukanlah seorang Syi’ah. “Demi Allah, ‘Ali ibn Abi Thalib berkata di atas mimbar: ‘Ingatlah, sesungguhnya ummat Islam yang terbaik setelah Nabi adalah Abu Bakar, kemudian ‘Umar.” “Lalu mengapa?” tanya Syarik, “anda menolak pernyataan ‘Ali ini? Bagaimana anda bisa mendustakan ‘Ali? Sungguh, ‘Ali bukanlah pendusta atau pembohong.”

Karena tidak mengerti, seringkali orang menyebut rafadh bagi pencinta keluarga Nabi, tanpa membedakan antara istilah rafadh dan tasyayyu’. Ada sya’ir (oleh Imam Syafi’i, peny.) begini: “Jika mencintai Ahl al Bayt disebut Rafadh, maka saksikanlah bahwa aku penganut paham Rafidhah.” .

Ibn Katsir menceritakan,6 pada suatu saat kaum Syi’ah berkumpul bersama Zaid. Mereka bertanya kepada Zaid: “Apa maksud perkataan anda, ‘Allah memberi rahmat kepada anda pada (diri) Abu Bakar dan ‘Umar?” Zaid menjawab: “Semoga Allah mengampuni Abu Bakar dan ‘Umar. Aku tidak pernah mendengar seorang pun dari keluargaku yang berlepas tangan dari mereka berdua. Aku tidak pernah mengatakan tentang mereka kecuali yang – baik-balk. Aku ingin mengajak anda kembali kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasul, menghidupkan sunnah Nabi dan menumpas bid’ah. Jika mau mendengarkan, kalian dan aku akan memperoleh kebaikan. Tetapi bila kalian membangkang, maka aku bukanlah penolong kalian.”

Mendengar nasihat itu, kontan orang-orang Syi’ah itu bubar meninggalkan Zaid. Mereka menarik kembali bai’at mereka. Sejak hari itu, mereka disebut kaum Rafidhah. Adapun orang-orang yang mendengarkan dan menerima nasihat Zaid, mereka disebut Zaidiyyah. Penduduk Kufah umumnya penganut paham Rafidhah, sedangkan warga Makkah umumnya pengikut madzhab Zaidiyah. Baiknya, kaum Zaidiyah tetap menghargai Abu Bakar dan ‘Umar. Jeleknya, mereka lebih mengutamakan ‘Ali daripada kedua sahabat tadi. Padahal ‘Ali tidak lebih utama dari Abu Bakar dan ‘Umar. Bahkan, mungkin tidak -lebih utama daripada ‘Utsman, menurut paham Sunni yang benar dan sahih.

Menurut al-Mas’udi,7 Zaid ibn ‘Ali pernah berkata kepada kaum Syi’ah yang menuntut agar Zaid berlepas tangan dari Abu Bakar dan ‘Umar. Kata Zaid: “Abu Bakar dan ‘Umar itu pemimpin kakekku. Maka aku tidak bisa melupakan mereka.” Mendengar itu, orang-orang Syi’ah bubar, menyempal.

Catatan kaki:
1 Mukhtar ash-Shihah, sv. r-f-dh

2 Idem, sv. sy-y-‘

3 Hadi as-Sari, mukaddimah Fathul Bari, juz 2, hal.

4 Minhaj as-Sunnah, juz 1, hal.8.

5 Zaid ibn ‘Ali ibn Husayn. Peristiwa di atas terjadi sekitar tahun 122 H pada masa akhir kekhalifahan Hisyam bin Abdul Malik.

6 Al-Bidayah wan-Nihayah, juz 9, hal. 230 dan 329.

7 Muruj adz-Dzahab, 3/220.

Ritual Asyura

Foto-foto tentang ritual asyura dapat dilihat di link site dibawah ini atau clik disamping : >>>>>>>>>>>>>>

http://demimasa1.tripod.com/asyura1.html
http://demimasa1.tripod.com/asyura2.html
http://demimasa1.tripod.com/asyura3.html

Memukul kepada dan dada

Kaum rafidhah memukul-mukul badan mereka untuk mendekatkan diri mereka kepada Allah dan mendapatkan pahala di sisi-Nya.

Cara memukul badan

Dalam setiap peringatan hari besar mereka mereka, yang berbeda dengan perayaan hari besar kaum muslimin seperti peringatan terbunuhnya Ali bin Abi Tolib dan peringatan terbunuhnya Husein bin Ali, kaum rafidhoh melakukan upacara2 ritual untuk mengekspresikan kesedihan mereka terhadap musibah-musibah yang menimpa ahlul bait, yang kebanyakan cerita2 musibah itu adalah karangan mereka sendiri.

Ritual2 ini diadakan di setiap wilayah yang memiliki penduduk kaum rafidhoh, tetapi terlihat sangat jelas di beberapa wilayah Pakistan, Iran, India, Irak dan wilayah Nabtiyah di Lebanon. Dalam merayakan ritual ini pun cara mereka berbeda2, di negara teluk mereka memukul badan mereka dengan tangan kosong karena masyarakat negara teluk lebih ?berbudaya?. Tetapi di Pakistan dan Lebanon mereka menyabet badan mereka sendiri dengan pedang dan belati untuk menumpahkan dan melukai anggota badan.

Sementara itu kaum rofidhoh di wilayah lainnya menggunakan rantai untuk memukuli badan mereka sendiri. Acara ?pukul memukul? itu tak lupa disertai dengan pembacaan sya?ir2 kesedihan dan musibah, khotbah duka cita untuk ahlul bait,mencaci maki bani umayyah dan para sahabat Nabi. Semua itu dilakukan untuk mendapatkan pahala dan keridhoan Allah ta?ala. Tidak ketinggalan pula acara tangis bersama sampai berteriak-teriak, karena mereka mengatakan bahwa para imam mereka memberi kabar gembira ?Barang siapa menangis atau membuat dirinya menangis untuk Husein maka wajib masuk sorga?. Semua ingin masuk sorga, maka semua berlomba-lomba untuk bertambah sedih dan bertambah kencang tangisnya.

Sejarah ritual ?pukul memukul?

Acara ritual ini bermula dari rasa sedih para pengikut Ali bin Abi Tolib yang telah berjanji untuk berperang membela Ali namun ketika terjadi perang mereka lari meninggalkan Ali bin Abi Tolib sendirian hingga Ali bin Abi Tolib pun bosan dan membenci mereka karena kemunafikan mereka. Lalu Ali bin Abi Tolib berkhotbah di kepada mereka dan menjuluki mereka dengan sifat-sifat yang jelek seperti pengkhianat, pembohong, kaum yang hina, orang yang berakal kerdil dll ..
?Aku mengajak kalian untuk berjihad dan kalian menolak, aku telah memberitahu kalian tapi kalian tidak mau mendengarkan, aku telah berdakwah kepada kalian mengajak kepada kebenaran tapi kalian tolak dakwahku, aku telah menasehati kalian tapi kalian enggan untuk menerima..?
Hingga Ali bin Abi Tolib berkata:
?Demi Allah..aku ingin agar Mu?awiyah menukar pengikutnya dengan pengikutku seperti menukar uang, maka 10 orang pengikutku akan kutukar dengan 1 orang pengikut Mu?awiyah?. [1]

Kesedihan pengikut Ali bin Abi Tolib makin bertambah ketika mereka menulis surat kepada Husein bin Ali bahwa mereka berbaiat kepada Husein dan berjanji akan menolongnya, tetapi ketika Husein bin Ali benar2 datang mereka tinggalkan mati sendirian bersama keluarganya seperti mereka meninggalkan muslim bin aqil mati sendirian. Maka bertambahlah kesedihan mereka hingga hati kecil mereka merasa bersalah, lalu mereka mulai menghukum diri mereka sendiri dengan memukul dada dan menampar pipi mereka. Semua ini sebagai hukuman atas perbuatan mereka dan sebagai pembalasan kepada diri mereka atas penghianatan mereka kepada Husein bin Ali, Muslim bin Aqil dan sebelumnya Ali bin Abi Tolib. Begitulah, semakin besar rasa bersalah seseorang, maka dia semakin ?bersemangat? dalam memukul dirinya sendiri dan semakin keras pula menangisnya. Demikian ritual ini berkesinambungan, setiap generasi menghukum diri mereka sendiri atas kesalahan yang dilakukan oleh generasi yang hidup jauh sebelum mereka, yaitu pengkhianatan terhadap Allah dan Ahlul bait. Selang berlalunya waktu, generasi yang datang belakangan tidak pernah memahami sebab utama ritual ini dan mengira bahwa ritual ini hanya bertujuan untuk mengungkapkan kesedihan atas kejadian yang menimpa Husein bin Ali dan ahlul bait seperti yang didengungkan oleh para ulama, dan bukannya sebagai penyesalan atas pengkhianatan mereka. Sementara itu generasi belakangan tetap meyakini bahwa ritual ini untuk mencara pahala dengan rasa cinta kepada Husein bin Ali dan mereka lupa bahwa sebenarnya ritual ini diadakan sebagai hukuman kepada diri mereka sendiri yang telah menkhianati Husein bin Ali. Ini hukuman di dunia, di akherat Allah akan menghukum mereka dengan hukuman yang lebih berat. Subhanallah, bagaimana mereka mengubah ritual ini dari hukuman menjadi ibadah yang berpahala.

Pendapat di atas dikuatkan oleh perkataan Zainab binti Ali yang ditujukan kepada pengikut Ali (Syi?ah,bukan rafidhoh) : ?Wahai penduduk kufah, wahai para pengkhianat, perumpamaan kalian adalah bagaikan seorang perempuan yang mengurai benang yang sudah dipintal. Kalian hanya mempunyai kesombongan, kejahatan, kebencian dan kedustaan. Apakah kalian menangisi saudaraku? Tentu, demi Allah, maka perbanyaklah tangis dan jangan banyak tertawa, sungguh kalian telah diuji dengan kehinaan..bagaimana kalian menganggap enteng membunuh menantu nabi terakhir?. [2]

Perkembangan ritual ?pukul memukul?

Ibadah ini mulai berkembang dan meluas di awal berkembangnya syi?ah saat mereka ingin mencari ibadah yang berbeda dengan ibadah bani umayyah dan supaya memperlihatkan perbedaan antara mereka dengan kaum muslimin lainnya. Maka mereka selalu berusaha membesar2kan dan menekankan pentingnya ritual ini. Bahkan mereka membuat pakaian khusus yang dipakai saat upacara yaitu pakaian berwarna hitam dengan alasan duka cita atas kematian Husein bin Ali dan ahlul bait.

Pada periode bani buwaih yang menguasai iran dan irak atas nama melindungi khilafah abbasiyah, mereka ikut mengembangkan upacara ini hingga menjadi bagian dari syi?ah yang tidak bisa dipisahkan lagi. Lalu datanglah syah ismail safawi yang berkhianat kepada khilafah uthmaniyah mengumumkan hari berkabung nasional yang berlaku di seluruh wilayah kekuasaannya pada 10 hari pertama bulan muharram. Bahkan syah sendiri mengadakan open house untuk menerima ucapan duka cita dari rakyat dan mengadakan perayaan khusus yang juga dihadiri oleh syah ismail. Juga syah abbas1 al safawi memakai pakaian hitam pada tanggal 10 muharrom dan melumuri dahinya dengan lumpur serta memimpin pawai di jalan2 sambil bersyair dengan syair duka untuk husien dan melaknat bani umayah.

Peranan iran dalam pengembangan ritual pukul memukul

Sejak berubah menjadi negara islam, iran menggalakkan warganya untuk menghidupkan kembali ritual2 seperti ini bahkan ikut mendanai kaum syiah di mana-mana untuk mengadakan perayaan 10 muharam besar-besaran. Tapi yang aneh, sebagian syiah tidak memiliki uang untuk membeli makanan tetapi iran malah memberikan dana dalam jumlah besar hanya untuk mengadakan perayaan ritual ini dengan alasan agama. Sehabis acara perayaan, kita melihat pemandangan cukup memalukan yang diliput oleh media massa dunia. Darah, gambar orang memukul diri disiarkan oleh media massa dengan menuliskan bahwa ini adalah perayaan hari besar kaum muslimin. Hal ini sangat memalukan kaum muslimin.

Pendapat dunia terhadap ritual ini

Kantor berita reuter bagaikan mendapat ?harta karun? berharga ketika wartawannya di wilayah nabtiah lebanon merekam gambar seorang syi?ah sedang memukul kepala anaknya dengan pedang pada perayaan 10 muharam. Begitulah, para pengikut aliran sesat selalu memberikan bukti atas kecaman musuh terhadap islam. Foto-foto berdarah perayaan asyura dimuat di media masa dunia, mereka membahasnya panjang lebar di koran, majalah bahkan channel TV untuk membahas kebuasan dan sifat haus dan ritual ibadah kaum muslimin yang jauh dari kemanusiaan.

[1] Nahjul Balaghoh hal 224.
[2] Al Ihtijaj, 2/29-30.

Mengapa kita membedakan antara Sunni dan syiah, padahal kita memerlukan persatuan?

Dr Abdul Rahim Ballouchiy

Bagaimana mungkin terjadi persatuan antara Islam dan mereka yang menolak Islam[1]…. antara penolong Allah dan syiah(kelompok, penolong) syaithon? persatuan dan kesatuan tidaklah didasarkan kecuali pada aqidah dan agama kita, bahkan kesatuan atau wihdah ummah itu harus dibangun diatas persamaan aqidah sebagaimana dikatakan Sayyid Quthb rahimahullah: ?Sudah menjadi kelaziman untuk menjadikan aqidah sebagai barometer keanggotaan dalam sebuah pergerakan yang bertujuan untuk mengembalikan manusia menuju pada uluhiyatullah, rububiyyatullah, kekuasaan, syariat Allah?. Dikisahkan ketika Bani Israel menyembah anak sapi kemudian Musa datang kepada mereka, kemudian dengan marah dia menarik jenggot saudaranya, ketika itu Harun Beralasan :
?Wahai saudaraku janganlah kamu menarik jenggotku dan juga kepalaku, sesungguhnya yang aku khawatirkan adalah jika kamu berkata: ?sesungguhnya kamu telah memecah belah bani Israel, dan kamu tidak mendengar perkataanku??. (Toha ayat 94). Harun berpendapat bahwa membiarkan Bani Israel tetap menyembah patung anak sapi hingga datangnya Musa. Dan dia khawatir dianggap telah memecah belah bani Israel. Maka Musa mencacinya dengan sangat keras. Sesungguhnya perpecahan dalam keadaan tauhid lebih baik daripada persatuan dalam kemusyrikan. Dan kita tidak lupa apa yang diriwayatkan Bukhori bahwasanya Malaikat menyebutkan Muhammad sebagai orang yang memecah manusia.

Maka jika kaum Rafidhoh menghendaki persatuan, mengapa mereka menindas kalangan Sunni di negeri mereka dan menghalalkan darah mereka semenjak masa pemerintahan Qoromithoh hingga saat ini di negeri Iran?… Dan perlu diketahui bahwa bukanlah kita yang memulai serangan-serangan ini akan tetapi merekalah yang menyulutkan api. Dan seandainya celaan dan hinaan mereka hanya ditujukan kepada kita, niscaya tidak akan menjadi masalah besar. Akan tetapi hinaan dan celaan tadi ditujukan kepada keluarga Rasulullah saw, kepada istri-istri beliau-ummahutul mukminin dan juga kepada para orang tua istri-istri beliau, para sahabat dan juga mereka yang mengikuti sunnah beliau?. Kaum Rafidhoh mengakui bahwa yang memulai dengan celaan terhadap para sahabat adalah Ibn Saba? seorang Yahudi, peletak dasar madzhab mereka. Maka tidak alasan bagi kita untuk memaafkan mereka, karena Rasulullah saw telah bersabda: ?Sesungguhnya Allah telah memilihku, dan telah memilih para sahabat untukku, diantara mereka ada yang dijadikan untukku menjadi menteri, ada yang menjadi mertua, ada yang menjadi penolong. Maka barangsiapa yang mencela mereka maka atasnya laknat Allah dan malaikat-Nya dan laknat seluruh manusia. Allah tidak akan menerimanya dihari kiamat kelak ?.

Mengapa mereka disebut rafidhoh ?

Bukan kita yang memberi nama mereka dengan Rafidhoh, akan tetapi mereka sendiri yang membuat nama buat kelompok mereka. Awalnya adalah ketika mereka datang kepada Zaid ibn Ali ibn Husain, mereka berkata: ?Kamu berlepas diri dari Abu Bakar sehingga kami akan bersama kamu. Beliau berkata: ?Mereka berdua adalah sahabat kakekku, bahkan kami menjadikan mereka berdua sebagai wali kami. Mereka berkata: ?Kalau begitu kami menolakmu (rafadhnaaka) maka mereka menamakan orang yang bersama mereka dengan Rafidhoh dan orang yang mengangkat Zaid mereka namakan Zaidiyah. But (lihat Muqoddimah ibn Kholdun) nama ini disebutkan oleh syeikh mereka Al Majlisi dalam bukunya Al Bihar, dia sebutkan empat hadits dari hadits mereka.

Dalam kitab Al Kafi jilid 8 hal 28 kulaini meriwayatkan dalam sebuah riwayat yang sangat panjang, sebagian isinya berbunyi sebagai berikut, Abu Bashir bertanya pada Abu Abdullah: ?kita telah dijuluki dengan sebuah julukan yang mematahkan punggung kami dan mematikan hati kami, serta membuat para penguasa menghalalkan darah kami karena sebuah hadits yang diriwayatkan oleh ulama mereka, Abu Abdullah bertanya : ?apakah julukan itu Rofidhoh?? jawabku ?ya? lalu Abu Abdullah menjawab: ?yang menjulukimu dengan julukan itu bukanlah mereka, tapi Allah lah yang memberi sebutan itu??

Akan tetapi ketika mereka menyadari bahwa nama yang mereka gunakan adalah nama yang pernah diprediksikan Rasulullah saw akan kemunculannya dan beliau memerintahkan supaya membunuh pengikut kelompok ini, sebagian diantara mereka berusaha untuk mengingkari nama ini. Sedangkan kami menamakan mereka dengan Rafidhoh adalah karena penolakan mereka terhadap Islam. Telah diriwayatkan dari Ali ibn Tholib r.a bahwasanya Rasulullah saw bersabda: ?Akan muncul diumatku di akhir zaman nanti satu kaum yang bernama Rafidhoh, mereka menolak Islam. Riwayat Ahmad. Kemudian Imam Ali juga meriwayatkan: ?Bersabda Rasullah saw πŸ˜• maukah kamu saya tunjukkan dengan satu amalan yang apabila kamu mengamalkannya kamu akan masuk surga? Akan muncul di umatku satu kaum yang mempunyai sebutan Rafidhoh, apabila kamu menjumpainya maka bunuhlah mereka, sesungguhnya mereka adalah orang-orang musyrik. Kemudian Ali berkata: ?Akan ada sesudah kami nanti satu kaum yang berdalih mencintai kami, akan tetapi mereka mendustakan kami, tanda mereka adalah mereka mencela Abu Bakar dan Umar r.a.

Orang-orang syiah juga bersyahadat, sholat adzan dan juga haji, bagaimana kita menganggap mereka kafir?

Orang-orang murtad yang diperang Abu Bakar, dan dihalalkan darah mereka adalah orang?orang yang juga bersyahadat, sholat , adzan , puasa , haji dan mengklaim diri mereka sebagai muslim, tetapi semua itu tidak bermanfaat bagi mereka dikarenakan mereka telah menolak untuk membayar zakat kepada kholifah (dan kaum rafidhoh menolak zakat, dan membayarkan seperlimanya harta mereka untuk imam-imam mereka), dan sebagian di antara orang-orang murtad tadi ada yang menganggap Musailamah sama dengan Rasulullah saw, dengan itu darahnya halal dan mereka dianggap keluar dari islam. Lantas bagaimana dengan mereka yang telah menganggap imam-imam mereka satu martabat dengan Allah, mereka menyatakan bahwa imam-imam mereka mengetahui seluruh ilmu yang dikeluarkan kepada para malaikat, Rasul dan para Nabi, mereka juga menyatakan bahwa imam mereka mengetahui apa yang telah dan akan terjadi kemudian, mereka juga mengetahui kapan akan mati, dan para imam tadi tidak akan mati kecuali dengan pilihan mereka. Hal ini adalah sangat bertentangan dengan firman Allah ta?ala:
? Sesungguhnya Allah yang mengetahui tentang kiamat, Dia juga yang menurunkan hujan, Dia yang mengetahui apa yang ada di rahim , seorang jiwa tidak akan mengetahi apa yang akan dilakukannya esok hari, dan seorang jiwa tidak mengetahui kapan dia akan mati, Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi Maha Mengerti. ?. (QS. Luqman 34)

Mereka itu adalah kelompok Rafidhoh yang mana imam Ali membakar mereka sebagaimana diriwayatakan dalam Bukhori: ?Bahwasanya Rasulullah saw berkata tentang kaum Khawarij: ?Dimana saja kamu jumpai mereka maka bunuhlah mereka, sungguh jika aku menemui mereka niscaya akan aku bunuh mereka sebagaimana kaum Aad di bunuh?. Meskipun mereka adalah orang yang banyak melakukan ibadah, bahkan para sahabat menganggap sholat mereka lebih sedikit dari khawarij. Padahal mereka belajar dari sahabat. Ketika itulah syahadat mereka tidak bermanfaat, ibadah mereka yang banyak dan keislaman mereka juga tidak bermanfaat, dikarenakan mereka telah mengkafirkan para sahabat.

Disini kami ingin mengangkat sebuah bukti yang kami ambilkan dari ulama mereka, syiah rafidhoh Nikmatullahi al Jazairi dalam bukunya al Anwar Nukmaniyah: ?Sesungguhnya kami tidak akan pernah sepakat dengan mereka ?kaum sunni- tentang Allah, Nabi dan Imam. Dikarenakan mereka mengatakan: ?Tuhan kami adalah yang Nabinya Muhammad dan khalifah setelahnya Abubakar, dan kami rafidhoh tidak beriman pada tuhan itu dan Nabi yang tadi, karena Robb yang Nabinya Muhammad dan Khalifah setelahnya adalah Abubakar bukanlah tuhan kami[2]?

Bukanlah lebih tepat bagi kita untuk memerangi orang Yahudi dari pada memerangi kaum yang juga bersyahadat??

Bagaimana kita tolong menolong dengan kaum munafikin? Bukankah Allah telah berfirman :
?Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.”

Barangkali anda lupa bahwasanya pendiri madzhab ini Ibn Saba? al Yahudi. Dan mereka kaum rofidhoh, senantiasa bekerjasama sepanjang sejarah dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani semuanya adalah musuh umat ini, maka cukupkah hanya dengan syahadat?

Kami ingin kembali pada kisah peperangan Abu Bakar dengan kaum murtad (yang mana orang rafidhoh mendukung mereka) Mutsanna ibn Harits Asy Syaibani telah mengejar orang?orang murtad sampai masuk pada wilayah Persi, kemudian Abu bakar bertanya kepada beliau r.a. tentang usaha pengejarannya sehingga sampai di negeri Persi, Mutsanna berkata: ?Saya khawatir mereka akan menyerang dari belakang, jika saya merasa aman akan hal ini niscaya akan aku perangi mereka walaupun mereka ada di dalam istana Kisra?.

Kita bisa mencermati apa yang dikatakan Mutsanna ketika menjawab pertanyaan Abu bakar r.a ketika dia mengatakan: ?Saya takut apabila diserang dari belakang ….!! Adakah kaum muslimin sekarang ini merasa aman dengan tersembunyi dari arah belakang mereka??? Apa yang dahulu dikhawatirkan Mutsanna mustinya sekarang ini kita lebih khawatir akan ancaman mereka disegala tempat dan waktu. Ya, memang benar apa yang telah dilakukan Sholahuddin Al Ayyubi ketika memutuskan untuk memerangi kaum rafidhoh terlebih dahulu sebelum memerangi orang Nasrani, dia berhasil menumbangkan kekuasaan Ubaidiyyin (Fathimiyyah). Kalaulah tidak niscaya Sholahuddin tak akan dapat membebaskan Al Quds dari cengkeraman pasukan Salib. Dengan karunia Allah dan kelebihan Sholahuddin tidak terdapat satupun orang rifidhoh di Afrika bagian utara, setelah sebelumnya tumbuh berkembang disini. Maka dengan adanya Negara Ubaidiyyah tumbuhlah negara Nasrani di Palestina, dan dengan adanya Negara Rafidhoh di Iran sekarang ini dan dengan terpecah belahnya kaum muslimin tumbuhlah Negara Yahudi di Palestina.

Dan inilah bukti sejarah yang membuktikan bahwa rafidhoh telah menjadi sebab terhambatnya perluasan dakwah Islam. Para sejarawan juga menyebutkan bahwa Khilafah di Istambul terpaksa harus menarik pasukannya yang sudah berada di jantung kota Vienna ibu kota Austria, disebabkan karena Iran Rafidhoh melakukan penyerangan terhadap mereka… Maka berapa banyak kebaikan yang telah mereka rusak dengan terang-terangan dan dengan muka manis dengan melafalkan kalimah toyyibah ?Laa ilaaha Illlallah? lalu mereka menusuk kita semua dari belakang. Ya, menumpas kaum rafidhoh adalah satu keharusan sebelum menumpas kaum Yahudi dan Nasrani. Sesungguhnya kejahatan kaum Yahudi dan nasrani terlihat, akan tetapi kaum rafidhoh mereka adalah kaum yang juga mengarahkan ibadah mereka ke kiblat, mereka juga memakan sembelihan yang kita makan juga, mereka juga sholat, puasa kemudian mereka menyerang kita dari belakang ketika kita dalam keadaan lengah.

Akan tetapi syeikh Fulan mengatakan bahwa Rafidhoh bukanlah kaum yang kafir !!

Apakah masalahnya hanya sekedar masalah nafsu?? Sungguh telah kami jelaskan hukum Allah tentang kaum syiah (dari Kitab dan Sunnah) kemudian saya sertakan pula penjelasan para ulama baik salaf maupun kholaf serta ijma? mereka akan kafirnya kaum rafidhoh ini. Diantara mereka adalah Rasulullah saw, Umar ibn Khothob, Ali ibn Abi Tholib, Imam Abu Hanifa, Imam Syafi?ie, Imam Malik , Imam Ahmad, Bukhori , Ibn Hazm Al Andalusi, Ghazali, Qdhi ?Iyadh, Syeikhul Islam Ibn Taimiyah, Ibn Katsir, Ibn Kholdun Ahmad ibn Yunus Syuraik, Ibn Mubarak, Ibnul Jauzi Rahimahullah. Bahkan Syeikhul Islam Ibn Taimiyah Rahimahullah dan Abu Hanifah Rahimahullah mengatakan kafir orang yang menyangsikan kekafiran syiah. Diantara Ulama kontemporer adalah Bahjatul Baithor (Suria), Hilali (Maghrib),Imam syeikh Nashiruddin Al Albani rahimahullah (Jordania), Muhammad Rasyid Ridho (Mesir, dia adalah anggota sebuah gerakan yang menyerukan pendekatan antara sunni dan syiah, akan tetapi kemudian berbalik memusuhi syiah) dan masih banyak lagi yang lainnya Lantas apakah kita hendak menyelisihi mereka dan kemudian lebih percaya dengan apa yang dikatakan syeikh fulan?

Dan ketauhilah bahwasanya barangsiapa yang mentaati ulama atau pemimpin tentang satu hal yang haram padahal itu di halalkan Allah atau menghalalkan sesuatu yang diharamkan Allah, ketika itu dia telah menjadikan mereka sebagai Tuan selain Allah. Sebagaimana dikerjakan Yahudi dan Nasrani. Dan saya sangat heran ketika saya mengatakan Allah telah berfirman, Rasul telah bersabda dan para ulama juga telah mengatakan, akan tetapi dia tetap mengatakan pada kami: ?Syeikh saya mengatakan kepada begini dari syeikhnya. Dan Syeikh saya merupakan rujukan setiap masalah.

Apakah diperbolehkan kita menyembunyikan penjelasan ini kepada masyarakat, demi untuk menghindari konflik ??

Aku berlindung kepada Allah, bagaimana kita akan melakukan hal itu, padahal Allah Ta?ala telah berfirman dalam surat Al baqarah:
Allah berfirman: ?Sesungguhnya orang-orang yang menutupi keterangan ini dan petunjuk setelah kami jelaskan kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itulah orang yang mendapatkan laknat dari Allah dan laknat manusia? (Al Baqoroh : 159)
Allah berfirman: ?Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih? (Al Baqoroh : 174)

Allah juga berfirman:
?Dan ingatlah ketika Allah mengambil perjanjian kepada ahli Kitab, bahwasanya mereka akan menjelaskan kepada manusia dan tidak menutup-nutupinya. Akan tetapi mereka melemparkan kebelakang punggung mereka dan menukarkannya dengan harga yang murah, amat buruklah apa yang mereka beli ?.(Al Imron : 187)

Bersabda Rasulullah saw: ?Apabila bidah sudah muncul dan sahabatku sudah dicaci maki maka hendaklah orang yang alim menampakkan ilmunya, maka barangsiapa yang tidak mengerjakanya baginya laknat Allah, Malaikat dan seluruh manusia. Allah tidak akan menerima dari mereka alasan apapun?.

Beliau juga bersanda: ?Tidak ada seorangpun yang diberi ilmu oleh Allah kemudian dia menyembunyikannya, kecuali nanti di hari kiamat Allah akan membelenggunya dengan belenggu dari neraka?.

Beliau juga bersabda: ?Apabila akhir ummat ini telah melaknat umat yang lebih dahulu: maka barangsiapa yang menyembunyikan satu hadits sungguh dia telah menyembunyikan apa yang diturunkan Allah (diriwayatkan Ibn Majah ).

Dan tidak cukup hanya melarang mereka, akan tetapi wajib bagi setiap muslim untuk tidak menjadikan mereka sebagai wali dan sahabat, jika tidak laknat Allah akan menimpa umat ini sebagaimana ditimpakan kepada bani Israel.

Allah berfirman: ?Telah dila’nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas.” (Al Maidah : 78)
“Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.”(Al Maidah: 79)
“Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan.” (Al Maidah : 80)

Bersada Rasulullah saw: ?Sesungguhnya seorang dari bani Israel apabila melihat saudaranya melakukan perbuatan dosa, dia melarangnya. Maka keesokan harinya dia tidak mencegahnya dikarenakan dia adalah sahabatnya temannya. Maka ketika Allah melihat hal itu maka Allah pukulkan hati-hati diantara mereka dan Allah melaknat mereka melalui lesan Nabi Dawud dan Nabi Isa ibn Maryam. Dengan sebab mereka telah bermaksiat dan melampaui batas.”

Apakah kalian ingin agar kami menyembunyikan ilmu yang ada pada kami demi setetes kenikmatan dunia? Demi Allah kami tidak akan menyembunyikan ilmu yang ada selama hayat di kandung badan.

Kapan kita melupakan masa lalu dan menyelesaikan perbedaan yang sudah berumur 14 abad ini? Masihkan ada kesempatan untuk melakukan pendekatan ?

Apakah akan pernah berhenti pertempuran antara haq dan bathil? antara tentara Allah melawan tentara setan? Apakah kaum rafidhoh menyesali masa lalu mereka yang penuh dengan lumuran darah? Bahkan apakah mereka mau menghentikan permusuhannya terhadap Islam? Kalaulah seandainya celaan mereka hanya ditujukan kepada kita saja, niscaya kami akan memaafkan, akan tetapi celaan mereka tujukan kepada keluarga Rasulullah saw, kepada para sahabatnya, istri-istri dan mertuanya? bagaimana kita bisa memaafkan mereka? Pertentangan ini akan terus berlangsung sebagaimana di sabdakan Nabi saw: ?Sehingga Dajjal keluar, dan kamu muslimin memerangi nya dan juga para tentaranya dari kaum Yahudi, Musyrikin dan Rafidhoh ?.?

Dan bagaimana mungkin bisa dilakukan pendekatan antara orang yang percaya bahwa al Qur?an telah mengalami perubahan dengan berkeyakinana bahwa ada kitab-kitab yang diturunkan kepada imam-imam mereka setelah Al Quran ini? Mereka juga memandang bahwa kedudukan imam lebih tinggi dari para Nabi, imamah menurut mereka adalah sebagaimana para Nabi atau bahkan lebih, mereka juga menafsirkan ibadah kepada Allah yang merupakan risalah para rasul dengan membelokkannnya dari makna yang hakiki dan menganggap bahwa ibadah pada Allah adalah ketaatan kepada imam, dan syirik pada Allah adalah adalah syirik pada imam, menyekutukan imamah, mereka juga mengkafirkan para sahabat yang terbaik, mereka juga melaknat istri Nabi yang juga ibu kaum mukminin. Mereka menetapkan para sahabat telah murtad kecuali hanya satu, dua atau tiga atau empat atau tujuh saja sesuai perbedaan riwayat yang ada pada mereka?! Saya sarankan wahai saudaraku, untuk membaca kembali khuthbah syeikh Hudzaifi Imam Masjid Nabawi tentang pendekatan antara sunni dan syiah.

Dan yang paling penting untuk diketahui, bahwasanya kaum extrimis syiah yang pada masa silam hanya berjumlah sedikit, tetapi setelah itu dan sampai sekarang ini pengikut syiah seluruhnya meyakini akidah dan keyakinan-keyakinan yang diyakini oleh kaum extrimis di atas tanpa kecuali. Hal ini diakui oleh ulama besar mereka Ayatullah Mamaqoni yang berkata saat menceritakan biografi perowi syiah yang termasuk kaum ghulat: ? keyakinan-keyakinan yang dahulu hanya ada pada kaum ghulat telah berubah menjadi pokok-pokok keyakinan mazhab syiah saat ini?. Seperti yang kita ketahui bahwa ulama ahlussunnah mengkafirkan kaum syiah ghulat masa silam, dengan itu maka bisa diketahui status penganut syiah saat ini.[3]

Apa komentar anda tentang mereka yang masih berusaha melakukan pendekatan ?

Sesungguhnya masalah pendekatan antara sunni dan syiah, adalah masalah yang senantiasa dilontarkan oleh para penulis ? mereka menamakan diri mereka dengan ?mutanawwirin? (kelompok yang tercerahkan), Padahala tidak diragukan lagi bahwa mereka yang dicerahkan Allah bashirohnya bahwa aqidah syiah semenjak dahulu sampai sekarang merupakan aqidah yang bertentangan dengan aqidah yang diyakini oleh kaum muslimin[4] dan juga bertentangan dengan aqidah salaf.

Kami sangat heran terhadap mereka yang memandang pesimis permasalahan ini dianggap kelompok yang ekstrim dan berlebihan. Maka akan kami katakan kepada mereka dengan jelas, dan kepada siapa saja yang menginginkan pendekatan antara sunni dan syiah: ?Kami sepakat dan kami setuju akan tetapi dengan satu syarat, berhukum dengan Kitabullah dan sunnah Rasul yang sahih?, karena Allah memerintahkan kepada kita semua ketika terjadi perselisihan supaya mengembalikan permasalahan kepada kitabullah dan sunah rasul.

?Jika kamu berselisih dalam satu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul?.. .? (Annisa? 59)

Kami katakan kepada mereka yang ingin mendekatkan antara sunni dan syiah ?Bagaimana mungkin kita akan mengadakan pendekatan kepada orang yang telah menghina orang-orang terbaik kita, dan orang terbaik setelah para Nabi dan rasul. Bagaimana mungkin kita akan melakukan pendekatan kepada mereka yang mencela Abu bakar, Umar dan Utsman. Bahkan sudah menjadi ketetapan mereka, dan juga termaktub dalam kitab-kitab mereka bahwa semua sahabat telah murtad dan kafir. Mereka tidak mengecualikan kecuali hanya beberapa orang saja, seperti Abu Dzar, Bilal, Miqdad dan Salman. Apabila mereka menganggap kafir dan murtad para sahabat, siapakah yang menyampaikan kepada kita semua syariat ini, al Quran dan sunnah kalau bukan mereka?[5] sebagaimana dikatakan sebagaian salaf: ?Mereka ingin menyerang para saksi kita, kalaulah kita berkeyakinan demikian ?na?udzubillah- bagaiamana kita percaya dengan apa yang mereka sampaikan kepada kita, bagaimana kita membenarkan mereka , wahai umat Muhammad dimanakah akalmu?[6]

Kami juga mengatakan: ?Bagaimana mungkin kita mengadakan pendekatan dengan mereka yang menuduh Ibu kita Aisyah telah melakukan zina, padahala sangat tidak mungkin mereka berdua melakukan hal itu. Padahal Allah ta?ala telah membersihkan mereka berdua dari tuduhan itu dengan diturunkannya ayat yang akan terus dibaca sampai hari akhir. Mereka tidak menginginkan kecuali hanya mendustakan Qur?an dan mereka yang mendustakan Al Qur?an adalah kafir dan batal keislamannya.

Apabila syiah meyakini bahwa Al Quran telah diubah, maka mereka selamanya tidak akan beriman kepadamu. Tidakkah kita mendengar firman Allah :

? Apakah kamu menginginkan mereka untuk beriman kepadamu, padahal sebagian diantara mereka ada yang mendengar kalam Allah akan tetapi kemudian mereka memutar balikkan setelah mereka memahaminya dan mereka mengetahuinya?… (QS.Al Baqoroh: 75).

Untuk apa membuang-buang waktu dengan mengadakan dialog dengan mereka. Barangkali anda telah lupa firman Allah tentang kaum Yahudi:

?Mereka mengatakan bahwa dalam hati kami ada tutupnya, bahkan Allah telah melaknat mereka dengan sebab kekufurannya, maka amat sedikit dari mereka yang beriman?. (QS. Al Baqoroh: 88)

Perhatikan firman Allah ?qolilan ma yukminun? artinya amat sangat jarang diantara mereka yang mau masuk islam. Diantara mereka sudah kita ketahui, Ummul Mukminin Shofiyah dan juga sahabat besar Abdullah bin Salam dan yang lainnya yang menjadi seorang muslim yang baik. Maka apabila hal ini berlaku untuk Yahudi, bagaimana dengan rafidhoh???

Mengapa kamu memperingatkan satu kaum yang Allah hendak membinasakan atau mengadzab mereka dengan adzab yang pedih ??

Sebagai tanda bahwa kami telah menyampaikan kebenaran dan semoga mereka mau kembali pada ajaran yang benar. Adakah anda lupa dengan kisah ashabus sabt ( mereka yang terlibat dalam kisah hari sabtu), mereka ada tiga kelompok. Satu kelompok mereka melanggar kesucian hari sabtu dan mereka menzalimi mereka sendiri. Satu kelompok lagi mereka tidak menzalimi diri mereka akan tetapi mereka tidak mengingkari mereka atau tidak memisahkan diri dari mereka. Dan satu kelompok lagi yang mencegah kemungkaran dan memerintahkan yang makruf serta memilih memisahkan diri dari mereka, bahkan mereka membatasi diri mereka dengan dinding. Maka ketika azab Allah datang, Allah menjadikan dua kelompok yang pertama menjadi kera dan babi-babi dan Allah menyelamatkan kelompok yang mencegah mereka dari maksiat. Demikian difirman allah dalam surat Al A’raf :165.

“Ketika mereka lupa dengan peringatan, maka kami selamatkan mereka yang mencegah dari kemaksiatan , dan kami siksa orang-orang yang zalim dengan azab yang pedih dengan sebab kefasikan mereka?. (QS. Al A?raf: 165)

Dan kami juga pernah mengkisahkan tentang kembalinya salah satu ulama besar mereka ?Ayatullah Abul Fadhl al Burqoi kepada Islam dan juga Ahmad Al Kisrawi serta tentang islamnya salah satu pemuda mereka. Dan ini adalah salah satu ulama besar mereka Dr. Musa al Musawi, dan saya juga pernah mengislamkan salah satu orang syiah rafidhoh berkebangsaan Iran. Kemudian ketahuilah bahwa meskipun Allah Ta?ala sudah mengetahui bahwasanya Firaun tidak akan beriman kepada Musa, Allah tetap memerintahkan kepada Musa untuk tetap pergi mendakwahinya. Dakwah ini adalah fardhu kifayah bagi kita semua, apabila tidak ada yang menjalankannya maka kita semua berdosa. Maka kami memanjatkan syukur kepada Allah bahwa masih ada orang yang mau menjalankan tugas ini.

Terakhir saya ingin menanyakan siapa sebenarnya anda ??

Kami adalah golongan yang ditokong ?thoifah manshuroh? yang menetapi manhaj yang telah ditetapkan Nabi saw. Kami adalah firqoh najiah ?golongan yang selamat? sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi saw: ?Sungguh akan datang pada umatku apa yang pernah datang pada bani Israel setapak demi setapak. Bahkan jika bani israel ada yang menyetubuhi ibunya dengan terang-terangan, maka dari umatku juga akan ada yang melakukan itu. Dan sesungguhnya bani israel akan terpecah belah menjadi 72 golongan, dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan semuanya akan masuk neraka, kecuali hanya satu kelompok. Mereka bertanya: ?siapa mereka wahai Rasulullah? Bersabda Nabi: ?Kelompok yang menetapi ajaranku dan para sahabatku ?.

Beliau juga bersabda: ?Orang Yahudi akan pecah menjadi 71 golongan, satu golongan disurga dan yang tujuh puluh masuk neraka. Orang nasrani akan terpecah menjadi 72 golongan, 71 golongan akan masuk neraka dan hanya satu yang masuk surga. Dikatakan kepada Rasulullah: ?siapakah mereka ?? Berkata Nabi: ?mereka adalah Jamaah?.(dikeluarkan oleh ibn Majah, Turmuzi Abu Dawud, Ahmad dan Darimi, dan masih banyak yang lainnya.(

Kami adalah pengikut setia bagi mereka yang difirmankan Allah :

?Dan orang-orang yang berkata sesudah mereka, mereka mengatakan wahai Rob kami ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami beriman, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami sifat dengki terhadap orang-orang yang beriman. Ya Allah Engkau Adalah Maha Pengasih lagi Penyayang?. (QS. Al Hasyr: 10)

Kami adalah kelompok yang meniti jalan pertengahan ?wasathon? kami tidak membeci sahabat Rasulullah saw, sebagaimana dilakukan syiah dan Khowarij. Kami juga tidak menyembah kuburan mereka sebagaimana dilakukan orang-orang sufi. Akan tetapi kami berada di atas sunah Rasulullah dan manhaj para salafus saleh. Ketauhilah kami adalah Ahlus Sunnah wal jama?ah.

——————————————————————————–

[1] Rawafidhul Islam. Rafidhoh artinya kaum penolak, penganut syiah disebut rafidhoh karena menolak kekhilafahan Abubakar.

[2] Lalu siapa tuhanmu wahai Al Jaza?iri?

[3] yang menganut keyakinan kaum extrimis syiah masa lalu.

[4] Yang diyakini oleh kaum muslimin adalah ajaran Islam itu sendiri.

[5] Ajaran yang dibawa oleh orang kafir adalah merupakan kebatilan. Jika sahabat Nabi dianggap kafir, maka dia secara langsung mengkafirkan kaum muslimin, karena kaum muslimin mengikuti. Ajaran sahabat .Dan yang mengikuti ajaran orang kafir adalah kafir.

[6] Bagaimana kita bisa percaya terhadap ajaran yang dibawa oleh orang kafir?

Thinah

Aqidah ini merupakan salah satu wacana syiah yang tersembunyi dan termasuk salah satu diantara aqidah yang harus sangat dirahasiakan khususnya kepada orang-orang awam syiah. Karena seandainya mereka mengetahui akidah ini maka mereka akan melakukan hal-hal yang sifatnya merusak dengan satu keyakinan bahwa balasannya di akherat kelak akan ditanggung oleh orang lain.[1]

Pada awalnya memang aqidah ini merupakan hal yang ditolak dikalangan cendekiawan syiah yang terdahulu, seperti Murtadho dan Ibn Idris. Dikarenakan menurut pandangan mereka ? meskipun beberapa riwayat telah berhasil menyusup ke dalam buku-buku syiah ? akan tetapi hal itu merupakan hadits ahad (tunggal) yang menyelisihi Kitab dan Sunnah dan juga Ijma?, oleh karena itu wajib ditolak.[2]

Akan tetapi sejalan dengan waktu, akhbar tentang hal ini semakin banyak sehingga berkata syeikh mereka Ni?matullah Al Jazairi ( wafat 1112 H): ?Sesungguhnya ulama-ulama kami telah meriwayatkan tentang hal ini dengan sanad yang sangat banyak, maka sudah tidak ada alasan lagi untuk menolaknya. Dan tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa status riwayatnya adalah ahad, akan tetapi sudah menjadi khobar yang mutawatir (banyak jalan periwayatannya)[3]. Al Jaza?iri mengatakan ini sebagai bantahan terhadap mereka yang menolak mempercayai akidah ini.

Kemudian yang tampak mempelopori aqidah ini adalah Syeikh mereka yang bernama Al Kulaini yang menulis sebuah bab tersendiri dalam bukunya: ?Bab Thinatul Mukmin wal Kafir?. Yang terangkum didalamnya tujuh hadits[4]. Kemudian hadits tentang ini semakin banyak sepeninggal Kulaini, hingga Mulla Baqir Majlisi dalam Biharul Anwar mengutip 67 hadits tentang thinah dalam bab yang berjudul ?bab thinah dan perjanjian?[5]. Barangkali para pembaca ingin sekali mengetahui lebih lanjut tentang akidah yang membuat seorang syiah mempunyai berkeyakinan apabila mereka melakukan perbuatan dosa sekecil apapun maka dosanya akan ditanggung oleh ahlussunnah, dan setiap amal saleh yang dikerjakan ahlus sunnah maka pahalanya akan diberikan kepada orang syiah. Oleh karena itu kalangan ulama syiah menyembunyikan hal ini dari orang awam syiah karena satu kekhawatiran apabila hal ini diketahui maka akan banyak terjadi kerusakan di muka bumi (karena kaum syiah akan merasa bebas berbuat apa saja, selama dosanya akan ditanggung oleh ahlussunnah).

Penjelasan terlengkap mengenai akidah ini ada dalam kitab ?Ilalu asysyara?i? karangan Ibnu Babawaih Al Qummi yang memuat penjelasan ini dalam kitabnya sebanyak 5 halaman sekaligus menjadikan bahasan ini sebagai penutup kitabnya[6]. Sementara itu sebagian ulama syiah yang hidup pada saat ini memuji penjelasan Ibnu Babawaih dan menyebutnya sebagai penutup yang baik bagi kitabnya[7]

Ringkasan keyakinan itu adalah bahwasanya kaum syiah diciptakan dari tanah liat* khusus dan orang sunni dicptakan dari tanah liat yang lain. Maka terjadilah percampuran antara keduanya. Jadi apabila terjadi kemaksiatan dikalangan syiah adalah dikarenakan percampurannya dengan thinah sunni, dan apabila dijumpai kebaikan dan amanah yang ada dikalangan sunni merupakan pengaruh dari thinah syiah. Maka nanti dihari kiamat segala keburukan yang dilakukan oleh kaum syiah, akan ditanggungkan kepada orang sunni, dan kebaikan kaum sunni akan diberikan kepada kaum syiah.

Barangkali bisa disimpulkan sebab timbulnya keyakinan semacam ini adalah dikarenakan adanya pertanyaan dan keluhan-keluhan yang dilontarkan kepada para pemuka mereka. Kaum syiah mengeluhkan kaum mereka yang tenggelam dalam kemaksiatan dan dosa-dosa besar dan juga adanya muamalah yang tidak baik yang terjadi di antara mereka serta banyak kegelisahan dan kebimbangan yang tidak diketahui sebabnya. Akan tetapi para ulama syiah berdalih bahwa hal ini disebabkan karena percampuran antara thinah syiah dan thinah sunni pada penciptaan pertama.

Untuk itu marilah kita lihat sebagaian di antara pertanyaan ini yang mengungkap apa yang sebenarnya terjadi pada masyarakat syiah, Ibn Bawabaih meriwayatkan dengan sanadnya dari ibn Ishaq Al Laitsi berkata: ?Saya bertanya kepada Abu Ja?far Muhammad ibn Ali Al Baqir Alaihis salam: Wahai putra Rasulullah, beritahukan kepada kami tentang seorang mukmin yang benar[8], apabila dia sampai pada puncak makrifah dan sempurna mungkinkah dia berzina?? Dia berkata: ?Tidak?. Saya berkata: ?Mungkinkah minum khomer?? Dia berkata: ?Tidak?. Saya bertanya: ?Mungkinkah melakukan salah satu dari dosa besar atau salah satu dari hal yang keji?. Dia berkata ?Tidak?. Saya berkata: ?Wahai putra Rasulullah sesungguhnya saya dapati orang-orang syiah kita meminum khomer, melakukan perampokan dijalan dan menjadi hantu di jalanan, berzina dan melakukan homosex, memakan riba, melakukan perbuatan keji, meremehkan sholat , puasa dan zakat, memutuskan hubungan sillaturrahmi dan banyak memperbuat dosa-dosa besar[9], bagaimana hal ini bisa terjadi pada syiah dan sangat berbeda dengan keadan orang sunni? Dia berkata: ?Wahai Ibrahim adakah sesuatu yang lain yang masih bergejolak dalam hatimu?? Saya berkata: ?Wahai putra Rasulullah! ada beberapa hal yang lebih besar dari itu semua! Dia berkata: ?Apa itu wahai Abu Ishaq?? Berkata: ?Kemudian saya berkata: ?Wahai putra Rasulullah, saya dapati musuh-musuh kalian[10], justru mereka banyak melakukan sholat, puasa dan mengeluarkan zakat. Mereka juga begitu giat melakukan ibadah haji dan umrah, bersemangat melakukan jihad, kebaikan, menyambung sillaturrahmi, memenuhi hak saudaranya, meringankan beban derita mereka dengan harta, menjauhi minuman keras, zina dan homosex serta segala perbuatan keji, bagaimana hal ini bisa terjadi pada mereka dan terjadi sebaliknya pada syiah? Tolong jelaskan hal ini semua kepadaku dengan sejelas-jelasnya. Sungguh hal ini telah banyak memakan fikiranku, membuat aku tidak bisa tidur dan dadaku menjadi sempit[11].

Ini merupakan salah satu pertanyaan kegelisahan yang mengungkap kebobrokan masyarakat syiah yang penuh dengan kemaksiatan bila dibandingkan dengan kenyataan para salaf dan ulama ahlussunnah dan sebagian besar mereka yang dihiasi dengan ketakwaan, amanah dan kebaikan. Pertanyaan ini dijawab dengan jawaban ?Aqidah Thinah?, yaitu bahwa segala kemaksiatan yang terjadi dikalangan syiah bersumber dari kaum sunni sebaliknya kebaikan dan amal saleh yang dilakukan kaum sunni adalah karena tanah liat ?Milik Kaum Syiah?.

Seorang penanya lain bernama Ishaq Al Qummi bertanya pada Abu ja?far: ?Wahai Abu Ja?far, saya melihat seorang mukmin yang sependapat denganku[12], dan mengakui wilayah ahlul bait, dan saya tidak mempunyai masalah dengannya, selalu minum khomer, berzina, melakukan homosex[13], dan jika saya datang kepadanya untuk meminta bantuan maka saya dapati dia murung mukanya, mencerminkan wajah kebencian dan ketidaksenangan, lagi berlambat-lambat dalam membantu keperluanku, tapi sebaliknya, aku melihat seorang nasibi[14] yang berbeda pendapat denganku bahkan tahu jika aku berbeda mazhab dengannya, jika aku mendatanginya untuk meminta bantuan, aku dapati wajahnya berseri-seri, nampak dari wajahnya kegembiraan, dan bersemangat dalam membantuku, merasa gembira dengan membantuku. Dia banyak melakukan sholat, puasa, sedekah dan mengeluarkan zakat, serta jika diberi amanah maka dia menyampaikannya.[15]

Penanya barusan lebih banyak keluhannya tentang buruknya perlakuan antara penganut syiah, sifat tidak amanat yang ada pada mereka sedangkan dia melihat kaum sunni yang notabene adalah musuhnya ternyata lebih baik akhlaknya dari kaum syiah yang notabene adalah temannya sendiri, lebih senang membantu keperluannya dan lebih baik amal ibadahnya.

Seseorang lagi mengeluh pada Abu Abdillah Ja?far Assodiq tentang perasaan gelisah yang tidak diketahui sebabnya: dari Abu Bashir dia berkata: Saya masuk menemui Abu Abdillah bersama seseorang dari teman kami (syiah) lalu aku berkata: Wahai Abu Abdillah, saya selalu merasa gelisah dan sedih tanpa kuketahui sebabnya?.[16]

Rupanya penyebab kegelisahan ini adalah ajaran syiah yang tidak memiliki kejelasan dan penuh kontradiksi, yang diyakini oleh syiah. Tetapi sang imam hanya menejelaskan semua itu dengan akidah thinah ini.

Pertanyaan di atas dan lainnya masih banyak[17], mencerminkan betapa mereka membangun aqidah mereka, muamalah mereka dan akhlak serta agama mereka. Akan tetapi para imam mereka dan pemuka agama mereka berusaha mengelabui pertanyaan dan keluhan-keluhan ini dengan berdalih pada satu aqidah yang mereka namakan dengan thinah. Untuk itu marilah kita lihat jawaban para imam mereka.

Berkata Imam mereka: ?Wahai Ishaq (perowi berita ini) bukankah kamu mengetahui dari mana kamu diciptakan? Saya berkata: ?Demi Allah saya tidak tahu, kecuali kamu memberitahukan hal itu kepadaku. Berkata: ?Wahai Ishaq! Sesungguhnya Allah Ta?ala ketika menyendiri dengan keesaann-Nya, Dia memulai sesuatu dengan tanpa apapun, kemudian Dia mengalirkan air yang segar pada tanah yang baik selama tujuh hari tujuh malam, kemudian memisahkan tanah itu dari air. Kemudian Allah mengambil satu genggaman dari tanah yang bersih itu satu genggam tanah (thinah) yang kemudian Dia jadikan Thinah kita, Thinah ahlul bait. Kemudian Dia ambil dari bawahnya satu genggaman (thinah) dan menjadikannya menjadi thinah syiah. Kalaulah Allah Ta?ala membiarkan thinah syiah tadi sebagaimana adanya, niscaya tidak ada salah seorang diantara mereka yang berzina, minum khomer, mencuri, homosex dan juga tidak akan melakukan seperti apa yang kamu sebutkan tadi. Akan tetapi Allah Ta?ala mengalirkan air yang asin pada tanah yang terlaknat selama 7 hari, lalu memisahkan air dari tanah itu, lalu Dia mengambil segenggam dari tanah itu, yaitu thinah yang terlaknat berwarna hitam dan berbau busuk, yaitu thinah musuh kita. Dan kalaulah Allah Ta?ala membiarkan thinah ini sebagaimana dia mengambilnya. Niscaya kamu tidak akan melihat mereka berakhlak seperti manusia dan tidak akan bersyahadat, mereka tidak akan puasa, tidak akan sholat dan juga tidak akan melakukan haji. Akan tetapi Allah Ta?ala mencampur kedua air tadi, maka apabila kamu melihat dari saudara kamu perkataan yang tidak baik, mereka melakukan zina, atau apapun seperti yang kamu sebutkan, mulai dari minum khomer dan yang lainnya, hakekatnya hal itu bukan dari asli mereka dan juga bukan dari iman mereka. Akan tetapi pada hakekatnya hal itu adalah pengaruh dari kaum Nasibi (orang sunni) yang melakukan keburukan sebagaimana yang kamu sebutkan. Adapun kebaikan-kebaikan yang dilakukan kalangan sunni, mulai dari akhlak yang baik, sholat, puasa, shodaqah, atau haji pada hakekatnya bukan merupakan asli mereka, akan tetapi merupakan pengaruh keimanan yang mereka dapatkan.

Kemudian saya berkata: ?Lantas bagaimana nanti di hari akhir? Dia berkata kepadaku: ?Wahai Ishaq, adakah Allah akan mengumpulkan kebaikan dan keburukan dalam satu tempat? Apabila datang hari kiamat maka Allah akan mengambil berkas keimanan dari mereka kemudian dikembalikan kepada pemiliknya yang asli. Dan segala sesuatu akan kembali pada unsurnya yang pertama… Kemudian saya bertanya: ?Apakah kebaikan mereka akan diambil dan dikembalikan kepada kita? Dan apakah keburukan kita akan dikembalikan kepada mereka? Berkata: ?Ya, demi Allah yang tidak Ilah kecuali Dia[18].

Inilah aqidah Thinah. Dan pada bagian akhir dituliskan: ?Ambilah pengertian ini bersamamu wahai Abu Ishaq, demi Allah sesungghnya dia adalah termasuk orang yang menyembunyikan rahasia kita. Dan pergilah dan jangan diceritakan kepada siapapun kecuali seorang mukmin yang mustabshir[19] karena jika kamu sebarkan kepada manusia artinya kamu akan mendatangkan bencana bagi diri kamu sendiri, pada harta, keluarga dan anak kamu sekalian?[20].

Maka hal ini sebagaimana kita saksikan merupakan aqidah yang sangat rahasia, maka apakah akan terlintas di benak pencetus aqidah ini bahwasanya akan terkuak di tangan kaum sunni kemudian menyebarluaskannya pada khalayak sebagai sebuah kebusukan…?

Bantahan terhadap keyakinan ini :

– Pertama, Riwayat yang saling bertentangan, sebagaimana anda lihat dalam pertanyaan dan keluhan diatas, bahwasanya orang syiah adalah kaum yang tenggalam dan kemaksiatan dan kemungkaran, mempunyai muamalah yang buruk dan akhlak yang bejat, lantas bagaimana mungkin dia merupakan makhluk yang diambilkan dari thinah yang bersih dan merupakan ciptaan yang paling suci?

– Kedua, Allah Ta?ala telah menciptakan manusia semuanya berada pada fitrah Islam berfirman Allah Ta?ala:

?Maka hadapkanlah wajahmu pada din yang hanif ini, yang merupakan fitrah dari Allah yang telah diberikan kepada kepada manusia . Tidak ada perubahan dalam ciptaan Allah dan itulah agama yang lurus…..? (Arrum: 30)

– Ketiga, Dalam masalah thinah ini, syiah berarti telah memakai faham bahwa manusia terikat atas apa yang dikerjakannya dengan sebuah takdir, manusia tidak memiliki pilihan. Yang mana perbuatan manusia berdasarkan thinah awalnya Padahal madzhab mereka menyatakan bahwa manusia mampu menciptakan perbuatannya sendiri sebagaimana madzhab mu?tazilah.

– Keempat, riwayat-riwayat tentang thinah ini menyatakan bahwa keburukan dan kemaksiatan yang dilakukan kalangan syiah akan dibebankan dosanya kepada kaum sunni dan kebaikan yang telah dikerjakan kamu muslimin pahalanya akan diberikan kepada kaum syiah. Hal ini jelas sekali bertentangan dengan keadilan Allah dan juga berlawanan dengan akal sehat dan fitrah manusia. Dan sangat berlawanan dengan ayat-ayat berikut:

Artinya :?Dan seseorang tidak akan memikul dosa orang lain. ? (Al An?am: 164)

Artinya: ?Setiap jiwa dengan apa yang telah dikerjakannya terikat.? (Al Mudatsir: 38)

Artinya: ?Barangsiapa yang beramal kebaikan seberat biji sawi maka Allah akan melihatnya, dan barangsiapa yang melakukan keburukan seberat biji sawi, maka Allah akan mengetahui.? (Al Zalzalah: 7-8)

Artinya: ?Pada hari ini akan dibalas setiap diri dengan apa yang telah diperbuatnya, tidak ada kezaliman pada hari itu.? (Ghafir: 17)

Makalah ini menyatakan tentang kebusukan mereka, cukup menggambarkan bagaimana kerusakan aqidah mereka, madzhab syiah imamiyah. Sampai sekarang kaum syiah tidak malu untuk menyatakan tentang aqidah ini maka bisa didapati hal ini dalam buku mereka ?Biharul Anwar? dan dalam ?Al Anwar Nu?maniyah? yang dikomentari oleh pakar syiah yang menyatakan keridhoannya terhadap aqidah sesat ini.

Kita selalu menanti bantahan resmi dari hauzah ilmiyah di Qum maupun Najaf, bahwa syiah tidak meyakini keyakinan yang dijelaskan di atas. Karena hanya hauzah ilmiyah lah yang memiliki kredibilitas dan kapabalitas untuk membantahnya, bukannya orang-orang yang baru masuk syiah 7 atau 10 tahun yang lalu.

[1] Al Anwar Annu?maniyyah jilid 1 hal 295

[2] Al Anwar Annu?maniyyah jilid 1 hal 293

[3] Al Anwar Annu?maniyyah jilid 1 hal 293

[4] Usulul Kafi , jilid 2 hal 2-6

[5] Biharul Anwar jilid 5 hal 225-276

[6] Ilalu Asysyara?i? hal 606-610

[7] Biharul Anwar jilid 5 hal 233 (Footnote)

*thinah berarti tanah liat, Allah menciptakan manusia dari tanah liat. Jadi tanah liat syiah dan tanah liat sunni berbeda.

[8] Maksudnya adalah orang penganut syiah

[9] Inilah ciri-ciri ?pengikut ahlul bait?

[10] Maksudnya adalah penganut Ahlussunnah

[11] Ilalusyara?i? hal 606-607 Biharul Anwar jilid 5 hal 228-229

[12] Maksudnya bermazhab syiah.

[13] Rupanya perbuatan-perbuatan di atas sudah menjadi kebiasaan ?pengikut ahlul bait? sejak jaman Imam Abu Ja?far Muhammad Al Baqir.

[14] Maksudnya adalah orang yg bermazhab sunni

[15] Ilalusysyara?i? hal 489-490, Biharul Anwar jilid 5 hal 246-247

[16] Biharul Anwar jilid 5 hal 242 yang menyandarkan riwayat ini pada Ilalusyara?i? hal 42.

[17] Bisa anda lihat di buku Al Kafi dan Biharul Anwar dalam bab thinah

[18] Ilalusyara?i? hal 490-491, Biharul Anwar jilid 5 hal 247-248

[19] maksdunya adalah orang syiah

[20] Ilalusyara?i? hal 610, Biharul Anwar jilid 5 hal 233

Apakah Imam Benar-Benar Maksum?

Pertanyaan πŸ˜• Apakah yang dimaksud dengan ishmah ? Dan apakah pengertian ishmah di kalangan syiah ??

Jawabannya singkat πŸ˜• Maksudnya adalah seorang imam terjaga dari perbuatan dosa baik yang kecil maupun yang besar, tidak menyimpang dan tidak salah dalam menjawab pertanyaan, tidak lalai, tidak lupa dan tidak bersenang-senang dengan dunia, sebagaimana disebutkan dalam Mizanul Hikmah juz 1 hal 174.

Demikian pula pendapat syiah tentang Nabi yang, sebagaimana dikutip dalam buku Aqoid Imamiyah hal 51 yang dikatakan bahwa πŸ˜• Kita berkeyakinan bahwa Imam seperti halnya para Nabi haruslah maksum/terjaga dari segala bentuk sifat yang rendah baik yang nampak maupun tidak nampak. Demikian pula terjaga dari kelalaian, kesalahan, dan lupa dikarenakan para imam merupakan penjaga syariat dan penegaknya, keadaan mereka adalah sebagaimana keadaan para Nabi.

Dan sebelum kita lanjutkan pembahasan tentang hal ini marilah kita mengkaji tentang ishmah yang ada pada para Nabi

Seorang mukmin tidak akan ragu dan seorang yang cerdas pasti akan meyakini bahwa para Nabi merupakan makhluk yang paling mulia, sering kita dengar πŸ˜• Bahwasanya tidak ada yang terjaga dari perbuatan dosa kecuali para Nabi ? perkataan ini benar akan tidak mutlak seratus persen .

Janganlah anda merasa heran dengan pernyataan saya diatas maksud pernyataan saya adalah πŸ˜• Bahwasanya para Nabi terkadang melakukan kesalahan dan dosa kecil akan tetapi mereka segera akan diluruskan dan mereka akan segera bertaubat. Maka mereka lebih sempurna dibanding sebelum bertobat . Untuk itu marilah kita lihat beberapa ayat berikut

– yang berhubungan dengan Nabi Adam as, Allah berfirman yang artinya :

? Dan sungguh-sungguh telah Aku Adam telah berjanji pada kami sebelumnya akan tetapi dia lupa?. (QS Toha 115)

– Demikian pula ketika mengomentari Rasulullah saw : ?Wahai Nabi kenapa engkau haramkan apa-apa yang Allah halalkan kepada kamu demi untuk mendapatkan kerelaan istri kamu, dan Allah adalah Dzat Yang Maha Pengampun dan Penyayang? (QS Tahrim: 1)

– Dan ingat pula nasehat yang ditujukan kepada Nabi saw ?Allah telah memaafkan kamu tentang apa-apa yang telah kamu ijinkan kepada mereka sehingga menjadi jelaslah siapa yang benar dan siapa yang mendustakan ?. (QS Attaubah: 43)

– Demikian pula firman Allah ta?ala :

? Sungguh Kami telah memberimu kemenangan yang nyata. Untuk mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang.? (QS Al Fath: 1)

Pembaca yang budiman, kami mohon maaf apabila hal ini mengejutkan anda , adakah anda memperhatikan ayat-ayat di atas ???

Maka akan jelaslah bahwa ishmah yang secara mutlak dari sifat lalai, salah dan dosa kecil tidak akan terjadi walaupun pada diri para Nabi. Maka sekali lagi anda jangan heran, kebenaran lebih berhak untuk diikuti meskipun perasaan menolak. Teliti kembali ayat-ayat di atas dan kembalilah pada akal, jangan ikuti hawa nafsu.

Bahkan aqidah ini pada mulanya bukan berasal dari ajaran syiah sebagaimana dikutip dalam Biharul Anwar juz 25 hal 350 yang mana seseorang bertanya kepada Imam ArRidho yang merupakan imam We?re kedelapan yang menurut syiah adalah maksum : ? Sesungguhnya di Kufah ada sekelompok kaum yang meyakini bahwa Nabi saw tidak pernah lupa dalam sholatnya . Maka dia berkata πŸ˜• Mereka dusta, sesungguhnya yang tidak pernah lupa hanya Allah semata?. Maka perhatikanlah bagaimana jawaban Imam ArRidho yang menunjukkan bahwa keyakinan ishmah ini muncul di kemudian hari, jauh setelah masa para imam Syiah.

Selanjutnya mari kita perhatikan ucapan Ibnu Babawaih dalam bukunya Man la Yahdhuruhul Faqih jili 1 halaman 234 πŸ˜• Sesungguhnya kaum extrimis -semoga mereka dilaknat Allah- mengingkari bahwa Nabi saw pernah lupa dalam sholatnya. Mereka mengatakan πŸ˜• Seandainya Nabi lupa dalam sholatnya niscaya beliau juga lupa dalam menyampaikan risalah, karena sholat merupakan kewajiban sebagaimana menyampaikan risalah pada manusia… Dan bukanlah lupanya Nabi saw sebagaimana lupanya kita karena lupanya beliau merupakan lupa yang berasal dari Allah, Dia membuat Nabi lupa untuk menjelaskan bahwa Nabi juga seorang manusia dan tidak disembah, dan juga untuk mengajari manusia bagaimana hukum lupa dalam sholat. Syeikh Muhammad ibn Hasan ibn Ahmad ibn Walid berkata πŸ˜• sikap pertama yang terlihat orang yang ghuluw (berlebihan) adalah mengingkari sifat lupa dari diri Nabi saw ?.

Maka amat jauhlah pengertian ucapan ini dengan apa yang ditulis dalam Biharul Anwar juz 25 hal 350-351 πŸ˜• Sesungguhnya ulama mazhab kami telah bersepakat tentang ishmah para imam dari segala bentuk dosa yang kecil maupun yang besar sengaja maupun tidak sengaja , atupun karena lupa sejak mereka lahr sampai mereka bertemu dengan Allah ta?ala ?.

Maka demi Allah akan kita dapai banyak kejanggalan dan pertentangan diberbagai tempat dalam buku ini. Bahkan Al Majlisi mengatakan dalam Biharul Anwar j.25 h. 351:? Permasalahan ini sangat pelik dan rumit dikarenakan banyaknya dalil yang menyatakan terjadinya kelalaian dari para Nabi, dan kesepakatan para ulama mazhab (syiah) bahwa hal itu tidak boleh terjadi bagi para Nabi ?.

Dan hendaknya pembaca yang budiman memperhatikan kehidupan amirul mukminin (Ali) Dan bacalah apa yang beliau katakan dalam kitab Nahjul Balaghoh. 335 πŸ˜• Janganlah kamu bergaul denganku dengan apa-apa yang dibuat-buat dan janganlah kamu sangkakan padaku bahwa aku akan menolak kebenaran yang disampaikan demi mencari harga diri Sesungguhnya orang yang merasa berat ketika disampaikan padanya kebenaran , atau keadilan ketika di hadapkan kepadanya, maka menerapkan kebenaran dan keadilan akan terasa berat baginya. Janganlah kamu berdiam dari mengatakan kebenaran dan dari memberikan pendapat demi keadilan. Sesungguhnya aku tidak merasa bahwa aku tidak pernah salah, dan perbuatanku tidaklah lepas dari kesalahan ?.

Imam Ali juga menyatakan tentang kewajiban mengangkat seorang imam yang ditaati demi kemaslahatan negara dan masyarakat. Beliau tidak mensyaratkan bahwa imam itu harus seorang yang maksum tidak pernah berbuat dosa . Hal ini disebutkan dalam Nahjul Balaghoh h.82 πŸ˜• Manusia wajib memiliki seorang pemimpin baik dia itu sholeh maupun orang fasik yang mengatur urusan orang mukmin , mengumpulkan fai?, memerangi musuh, menjaga keamanan dan membantu orang yang lemah.

Kemudian marilah kita lihat pernyataan berdosa yang diunggkapkan oleh Amirul Mukminin πŸ˜• Ya Allah ampunilah daku atas apa yang Kamu lebih mengetahuinya dari diriku, Jika aku mengulanginya, maka ampunilah aku lagi, ya Allah ampunilah daku atas apa-apa yang aku janjikan sedang aku tidak dapat memenuhinya , Ya Allah ampunilah daku atas apa-apa yang aku berusaha mendekat kepada-Mu dengan lisanku akan tetapi aku ingkari dengan hatiku, Ya Allah ampunilah segala kesalahan, dalam ucapanku dan syahwat anggota tubuhku?.

Oh oh Maka seandainya Imam Ali dan para imam yang lainnya maksum niscaya permohonan ampun mereka hanyalah sebuah permainan dan perbuatan yang tak ada gunanya.

Dan seluruh imam hampir bisa dilihat permohonan ampunan mereka dari kemaksiatan dan dosa . Diantaranya Abu Abdullah berkata dalam Biharul Anwar j.25 h. 207 πŸ˜• Sesungguhnya kami melakukan dosa dan kesalahan kemudian kami bertaubat pada Allah dengan sebenar-benarnya ?.

Contoh yang lain adalah Abul Hasan Musa al Kazhim berkata dalam Biharul Anwar j.25 h. 203 πŸ˜• Rabbi aku telah bermaksiat kepada-Mu dengan lisanku jika Kamu menghendaki niscaya Kamu bisukan daku, Rabbi aku telah bermaksiat kepadaMu dengan mataku jika Kamu menghendaki niscaya Kamu butakan daku, Rabbi Aku telah bermaksiat dengan pendengaranku jika Kamu menghendaki Kamu tulikan daku ?

Jika anda merasa bingung setelah membaca doa-doa di atas, yang tidak sesuai dengan kemaksuman, maka sebelum anda telah banyak mereka yang bingung dan terpaksa menerima walaupun hatinya tidak dapat percaya. Seseorang berpikir tentang hal ini sebagaimana tercantum dalam Biharul Anwar jilid 25 halaman 203-205 ? saya berfikir tentang doa ini, bagaimana mazhab syiah yang berpendapat bahwa para imam adalah maksum terjaga dari kesalahan bertentangan dengan riwayat-riwayat bahwa mereka meminta ampun pada Allah atas dosa yang mereka perbuat? Kemudian dia bertanya pada Radhiyyuddin Ali bin Musa bin Towus tentang hal ini, lalu dijawab sebagai berikut ? bahwa menteri Muayyiduddin AL Alqomi pernah bertanya padaku lalu kujawab : mereka berdoa seperti itu untuk memberi pelajaran pada manusia?

Rupanya Al Alqomi telah puas dengan jawaban itu tapi si penanya membantah jawaban Ibnu Towus dan berkata : ?para imam mengatakan doa itu ketika sedang sujud saat sholat malam dan tidak di depan murid-muridnya?(sehingga tidak mungkin mereka mengatakan itu untuk memberi pelajaran pada muridnya). Si penanya menambahkan ? lalu tiba-tiba terpikir olehku sebuah jawaban, yaitu mereka mengatakan itu karena sikap tawadhu? yg ada pada diri mereka?. Tapi jawaban itu masih belum dapat membuatnya puas lalu dia akhirnya mendapatkan jawaban yang ?pasti? bahwa kesibukan para imam dengan perbuatan mubah seperti makan, minum dan menikah dianggap sebagai dosa dan mereka meminta ampun pada Allah atas dosa-dosa itu?. Selanjutnya dia berkata bahwa jawaban di atas adalah jawaban terakhir, serta mengharap Al Alqomi bisa hidup lagi agar dapat diberitahu jawaban terakhirnya itu. Tapi ternyata jawaban terakhirnya itu bertentangan dengan Ajaran Islam yang melarang ummatnya menempuh kehidupan pendeta yaitu tidak makan, tidak menikah dan tidak menikmati kehidupan dunia yang diperbolehkan :

?Katakanlah siapa yang mengharamkan perhiasan Allah yang ada di muka bumi dan mengharamkan rizki yang baik?? (Q.S. Al A?raf 32)

Bagaimana para imam menganggap pernikahan yang dianjurkan oleh Agama Islam sebagai sebuah dosa ? padahal Allah berfirman dalam AL Qur?an :

?Nikahilah perempuan kamu senangi dua, tiga atau empat? )QS Annisa? 3.)

Bagaimana para imam menganggap makan dan minum sebagai perbuatan maksiat dan dosa? Padahal Allah berfirman :

?…Makanlah rizki kami yang baik…? (Al Baqoroh 172)

Jika pembaca menginginkan jawaban yang pasti dari persoalan yang pelik ini, jawabannya ada pada syariat islam, yaitu bahwa ajaran syiah yang mengatakan bahwa para imam adalah maksum, terjaga dari kesalahan adalah ajaran dan keyakinan yang salah. Dan para imam tidaklah terjaga dari perbuatan dosa dan lupa, juga hal ini sesuai dengan nas nas syar?i dan realita kehidupan para imam, dengan inilah mereka dapat dijadikan suri tauladan.

Satu hal lagi yang membantah ajaran syiah di atas adalah perbedaan pendapat dan kontradiksi yang ada pada kehidupan para imam, bahkan di antara para imam itu ada yang memberikan jawaban yang berlawanan, membuat sebagian orang keluar dari syiah. Contoh yang sangat jelas dapat kita saksikan antara perbuatan Hasan dan Husein. Jika perdamaian yang dilakukan oleh Hasan dengan Muawiyah, padahal dengan jumlah tentaranya yang banyak adalah benar, berarti perbuatan Husein, yaitu berperang melawan bani Umayyah padahal Husein dalam keadaan lemah dan tentaranya sedikit hingga dia dan seluruh tentaranya mati terbunuh adalah batil dan bukanlah sebuah kewajiban bagi Husein, karena Husein lebih layak dari Hasan untuk berdamai dengan Yazid, dan lebih dibolehkan untuk tidak memerangi Yazid karena jumlah tentaranya yang sedikit. Tapi jika peperangan yang dilakukan oleh Husein dengan jumlah tentaranya yang sedikit merupakan kebenaran maka perdamaian yang dilakukan oleh Hasan dengan tentaranya yang berjumlah banyak adalah sebuah perbuatan dosa.

Pembaca yang budiman, saya tidak ingin memperpanjang permasalahan ini dan membahasnya dari segala sisi. Akan tetapi saya cukupkan sebagai tanda dan peringatan yang kami paparkan supaya akal kita bisa lebih menghakimi dengan penuh kesabaran dan bijaksana. Dan jangan terburu mengikuti apa yang menjadi kehendak perasaan yang lebih mengalahkan akal dan menutupinya. Dan kami mengingatkan penyebab kehancuran bagi satu kaum , firman Allah πŸ˜• Sesungguhnya kami dapati bapak-bapak kami telah berada dalam satu ajaran, dan kami mengikuti jejak mereka ?

Peringatanku……

Sesungguhnya engkau akan mati sendirian, dibangkitkan sendirian dan akan dibalas dengan apa yang telah anda perbuat maka selamatkanlah diri kalian sendiri.

?Dan berpegang teguhlah kamu di jalan Allah dan jangan bercerai berai…? (Al Imron : 103)
Yang dimaksud adalah bersandar dengan kitabullah dan apa yang telah ditetapkan Rasulullah saw .

Ulama Syiah dan Al Quran

Segala puji bagi Allah Pemilik alam semesta, sholawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi dan utusan yang mulia Muhammad, keluarganya yang bersih dan suci juga kepada siapa saja yang meningkuti jejak langkahnya sampai hari kebangkitan nanti, amma ba?du,

Kata-kata ini saya tuliskan untuk anda dengan penuh rasa kecintaan yang mendalam. Dengan kecintaan inilah saya berusaha mengkomunikasikan apa yang saya tulis kepada anda sekalian. Dan saya khususkan anda dengan tulisan ini dikarenakan anda adalah yang memiliki akal yang cerdas yang akan mengutamakannya dari hanya sekedar ikut-ikutan pada hal-hal yang jelas salah.

Dan apa yang saya katakan adalah kebenaran yang berdasarkan pada dalil-dalil dan hujjah. Sehingga akan mudah bagi anda untuk menguak kebatilan dan kerancuannya. Saya tidak akan membahas masalah ini denga basa-basi tapi inilah kebenaran. Masalah ini sangat pelik bagi mereka yang hanya ikut-ikutan tanpa bukti yang benar, tapi bagi anda yang pandai akan sangat mudah, karena hanya dengan sekedar membaca akan tampak jelas kebatilan dan kerapuhan dasar-dasarnya, karena anda adalah pembaca yang memiliki pemahaman.

Masalah ini diyakini oleh kebanyakan ulama syiah, juga termaktub dalam kitab-kitab induk mereka dan yang merupakan keyakinan pokok bagi pengikut faham syiah, keyakinan itu adalah ?Al Quran telah mengalami perubahan ?.

Maksudnya adalah, bahwasanya Al Quran yang sekarang ada sudah tidak asli, sudah dirubah dan diganti. Quran yang sekarang sudah tidak seperti quran yang diturunkan Allah pertama kali.

Aqidah ini bukan merupakan perkataan atau rekayasa saya, akan tetapi merupakan aqidah dan keyakinan yang saya ambilkan dari buku-buku ulama syiah, ahli hadits mereka dan dari mereka yang memliki pengaruh. Tugasku disini hanyalah memindahkan saja dari sumber-sumber mereka kehadapan anda sekalian, sehingga hanya dengan memaparkannya saja saya yakin akan dengan mudah anda akan bisa menguak kebatilannya. Bagaimana tidak bukanlah Allah ta?ala telah berfirman :

?Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al quran dan Kamilah yang akan menjaganya ? (QS. Al Hijr: 9)

Disini Allah berjanji bahwa Dia-lah yang akan menjaganya, akan tetapi aqidah syiah justru mengatakan bahwa al Qur?an tidak terpelihara.. Allah juga berfirman :

?Tidak datang kebatilan dari hadapannya dan juga tidak dari belakangnya, dia adalah diturunkan dari Dzat Yang Maha Bijaksana dan Maha Terpuji.? (QS. Fushilat: 42)

Ini adalah sekedar peringatan dariku. Marilah kita semua berdoa memohon pada Allah agar diberi petunjuk ke jalan yang benar, memohon agar ditampakkan kebenaran pada kita sebagai kebenaran, dan memberi petunjuk kita untuk mengikuti kebenaran, dan memohon agar ditampakkan kebatilan pada kita sebagai kebatilan dan memberi petunjuk pada kita untuk menjauhinya.

Akan tetapi aqidah syiah justru mengatakan bahwa al Quran penuh kebatilan.

Pembaca yang budiman, sebelum kami paparkan keyakinan mereka tentang al Qur?an ini, kami ingin paparkan terlebih dahulu riwayat hidup para ulama syiah tersebut, sehingga kita bisa mengetahui sejauh mana kedudukan, ketinggian ilmu, pengaruh, dan kewenangan mereka dikalangan penganut faham syiah. Dan terbukti bahwasanya mereka bukanlah sosok manusia yang biasa, akan tetapi mereka adalah para pemimpin dan yang memiliki otoritas dan bahkan ada yang termasuk peletak dasar faham syiah. Marilah kita ikuti pemaparan riwayat hidup mereka yang juga kami ambilkan dari buku-buku syiah :

1. Abul Hasan Ali ibn Ibrahim al Qummi, wafat 307 H, dia adalah pengarang kitab tafsir yang bernama al Qummi

Berkata al Majlisi ?Ali ibn Ibrahim ibn Hasyim, Abul Hasan al Qummi ,darinya para imam meriwayatkan. Termasuk syeikh yang besar . Banyak kitab biografi menulis tentang kebesaran dan kejujurannya. An Najasyi berkata πŸ˜• Terpercaya dalam hadits, mazhabnya lurus . ( muqodimah al Bihar 128)

Berkata Syeikh Thoyyibul Musawi dalam muqodimah kitab tafisrnya: ?Tidak disangsikan lagi bahwa kitab tafsir ini merupakan kitab tafsir yang paling awal yang sampai di tangan kita. Kalaulah bukan karena tafsir ini, ilmu tafsir tidak akan berkembang, dan tidak akan menjadi rujukan bagi para penulis, berapa banyak kitab tafisir yang ada merujuk pada kitab ini, seperti as Shofi, Majma?ul Bayan dan al Burhan. … Kemudian dia berkata: ?Dia adalah tafsir Rabbani, penerang, memiliki makna yang dalam, indah bahasanya, nihil dari kesalahan. Kitab ini tidak ditulis kecuali oleh seorang yang tinggi ilmunya dan tidak akan memahaminya kecuali mereka yang ilmunya tinggi. (dalam muqodimah tafsir al Qummi oleh Thoyyin Musawi al Jazairi hal. 14-16

Barangkali dengan penjelasan ini cukuplah menjadi pejelas sejauh mana ketinggian pengaruh dan posisinya dan posisi kitab tafsirnya dikalangan syiah.

2. Abu Ja?far Muhammad ibn Ya?kub .ibn Ishaq al Kulaini wafat 328 H , diantara karyanya adalah al Kafi.

Berkata ath Thusi: ?Muhammad ibn Ya?kub al Kulaini yang diberi gelar Abu Ja?far al A?war.. Pengaruhnya besar dan seorang alim besar.

Berkata Ardabili: ?Muhammad ibn Ya?kub ibn Ishaq Abu Ja?far al Kulaini Pamannya bernama Allan al Kulaini ar Razi, dia adalah mazhab kami di jamannya, dia adalah orang yang paling terpercaya dalam bidang hadits . Dia mengarang kitab al Kafi ketika masih berumur 20 tahun. (dalam Jamiur Ruwat 2/218, al Hulli hal. 145)

Berkata AghoBazrak Thohrani: ?Kitab al Kafi merupakan kitab hadits yang penting diantara kitab induk aqidah yang empat. Tidak ada kitab yang serupa dengannya yang berisi riwayat dari keluarga Rasulullah . (dalam Dzariah 17/245)

3. Muhammad Baqir al Majlisi wafat 1111 H diantara karyanya adalah ?Biharul Anwar al Jamiah Lidurarii Akhbar Aimmatil Athar? juga kitab ?Miratul Uqul fii Syarhi Akhbaril Rasul?, juga kitab ?Jalaul ?Uyun?, juga kitab ?Arbain? dan yang lainnya. Berkata Ardabili: ?Dia adalah ustadz dan syeikh kami dan syeikhnya kaum muslimin, penutup para mujahid, imam besar yang alim, disegani, terpandang, tidak ada duanya, terpercaya, karyanya sangat bagus. Kelebihann-kelebihannya sangat sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Dia memliki sebuah karya besar berjudul ?Biharul Anwar ? yang memaparkan tentang biografi para imam-imam dan juga syarahnya, sebuah kitab besar yang isinya mendekati satu juta baris (dalam Jamiur ruwat 2/78-79 dan tanqihul Maqol karya Mamaqoni 2/85)

4. Abu Abdillah Muhammad ibn Muhammad ibn Nukman yang masyhur dengan Al Mufid wafat tahun 413 H diantara karyanya adalah buku ?Al Irsyad?, ?Amali al Mufid?, ?Awailul Maqolat? dan yang lainnya.

Berkata Yusuf al Bahrani dalam kitab Lu?luatul Bahrain hal 356-357 :… dia adalah syeikh kaum syiah, pemimpin dan ustadz mereka, kelebihannya sangat besar sekali dan tidak bisa diungkapkan, orang-orang setelahnya banyak mengambil manfaat dari ilmunya.

Berkata Abbas Qummi: ?Syikhya para syaikh yang agung, pemimpin para imam, yang menghidupkan syariat, Menara bagi agama. Terkumpul pada dirinya keutamaan, seorang yang faqih, adil, terpercaya, menjawab persoalan dengan, riwayatnya luas, ahli dalam periwayatan, para perawi dan syair. Dia adalah ahli hadits yang terpercaya pada masanya, ahli dalam fiqh dan ilmu kalam. Banyak yang mendapatkan manfaat darinya di kemudian hari. (Al Kuna wal Alqob jilid 3 hal 164)

5. Husain Muhammad Taqiyuddin an Nuri ath Thobrusi wafat 1320 H dintara karyanya adalah : ?Mustadrak Wasail?, ?Fashul Khithob fii Itsbat Tahrifil Kitabil Rabil Arbab?.

(kitab yang komprehensif yang memaparkan didalamnya bahwa terjadi peyimpangan dalam al Quran yang periwayatannya disandarkan para imam Syiah dipaparkan disana ratusan hadits ).

Berkata Aghabazrak ath Thohrani : dia adalah salah satu imam hadits, dia juga merupakan ulama terkemuka syiah dan ulama islam di abad ini…. dia adalah salah satu sosok ulama salafusholeh yang tidak ada tandingannya. Dia punya kepandaian, dan dia adalah salah satu dari ayat-ayat Allah yang luar biasa. Tersimpan dalam dirinya bakat-bakat yang menakjubkan, seluruh hidupnya dia persembahkan demi agama dan madzhab syiah. Sepanjang hidupnya merupakan lembaran yang cemerlang yang dihiasi dengan amalan-amalan saleh. Diantara hasil karyanya adalah: ?Fashlul Khithob fii Masalati Tagrifil Kitab?. (Nuqaba?ul Basyar jilid 2 hal 5)

Pembaca yang budiman , inilah sebagian dianatara biografi sebagian ulama syiah yang nantinya akan kami nukilkan sebagian pendapat mereka tentang tahriful quran atau penyimpangan al Quran. Dan jika anda menginginkan informasi yang lebih lengkap anda bisa mengkaji kitab-kitab mereka sehingga anda lebih bisa mengerti banyak. Untuk itu marilah kita simak pendapat-pendapat mereka ini:

1. Nash pertama, diambilkan dari Qummi dalam tafsirnya pada jilid 1 hal 10, dia berkata: ?Diantara yang bukan firman Allah ta?ala adalah ayat ?Kuntum khoiro ummah? Berkata Abu Abdillah kepada pembaca ayat ini ?khoiro ummah (ummat terbaik)?? sedangkan mereka membunuh amirul mukminin dan membunuh Hasan dan Husain. Maka dikatakan kepadanya: ?Lantas bagaimana sebenarnya ayat itu diturunkan? Dia berkata: ?Kuntum khoiro aimmah (kamu adalah sebaik-baik imam)? bukankah kamu tidak melihat pujian Allah yang terdapat di akhir ayat ini ? takmuruna bil makruf wa tanhauna ?anil munkar wa tu?minuna billahi? (kalian ber amar ma?ruf dan nahi mungkar serta beriman pada Allah).

Contoh lainnya adalah ayat yang dibacakan kepada Abu Abdullah: ?Alladzina yaquluna rabbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrata a?yun waj?alna lilmuttaqin imama? Abu Abdillah berkata: ?Sungguh mereka telah meminta kepada Allah sesuatu yang besar, yaitu meminta supaya dijadikan imam bagi orang-orang yang bertaqwa. Lantas bagaimana sebenarnya ayat tersebut diturunkan? ?waj?al lana minal muttaqina imama ( ya Allah jadikanlah buat kami seorang imam dari kalangan orang yang bertaqwa )?.

Kemudian diantara yang di tahrif/ dirubah adalah πŸ˜• (ayat)

2. Al Kulaini menyebutkan dalam al Kafi 1/457. Dari Abu Bashir dari abi abdillah berkata: ?Sungguh kami mempunyai sebuh Mushfah yang namanya Mushfah Fathimah, taukah anda apa mushaf Fathimah itu ? Dia berkata: Mushaf Fathimah adalah seperti tiga kali Quran kamu sekalian, demi Allah tidak ada didalamnya satu hurufpun yang tertulis dalam Quranmu (sunni)?.

3. Al Kulaini juga menyebutkan dalam al Kafi, 4/456, Dari Hisam ibn Salim dari Abi Abdillah berkata: ?Sesungguhnya Al Quran yang diturunkan Jibril a.s kepada Muhammad saw jumlahnya adalah 17 ribu ayat. Dan perlu kita ketahui bahwa ayat yang dalam al Quran jumlahnya hanya enam ribuan ayat. Jadi, perbedaannnya sangat jauh.

4. Dalam al Kafi juga disebutkan 4/433, Dari Muhammad ibn Salman dari sebagian sahabatnya dari Abi Hasan berkata: ?Saya berkata kepadanya: ?Sesungguhnya kami mendengar ayat-ayat al Quran yang tidak biasa kami dengar sebagaimana dalam quran kami, dan kami juga tidak pandai membacanya sebagaimana kamu sekalian , apakah kami berdosa ? Dia berkata πŸ˜• Tidak, akan datang nantinya orang yang akan mengajarkan?.

5. Dalam al Kafi jilid 1 hal 441disebutkan :

Dari Jabir: ?saya mendengar Abu Ja?far berkata: Setiap orang yg mengatakan bahwa dia telah mengumpulkan seluruh Al Qur?an adalah pembohong, tidak ada yang memiliki seluruh Al Qur?an dan menghafalnya kecuali Ali dan para imam sesudahnya?.

6. Berkata Abu Hasan al Amili dalam muqoddimah yang kedua, bagian ke-empat dalam tafsir Miratul Anwar wa Misykatul Asrar: ?menurutku sudah sangat jelas perkataan bahwa al Quran telah diubah dan di ganti. Setelah saya meneliti, bisa saya katakan bahwa keyakinan itu merupakan dhoruriyah dalam madzha syiah. Dan bisa dikatakan bahwa tujuannya adalah untuk merampas kekholifahan?.

7. ?Ayasyi meriwayatkan dalam tafsirnya, juz 1 hal. 25. Dari Abi Ja?far bahwasanya dia berkata: ?kalaulah tidak ada tambahan dan pengurangan dalam Kitabullah niscaya kebenaran yang kita miliki tidak akan tertutup.

8. Berkata Haj Karim al Kirmani yang diberi gelar Mursyidul Anam dalam bukunya ?irsyadul Awam juz. 3 hal 221 dalam bahasa Parsi: ?Setelah Imam Mahdi muncul dan membacakan al Quran dia berkata: ?wahai kaum muslimin inilah al Quran yang sesungguhnya yang telah diturunkan kepada Muhammad dan yang telah dubah dan diganti ?.

9. Berkata Mulla Muhammad Taqiy al Kasyani dalam buku Hidayatuth Tholibin hal 368 dalam bahasa Parsi: ?Utsman memerintahkan kepada sahabatnya Zaid ibn Tsabit yang merupakan musuh Imam Ali supaya mengumpulkan al Quran dan menghapus darinya ayat tentang keluarga ahlul bait. Dan al Quran yang sekarang ini tersebar luas yang terkenal dengan sebutan mushfah utsmani adakah mushaf yang sama dengan mushaf dari utsman.

Setelah kita membaca sebagian pendapat ulama-ulama besar syiah, bahkan merupakan dasar aqidah madzhab mereka. Pertanyaannya, adakah disana ada ulama kalangan syiah yang membantahnya? Jawabannya adalah ada, Disini kami tidak akan melakukan diskriminasi, semua pendapat akan kami kemukakan. Diantara ulama yang membantah kepercayaan ini ? bahwa al Quran sudah diubah dan diganti ? adalah: (Abu Ja?far ath Thusi, Abu Ali ath Thobrusi penulis majmaul Bayan, Syarif Murtadho, Abu Ja?far ibn Bawabaih al Qummi (ash Shiddiq)). Dan diantara yang menyebutkan jajaran ulama ini adalah an Nui ath Thobrusi dalam bukunya Fashlul Khithob fii itsbat tahrifi Kitab Rabbil Arbab hal 23, dia berkata: ?Perkataan bahwasanya al Quran yang tersebar luas dikalangan manusia adalah tidak mengalami perubahan dan bahwasanya apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad adalah seperti yang sekarang terdapat ditangan manusia adalah pendapat ash Shoduq, Sayyid Murtadho, Syeikh Thoifah ath Thusi dalam tibyan dan para ulama terdahulu banyak yang tidak sepakat dengannya ?.

Berkata pula Nikmatullah al Jazairi dalam bukunya Anwar Nukmaniyah juz.2 hal 357: ?Kami memang mengakui ada sahabat kami- semoga Allah meridhoi mereka ? telah sepakat tidak ada perubahan dalam Al Quran , diantara mereka adalah ash Shoduq, Murtadho, Syeikh Thobrusi mereka menetapkan bahwa al Quran yang ada adalah mushaf yang asli yang tidak ada didalamnya perubahan dan penyimpangan?.

Pertanyaan dan Jawaban, Apakah motivasi mereka sehingga mereka mengatakan bahwa al Quran tidak mengalamai perubahan dan penyimpangan, sebagaimana dikatakan pendahulu mereka apakah memang benar-benar karena dorongan aqidah ataukah karena sekedar melakukan taqiyah? Yang mana dikatakan bahwa: ?Seseorang yang tidak bertaqiyah maka dia tidak beriman?. (9 dalam ushulul Kafi juz 2 hal 222)[1]

Jawabannya adalah, sangat disayangkan adalah karena taqiyyah..Hal ini sebagaimana dikatakan An Nuri Ath Thobrosi dalam bukunya πŸ˜• Tidak diherankan bagi yang memperhatikan bahwa pembahasannya akan berujung pada kecenderungan memihak mereka yang mengakui bahwa al Quran telah mengalami perubahan ?.

[1] Salah satu kaedah dalam berhubungan dengan orang bermazhab syi?ah, pasti dia melakukan taqiyah, karena jika tidak bertaqiyah maka dia tidak beriman alias kafir.

Sejarah Syiah

Di bawah ini adalah ringkasan sejarah kelompok rofidhoh, kanker yang menggerogoti umat islam, akan kita bahas peristiwa penting dalam sejarah mereka dengan menyebutkan peristiwa yang secara langsung berkaitan dengan mereka.

14 H. peristiwa yang terjadi pada tahun 14 H inilah pokok dan asas dari kebencian kaum rofidhoh terhadap Islam dan kaum muslimin, karena pada tahun ini meletus perang Qodisiyyah yang berakibat takluknya kerajaan persia majusi,nenek moyang kaum rofidhoH. Pada saat itu kaum muslimin dibawah kepemimpinan Umar bin Khottob Radhiyallahu Anhu.

16 H. Kaum muslimin berhasil menaklukkan ibukota kekaisaran persia, Mada?in. dengan ini hancurlah kerajaan persia. Kejadiaan ini masih disesali oleh kamum rafidhoh hingga saat ini.

23 H. Abu Lu?lu?ah Al Majusi yang dijuluki Baba Alauddin oleh kaum rofidhoh membunuh Umar bin Khottob Radhiyalahu Anhu.

34 H. Munculnya Abdullah bin saba?, si yahudi dari yaman yang dijuluki Ibnu sauda? berpura2 masuk Islam, tapi menyembunyikan kekafiran dalam hatinya. Dia menggalang kekuatan dan melancarkan provokasi melawan khalifah ketiga Utsman bin Affan Radhiyalahu Anhu hingga dibunuh oleh para pemberontak karena fitnah yang dilancarkan oleh ibnu sauda?(abdullah bin saba?) pada tahun 35 H. Keyakinan yang diserukan oleh abdullah bin saba? berasal dari akar yahudi nasrani dan majusi yaitu menuhankan Ali bin Abi Tolib Radhiyalahu Anhu, wasiat, roj?ah,wilayah, keimamahan , bada? dan lain-lain.

36 H. Malam sebelum terjadinya perang jamal kedua belah pihak telah bersepakat untuk berdamai. Mereka bermalam dengan sebaik2 malam sementara Abdullah bin saba? dengan konco-konconya bermalam dengan penuh kedongkolan. Lalu dia membuat provokasi kepada kedua belah pihak hingga terjadilah fitnah seperti yang diinginkan oleh ibnu saba?. Pada masa kelhilafahan Ali bin Abi Tolib kelompok abdullah bin saba? datang kepada Ali bin Abi Tolib Radhiyalahu Anhu seraya berkata ?kamulah, kamulah !!? Ali bin Abi Tolib menjawab :?siapakah saya?? kata mereka ?kamulah sang pencipta !!? lalu Ali bin Abi Tolib menyuruh mereka untuk bertobat tapi mereka menolak. Kemudian Ali bin Abi Tolib menyalakan api dan membakar mereka.

41 H. tahun ini adalah tahun yang dibenci oleh kaum rofidhoh karena tahun ini dinamakan tahun jama?ah atau tahun persatuan karena kaum muslimin bersatu dibawah pimpinan kholifah Mu?awiyah bin Abi Sufyan Radhiyalahu Anhu sang penulis wahyu karena Hasan bin Ali bin Abi Tolib menyerahkan kekhilafahan kepada mu?awiyah, dengan ini maka surutlah tipu daya kaum rofidhoH.

61 H. Pada tahun ini Husein bin Ali terbunuh di karbala setelah ditinggal oleh penolongnya dan diserahkan kepada pebunuhnya.

260 H. Hasan Al Askari meninggal dan kaum rofidhoh menyangka bahwa imam ke 12 yang ditunggu-tunggu telah bersembunyi di sebuah lobang di samurra? dan akan kembali lagi ke dunia.

277 H. Munculnya gerakan rofidhoh qoromitoh yang didirikan oleh Hamdan bin Asy?ats yand dikenal dengan julukan qirmit di kufaH.

278 H. Munculnya gerakan qoromitoh di bahrain dan ahsa? yang dipelopori oleh Abu Saad Al Janabi

280 H. Munculnya kerajaan rofidhoh zaidiyah di So?dah dan San?a di negeri Yaman yang didirikan oleh Husein bin Qosim Arrossi.

297 H. Munculnya kerajaan ubaidiyin di mesir dan maghrib(maroko) yang didirikan oleh Ubaidillah bin Muhammad Al Mahdi.

317 H. Abu Tohir Arrofidhi Al Qurmuti masuk ke kota mekah pada hari tarwiya (8 Dzulhijjah)dan membunuh jamaah haji di masjidil Haram serta mencongkel hajar aswad dan membawanya ke ahsa? hingga kembali lagi pada tahun 355 H. Kerajaan mereka tetap eksis di ahsa? hingga tahun 466 H. Pada tahun ini berdirilah kerajaan Hamdaniyah di mousul dan halab dan tumbang pada tahun 394 H.

329 H. Pada tahun ini Allah telah menghiakan kaum rofidhoh karena pada tahun ini dimulailah ghoibah al kubro atau menghilang selamanya. Karena menurut mereka imam rofidhoh ke 12 telah menulis surat dan sampai kepada mereka yang bunyinya : telah dimulailah masa menghilangku dan aku tidak akan kembali sampai masa diijinkan oleh Allah, barangsiapa yang berkata dia telah berjumpa denganku maka dia adalah pembohong. Semua ini supaya menghindar dari paertanyaan orang awam kepada ulama mereka tentang terlambatnya imam mahdi keluar dari persembunyiannya.

320-334 H. Munculnya kerajaan rofidhoh buwaihi di dailam yang didirikan oleh buwaih bin syuja?. Mereka membuat kerusakan di baghdad. Pada masa mereka orang2 bodoh mulai berani memaki2 sahabt Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam.

339 H. Hajar aswad dikembalikan ke mekkah atas rekomendasi dari pemerintahan ubaidiyah di mesir.

352 H. Pemerintahan buwaihi menutup pasar2 tanggal 10 muharrom serta meliburkan semua kegiatan jual beli, maka keluarlah wanita2 tanpa mengenakan jilbab dengan memukul diri mereka di pasar. Pada saat itu pertama kali dalam sejarah diadakan perayaan kesedihan atas meninggalnya husein bin Ali bin Abi Tolib.

358 H. Kaum rofidhoh Ubaydiy menguasai mesir. Salah satu pemimpinya yang terkenal adalah Al Hakim biamrillah yang mengatakan bahwa dirinya adalah tuhan dan menyeru kepada pendapat reinkarnasi. Dengan ambruknya kerajaan ini tahun 568 H muncullah gerakan Druz.

402 H. Keluarnya pernyataan kebatilan nasab fatimah yang digembar gemborkan oleh penguasa kerejaan ubaidiyah di mesir dan menjelaskan ajaran mereka yang sesat dan mereka adalah zindiq dan telah dihukumi kafir oleh seluru ulama? kaum muslimin.

408 H. Penguasa kerajaan ubaidiyah di mesir yangb ernama Al Hakim biamrillah mengatakan bahwa dirinya adalah tuhan. Salah satu dari kehinaannya adalah dia berniat untuk memindahkan kubur Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam dari kota medinah ke mesir sebanyak 2 kali. Yang pertama adalah ketika dia disuruh oleh beberapa orang zindik untuk memindahkan jasad Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam ke mesir. Lalu dia membangun bangunan yang megah dan menyruh Abul Fatuh untuk membongkar kubur Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam lalu masyarakat tidak rela dan memberontak membuat dia mengurungkan niatnya. Yang kedua ketika mengutus beberapa orang untuk membongkar kuburan Nabi. Utusan ini tinggal didekat mesjid dan membuat lobang menuju kubur Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam. Lalu makar mereka ketahuan dan utusan tersebut dibunuH.

483 H. Munculnya gerakan Assasin yang menyeru kepada kerajaan ubaidiyah di mesir didirikan oleh hasan Assobah yang memiliki asal usul darah persia. Dia memulai dakwahnya di wilayah persia tahun 473 H.

500 H. Penguasa ubaidiyun membangun sebuah bangunan yang megah diberi nama mahkota Husein. Mereka menyangka bahwa kepala husein bin ali bin abi tolib dikuburkan di sana. Hingga saat ini banyak kaum rofidhoh yan gberhaij ke tempat tersebut. Kita bersyukur kepada Allah atas nikmat akal yang diberikan kepada kita.

656 H. Penghianatan besar yang dilakukan oleh rofidhoh pimpinan Nasiruddin Al Thusi dan Ibnul Alqomi yang bersekongkol dengan kaum tartar mongolia agar masuk ke baghdad dan membunuh 2 juta muslim dan banyak dari bani hasyim yang seolah2 dicinai oleh kaum rofidhoH. Pada tahun yang sama muncullah kelompok Nusairiyah yang didirikan oleh Muhammad bin Nusair.

907 H. Berdirinya kerajaan Safawiyah di iran yang didirikan oleh shah ismail bin haidar al safawi yang juga seorang rofidhoh. Dia telah membunuh hampir 2 juta muslim yag menolak memeluk mazhab rofidhoh. Pada saat masuk ke baghdad dia memaki khulafa? rosyidin di depan umum dan membunuh mereka yang tidak mau memeluk mazhab rofidhoh. Tak ketinggalan pula dia membongkar banyak kuburan orang sunni seperti Abu HanifaH. Termasuk peristiwa penting yang terjadi pada masa kerajaan sofawiyah adalah ketika shah abbas berhaji ke masyhad untuk menandingi haji di mekah. Pada tahun yang sama sodruddin al syirozi memulai dakwahnya kepada mazhab baha?iyah. Mirza ali muhammad al syirozi mengatakan bahwa Allah telah masuk ke dalam dirinya, setelah mati dia digantikan oleh muridnya Baha?ullah. Sementara itu di india muncul kelompok Qodiyaniyah pimpinan Mirza Ghulam Ahmad yang mengatakan bahwa dirinya dalah Nabi. Kerajaan safawiyah berakhir pada tahun 1149 H.

1218 H. Seorang rofidhoh dari irak daang ke dar?iyah di najd dan menampakkan kesalehan dan kezuhudan. Pada suatu hari dia solat di belakang imam muhammad bin su?ud dan membunuhnya ketika dia sedang sujud saat solat asar dengan belati. Semoga Allah memerangi kaum rofidhoh para pengkhianat.

1289 H. Pada tahun ini buku fashlul khitob fi tahrifi kitabi robbil arbab (penjelasan bahwa kitab Allah telah diselewengkan dan diubah) karangan Mirza Husain bin Muhammad Annuri Attobrosi . kitab ini memuat pendapat rofidhoh bahwasanya Al Qur?an yang ada saat ini telah diselewengkan, dikurangi dan ditambah.

1389 H. Khomeini menulis buku Wilayatul faqih dan AL Hukumah AL IslamiyaH. Sebagian kekafiran yang ada pada buku tersebut (Al Huykumah AL Islamiyah hal 35) : khomeini berkata bahwa termasuk hal pokok dalam mazhab kita adalah bawah para imam kita memiliki posisi yang tidak dapat dicapai oleh para malaikat dan para Nabi.

1399 H. Berdirinya pemerintahan rofidhoh di Iran yang didirikan oleh Khomeini setelah berhasil menumbangkan pemerintahan syah iran. Ciri khas negara ini adalah mengadakan demonstrasi dan tindakan anarkis atas nama revolsi Islam di tanah suci mekah pada hari mulia yaitu musim haji.

1400 H. Khomeini menyampaikan pidatonya pada peringatan lahirnya imam mahdi fiktif mereka pada tanggal 15 sya?ban. Sebagian pidatonya berbunyi demikian : para Nabi diutus Allah untuk menanamkan prinsip keadilan di muka bumi tapi mereka tidak berhasil, bahkan Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam yang diutus untuk memperbaiki kemanusiaan dan menanamkan prinsip keadilan tidak berhasil.. yang akan berhasil dalam misi itu dan menegakkan keadilan di muka bumi dan meluruskan segala penyimpangan adalah imam mahdi yang ditunggu-tunggu…. begitulah menurut khomeini para Nabi telah gagal, termasuk Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam … sementara revolusi kafirnya telah berhasil.

1407 H. Jamaah haji iran mengaakan demonstari besar-besaran di kota mekah pada hari jum?at di musim haji tahun 1407. mereka melakukan tindakan perusakan di kota mekah seperti kakek mereka kaum qoromitoh, mereka membunuh beberapa orang aparat keamanan dan jamaah haji, merusak dan membakar toko, merusak dan membakar mobil beserta mereka yang berada di dalamnya. Jumah korban saat itu mencapai 402 orang tewas, 85 dari mereka adalah aparat keamanan dan penduduk saudi.

1408 H. Mu?tamar Islam yang diadakan oleh Liga Dunia Islam di mekah mengumumkan fatwa bahwa khomeini telah kafir.

1409 H. Pada musim haji tahun ini kaum rofidhoh meledakkan beberapa tempat sekitar masjidil haram di kota mekah. Mereka meledakkan bom itu tepat pada tanggal 7 Dzulhijjah dan mengakibatkan tewasnya seorang jamaah haji dari pakistan dan melukai 16 orang lainnya serta mengakibatkan kerusakan bangunan yang sangat besar. 16 pelaku insiden itu berhasil ditangkap dan dijatuhi hukuman mati pada tahun 1410 H.

1410 H. Khomeini meninggal dunia, semoga Allah memberinya balasan yang setimpal. Kaum Rofidhoh membangun sebuah bangunan yang menyerupai kakbah di mekah, semoga Allah memerangi mereka.

Mengenal Syiah

Kemunculan Firqoh(kelompok) Rofidhoh dimulai ketika munculnya seorang Yahudi dari yaman bernama Abdullah bin Saba?yang berpura2 masuk islam dan berpura2 mencintai Ahlul bait Nabi Sallalahu Alaihi Wasallam, bersikap berlebihan terhadap Ali bin Abi Tolib Rodhiallahu Anhu, mendakwakan bahwa Nabi telah mewasiatkan kepada Ali bin Abi Tolib untuk menjadi khalifah setelah wafatnya nabi lalu menganggapnya sebagai Tuhan, hal ini diakui oleh buku2 syiah.

Dalam buku Al Maqolat wal Firoq hal 10-21 : Al Qummi mengakui keberadannya dan menganggap ibnu saba? sebagai orang pertama yang mengatakan bahwa nabi telah mewasiatkan kepada Ali untuk menjadi imam , bahwa Ali akan kembali lagi ke dunia setelah wafat, dan orang pertama yang memulai mencela dan memaki Abu Bakar, Umar, Utsman dan seluruh sahabat nabi. Hal ini seperti dikemukakan Naubakhti dalam bukunya Firoqusyi?ah hal 19-20. Al Kisyi juga mengemukakan hal yang sama dalam bukunya Rijalul Kisyi hal 106-108. pengakuan adalah bukti yang terkuat dan mereka adalah pemuka ulama rofidhoh.

Sebab penamaan mereka dengan Syi?ah Itsna asyriyyah.(dua belas)
Dari 12 imam yang dianggap imam oleh Rofidhoh sbb:
Ali bin Abi Tolib Rodhiyallahu Anhu yang mereka juluki dengan Al Murtadho, khulafa Rosyidin ke 4, menantu Rasululah saw, mati dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljim si Khawarij di masjid Kufah tahun 17 Romadhon 40 H.
Hasan bin Ali Radhiyallahu Anhuma yang dijuluki almujtaba.
Husein bin Ali Radhiyalahu Anhuma yang dijuluki syahid.
Ali Zainal Abidin bin Husein (80-122) yang dijuluki Al sajjad.
Muhammad Al baqir bin Ali Zainal Abidin (meninggal th 114 H) yang dijuluki Al Baqir.
Ja?far Assodiq bin Muhammad Al Baqir (meninggal th 148 H) dijuluki Assodiq.
Musa Al Kazim bin Ja?far Assodiq (meninggal th 183 H) dijuluki Al Kazim.
Ali Arridho bin Musa AL Kazim (meninggal th 203 H)dijuluki Arrodhiy.
Muhammad Al Jawwad bin Ali Arridho (195 H-226H)dijuluki Attaqiy.
Ali Al Hadi bin Muhammad Al Jawad (212-254 H) dijuluki Annaqiy.
Hasan Al Askari bin Al Alhadi (232-260 H) dijuluki Azzakiy.
Muhammad Al Mahdiy bin Hasan Al Askari, tidak diketahui kapan dilahirkan, ada yang berpendapat bahwa dia belum mati tapi menghilang di sirdaab. Dijuluki sebagai Alhujjah yang ditunggu2 dan kita Ahlussunnah menjulukinya dengan mahdi palsu.

Mereka menyangka bahwa Imam mahdi tersebut telah menghilang di sebuah lobang di rumah ayahnya di Samurra? di Irak dan tidak pernah keluar lagi. Terjadi perselisihan mengenai waktu menghilangnya mahdi tersebut. Ada yang berpendapat dia berumur 4 tahun saat menghilang, ada yang berpendapat bahwa diamenghilang umur 8 tahun. Tetapi kebanyakan peneliti dan ulama berpendapat bahwa imam ke dua belas tersebut meamng tidak pernah ada, hanya merupakan karangan orang syi?ah saja.

Sebab Penamaan mereka sebagai Rofidhi
Kata Rofdh secara bahasa memiliki makna menolak.[1]
Rafidhoh secara istilah bermakna: sebuah firqoh(kelompok) yang menyatakan diri mendukung dan cinta ahlul bait nabi Sallalahu Alaihi Wasallam dengan memusuhi Abu Bakar dan Umar serta para sahabat kecuali beberapa orang, mengkafirkan mereka dan mencela/memaki para sahabat.

Imam Ahmad bin Hambal berkata Rofidhoh adalah mereka yang memusuhi sahabat nabi Sallalahu Alaihi Wasallam, yang memaki2 dan menghina mereka.[2] Abdullah bin Ahmad berkata : “aku bertanya kepada ayahku tentang Rofidhoh maka dia menjawab bahwa mereka adalah yang memaki Abu Bakar dan Umar.”[3]

Imam Abu Qosim Attaimiy yang dijuluki dengan pembela sunnah tentang Rofidhoh: “mereka adalah yang memaki Abubakar dan Umar Rodhiyallahu Anhuma, semoga Allah meridhoi mereka berdua dan para pecinta mereka berdua.”[4]
Tidak ada kelompok lain selain Rofidhoh yang mencela Abu Bakar dan Umar, ini adalah karena besarnya kehinaan mereka, semoga mereka dimusuhi Allah.
Syeikhul Islam Ibnu Taymiyah berkata: “Hanya Rofidhoh yang memusuhi dan melaknat Abu Bakar dan Umar, tidak ada selain mereka yang membenci kedua sahabat tersebut.”[5]

Dalam literatur Rafidhoh telah dijelaskan bahwa cinta kepada Abubakar dan Umar adalah batasan yang membedakan mereka dengan kelompok lain yang mereka sebut sebagai Nawasib. Darrazi meriwayatkan dari Muhammad bin Ali bin Musa: “Aku menulis surat kepada Ali bin Muhammad Alaihissalam[6] tentang Nasibi apakah perlu untuk mengujinya/mengetahuinya dengan lebih jauh dari sekedar mendahulukan Jibt dan Toghut[7] (daripada Ali) dan meyakini bahwa mereka berdua adalah Imam? Maka beliau menjawab bahwa siapa saja yang begitu berarti nasibi.”[8]

Sementara itu kebanyakan ilmuwan berpendapat bahwa sebab mereka disebut Rofidhoh adalah karena mereka menolak Zaid bin Ali dan keluar dari tentaranya setelah sebelumnya mereka adalah tentara Zaid bin Ali saat beliau memberontak kepada Khalifha Hisyam bin Abdul Malik tahun 121 H setelah mereka mengumumkan permusuhan terhadap Abubakar dan Umar lalu dilarang oleh Zaid.

Abul Hasan Al Asy?ari berkata : Zaid bin Ali berpendapat bahwa Ali adalah sahabat yang paling utama dan berpendapat boleh memberontak kepada pemerintahan yang zolim serta mencintai Abubakar dan Umar. Setelah muncul orang yang memaki abubakar dan Umar di kalangan tentaranya maka dia memarahi mereka. Lalu sebagian tentaranya menolak perkataan Zaid dan memisahkan diri dari kelompoknya lalu Zaid berkata: “Kalian telah menolakku (rofadhtumuunii)”, maka dikatakan bahwa mereka disebut sebagai Rofidhoh karena perkataan zaid di atas.[9]

Qowamussunah[10], Arrozi[11], Syihristani[12], Ibnu Taymiyyah[13] juga berpendapat demikian. Sementara itu Abul Hasan Al Asy?ari memiliki pendapat lain, yaitu mereka diseut rofidhoh karena menolak kepemimpinan Abubakar dan Umar.[14] Kaum Rofidhoh sangat tidak senang dengan sebutan ini dan berpendapat bahwa julukan ini (rofidhoh) adalah sebutan yang berasal dari musuh mereka. Muhsin Al Amin berkata ?Rofidhoh adalah ejekan kepada mereka yang mengutamakan Ali bin Abi Tolib dalam khilafah dan kebanyakan digunakan untuk ejekan?.[15]

Oleh karena itu mereka menyebut diri mereka sebagai syi?ah dan dikenal luas dengan sebutan ini, serta memebuat beberapa cendikiawan tepengaruh dan menyebut mereka dengan sebutan syi?ah. Pada hakekatnya istilah syi?ah sendiri bermaknan umum yaitu mereka yang membela atau masuk dalam golongan seseorang. Memang Mereka secara nampak masuk dalam golongan Ali bin Abi Tolib tapi mereka menolak kepemimipinan Abubakar dan Umar serta menolak kebenaran maka mereka sebenarnya adalah rofidhoh, dan inilah sebutan yang harus kita gunakan untuk menyebut mereka.

——————————————————————————–

[1] Qamus AL Muhith, Fairuz Abadi 2/332, Maqayiis Allughoh, Ibnu Faris 2/422.
[2] Tobaqot AL Hanabilah Ibn Abi Ya?la 1/33
[3] Riwayat Al Khollal dalam kitab Assunnah no 777 dengan sanad sohih menurut peneliti kitab tsb.
[4] Al Hujjah fi bayan Al mahajjah 2/478
[5] Majmu? Fatawa 4/435
[6] Abul Hasan Ali AlHadi bin Muhamad Al Jawad salah seorang Imam Syi?ah.
[7] Yang dimaksud adalah Abubakar dan Umar. Disebutkan dalam tafsir Al Ayyasyi 1/246 dalam keterangan surat
Annisa? ayat 51.
[8] Al Mahasin Anifsaniyyah karangan Muhamad AL Asfur Addarrozi hal. 145.
[9] Maqolatul Islamiyiin 1/137
[10] Alhujjah fi bayanil mahajjah. 2/478
[11] I?tiqod Firoqul Muslimin wal Musyrikin. Hal. 52.
[12] AL Milal wannihal 1/155
[13] Minhajussunnah 1/8 Majmu? Fatawa 13/36.
[14] Maqolatul Islamiyin 1/89
[15] A?yanu Syi?ah 1/20

Membongkar Kesesatan Syiah

Serupa tapi tak sama. Barangkali ungkapan ini tepat untuk menggambarkan Islam dan kelompok Syi?ah. Secara fisik, memang sulit dibedakan antara penganut Islam dengan Syi?ah. Namun jika ditelusuri -terutama dari sisi aqidah- perbedaan di antara keduanya ibarat minyak dan air. Sehingga, tidak mungkin disatukan.

Apa Itu Syi?ah?
Syi?ah menurut etimologi bahasa Arab bermakna: pembela dan pengikut seseorang. Selain itu juga bermakna: Setiap kaum yang berkumpul di atas suatu perkara. (Tahdzibul Lughah, 3/61, karya Azhari dan Tajul Arus, 5/405, karya Az-Zabidi. Dinukil dari kitab Firaq Mu?ashirah, 1/31, karya Dr. Ghalib bin ?Ali Al-Awaji)
Adapun menurut terminologi syariat bermakna: Mereka yang menyatakan bahwa Ali bin Abu Thalib lebih utama dari seluruh shahabat dan lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin, demikian pula anak cucu sepeninggal beliau. (Al-Fishal Fil Milali Wal Ahwa Wan Nihal, 2/113, karya Ibnu Hazm)
Syi?ah, dalam sejarahnya mengalami beberapa pergeseran. Seiring dengan bergulirnya waktu, kelompok ini terpecah menjadi lima sekte yaitu Kaisaniyyah, Imamiyyah (Rafidhah), Zaidiyyah, Ghulat, dan Isma?iliyyah. Dari kelimanya, lahir sekian banyak cabang-cabangnya. (Al-Milal Wan Nihal, hal. 147, karya Asy-Syihristani)
Dan tampaknya yang terpenting untuk diangkat pada edisi kali ini adalah sekte Imamiyyah atau Rafidhah, yang sejak dahulu hingga kini berjuang keras untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin. Dengan segala cara, kelompok sempalan ini terus menerus menebarkan berbagai macam kesesatannya. Terlebih lagi kini didukung dengan negara Iran-nya.
Rafidhah , diambil dari yang menurut etimologi bahasa Arab bermakna , meninggalkan (Al-Qamus Al-Muhith, hal. 829). Sedangkan dalam terminologi syariat bermakna: Mereka yang menolak imamah (kepemimpinan) Abu Bakr dan ?Umar c, berlepas diri dari keduanya, dan mencela lagi menghina para shahabat Nabi ?. (Badzlul Majhud fi Itsbati Musyabahatir Rafidhati lil Yahud, 1/85, karya Abdullah Al-Jumaili)
Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata: ?Aku telah bertanya kepada ayahku, siapa Rafidhah itu? Maka beliau menjawab: ?Mereka adalah orang-orang yang mencela Abu Bakr dan ?Umar?.? (Ash-Sharimul Maslul ?Ala Syatimir Rasul hal. 567, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah)
Sebutan ?Rafidhah? ini erat kaitannya dengan Zaid bin ?Ali bin Husain bin ?Ali bin Abu Thalib dan para pengikutnya ketika memberontak kepada Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan di tahun 121 H. (Badzlul Majhud, 1/86)
Asy-Syaikh Abul Hasan Al-Asy?ari berkata: ?Zaid bin ?Ali adalah seorang yang melebihkan ?Ali bin Abu Thalib atas seluruh shahabat Rasulullah, mencintai Abu Bakr dan ?Umar, dan memandang bolehnya memberontak1 terhadap para pemimpin yang jahat. Maka ketika ia muncul di Kufah, di tengah-tengah para pengikut yang membai?atnya, ia mendengar dari sebagian mereka celaan terhadap Abu Bakr dan ?Umar. Ia pun mengingkarinya, hingga akhirnya mereka (para pengikutnya) meninggalkannya. Maka ia katakan kepada mereka:

?Kalian tinggalkan aku?? Maka dikatakanlah bahwa penamaan mereka dengan Rafidhah dikarenakan perkataan Zaid kepada mereka ?Rafadhtumuunii.? (Maqalatul Islamiyyin, 1/137). Demikian pula yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu? Fatawa (13/36).
Rafidhah pasti Syi?ah, sedangkan Syi?ah belum tentu Rafidhah. Karena tidak semua Syi?ah membenci Abu Bakr dan ?Umar sebagaimana keadaan Syi?ah Zaidiyyah.
Rafidhah ini terpecah menjadi beberapa cabang, namun yang lebih ditonjolkan dalam pembahasan kali ini adalah Al-Itsna ?Asyariyyah.

Siapakah Pencetusnya?
Pencetus pertama bagi faham Syi?ah Rafidhah ini adalah seorang Yahudi dari negeri Yaman (Shan?a) yang bernama Abdullah bin Saba? Al-Himyari, yang menampakkan keislaman di masa kekhalifahan ?Utsman bin Affan.2
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: ?Asal Ar-Rafdh ini dari munafiqin dan zanadiqah (orang-orang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran, pen). Pencetusnya adalah Abdullah bin Saba? Az-Zindiq. Ia tampakkan sikap ekstrim di dalam memuliakan ?Ali, dengan suatu slogan bahwa ?Ali yang berhak menjadi imam (khalifah) dan ia adalah seorang yang ma?shum (terjaga dari segala dosa, pen).? (Majmu? Fatawa, 4/435)

Sesatkah Syi?ah Rafidhah ?
Berikut ini akan dipaparkan prinsip (aqidah) mereka dari kitab-kitab mereka yang ternama, untuk kemudian para pembaca bisa menilai sejauh mana kesesatan mereka.

a. Tentang Al Qur?an
Di dalam kitab Al-Kaafi (yang kedudukannya di sisi mereka seperti Shahih Al-Bukhari di sisi kaum muslimin), karya Abu Ja?far Muhammad bin Ya?qub Al-Kulaini (2/634), dari Abu Abdullah (Ja?far Ash-Shadiq), ia berkata : ?Sesungguhnya Al Qur?an yang dibawa Jibril kepada Muhammad ? (ada) 17.000 ayat.?
Di dalam Juz 1, hal 239-240, dari Abu Abdillah ia berkata: ??Sesungguhnya di sisi kami ada mushaf Fathimah ?alaihas salam, mereka tidak tahu apa mushaf Fathimah itu. Abu Bashir berkata: ?Apa mushaf Fathimah itu?? Ia (Abu Abdillah) berkata: ?Mushaf 3 kali lipat dari apa yang terdapat di dalam mushaf kalian. Demi Allah, tidak ada padanya satu huruf pun dari Al Qur?an kalian??.?
(Dinukil dari kitab Asy-Syi?ah Wal Qur?an, hal. 31-32, karya Ihsan Ilahi Dzahir).
Bahkan salah seorang ?ahli hadits? mereka yang bernama Husain bin Muhammad At-Taqi An-Nuri Ath-Thabrisi telah mengumpulkan sekian banyak riwayat dari para imam mereka yang ma?shum (menurut mereka), di dalam kitabnya Fashlul Khithab Fii Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab, yang menjelaskan bahwa Al Qur?an yang ada ini telah mengalami perubahan dan penyimpangan.

b. Tentang shahabat Rasulullah
Diriwayatkan oleh Imam Al-Jarh Wat Ta?dil mereka (Al-Kisysyi) di dalam kitabnya Rijalul Kisysyi (hal. 12-13) dari Abu Ja?far (Muhammad Al-Baqir) bahwa ia berkata: ?Manusia (para shahabat) sepeninggal Nabi, dalam keadaan murtad kecuali tiga orang,? maka aku (rawi) berkata: ?Siapa tiga orang itu?? Ia (Abu Ja?far) berkata: ?Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifari, dan Salman Al-Farisi?? kemudian menyebutkan surat Ali Imran ayat 144. (Dinukil dari Asy-Syi?ah Al-Imamiyyah Al-Itsna ?Asyariyyah Fi Mizanil Islam, hal. 89)
Ahli hadits mereka, Muhammad bin Ya?qub Al-Kulaini berkata: ?Manusia (para shahabat) sepeninggal Nabi dalam keadaan murtad kecuali tiga orang: Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifari, dan Salman Al-Farisi.? (Al-Kafi, 8/248, dinukil dari Asy-Syi?ah Wa Ahlil Bait, hal. 45, karya Ihsan Ilahi Dzahir)
Demikian pula yang dinyatakan oleh Muhammad Baqir Al-Husaini Al-Majlisi di dalam kitabnya Hayatul Qulub, 3/640. (Lihat kitab Asy-Syi?ah Wa Ahlil Bait, hal. 46)
Adapun shahabat Abu Bakr dan ?Umar, dua manusia terbaik setelah Rasulullah ?, mereka cela dan laknat. Bahkan berlepas diri dari keduanya merupakan bagian dari prinsip agama mereka. Oleh karena itu, didapati dalam kitab bimbingan do?a mereka (Miftahul Jinan, hal. 114), wirid laknat untuk keduanya:

Ya Allah, semoga shalawat selalu tercurahkan kepada Muhammad dan keluarganya, laknatlah kedua berhala Quraisy (Abu Bakr dan Umar), setan dan thaghut keduanya, serta kedua putri mereka?(yang dimaksud dengan kedua putri mereka adalah Ummul Mukminin ?Aisyah dan Hafshah)
(Dinukil dari kitab Al-Khuthuth Al-?Aridhah, hal. 18, karya As-Sayyid Muhibbuddin Al-Khatib)
Mereka juga berkeyakinan bahwa Abu Lu?lu? Al-Majusi, si pembunuh Amirul Mukminin ?Umar bin Al-Khaththab, adalah seorang pahlawan yang bergelar ?Baba Syuja?uddin? (seorang pemberani dalam membela agama). Dan hari kematian ?Umar dijadikan sebagai hari ?Iedul Akbar?, hari kebanggaan, hari kemuliaan dan kesucian, hari barakah, serta hari suka ria. (Al-Khuthuth Al-?Aridhah, hal. 18)
Adapun ?Aisyah dan para istri Rasulullah ? lainnya, mereka yakini sebagai pelacur -na?udzu billah min dzalik-. Sebagaimana yang terdapat dalam kitab mereka Ikhtiyar Ma?rifatir Rijal (hal. 57-60) karya Ath-Thusi, dengan menukilkan (secara dusta) perkataan shahabat Abdullah bin ?Abbas terhadap ?Aisyah: ?Kamu tidak lain hanyalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan oleh Rasulullah?? (Dinukil dari kitab Daf?ul Kadzibil Mubin Al-Muftara Minarrafidhati ?ala Ummahatil Mukminin, hal. 11, karya Dr. Abdul Qadir Muhammad ?Atha)
Demikianlah, betapa keji dan kotornya mulut mereka. Oleh karena itu, Al-Imam Malik bin Anas berkata: ?Mereka itu adalah suatu kaum yang berambisi untuk menghabisi Nabi ? namun tidak mampu. Maka akhirnya mereka cela para shahabatnya agar kemudian dikatakan bahwa ia (Nabi Muhammad ? ) adalah seorang yang jahat, karena kalau memang ia orang shalih, niscaya para shahabatnya adalah orang-orang shalih.? (Ash-Sharimul Maslul ?ala Syatimirrasul, hal. 580)

c. Tentang Imamah (Kepemimpinan Umat)
Imamah menurut mereka merupakan rukun Islam yang paling utama3. Diriwayatkan dari Al-Kulaini dalam Al-Kaafi (2/18) dari Zurarah dari Abu Ja?far, ia berkata: ?Islam dibangun di atas lima perkara:? shalat, zakat, haji, shaum dan wilayah (imamah)?? Zurarah berkata: ?Aku katakan, mana yang paling utama?? Ia berkata: ?Yang paling utama adalah wilayah.? (Dinukil dari Badzlul Majhud, 1/174)
Imamah ini (menurut mereka -red) adalah hak ?Ali bin Abu Thalib ? dan keturunannya sesuai dengan nash wasiat Rasulullah ?. Adapun selain mereka (Ahlul Bait) yang telah memimpin kaum muslimin dari Abu Bakr, ?Umar dan yang sesudah mereka hingga hari ini, walaupun telah berjuang untuk Islam, menyebarkan dakwah dan meninggikan kalimatullah di muka bumi, serta memperluas dunia Islam, maka sesungguhnya mereka hingga hari kiamat adalah para perampas (kekuasaan). (Lihat Al-Khuthuth Al-?Aridhah, hal. 16-17)
Mereka pun berkeyakinan bahwa para imam ini ma?shum (terjaga dari segala dosa) dan mengetahui hal-hal yang ghaib. Al-Khumaini (Khomeini) berkata: ?Kami bangga bahwa para imam kami adalah para imam yang ma?shum, mulai ?Ali bin Abu Thalib hingga Penyelamat Umat manusia Al-Imam Al-Mahdi, sang penguasa zaman -baginya dan bagi nenek moyangnya beribu-ribu penghormatan dan salam- yang dengan kehendak Allah Yang Maha Kuasa, ia hidup (pada saat ini) seraya mengawasi perkara-perkara yang ada.? (Al-Washiyyah Al-Ilahiyyah, hal. 5, dinukil dari Firaq Mu?ashirah, 1/192)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Minhajus Sunnah, benar-benar secara rinci membantah satu persatu kesesatan-kesesatan mereka, terkhusus masalah imamah yang selalu mereka tonjolkan ini.
d. Tentang Taqiyyah
Taqiyyah adalah berkata atau berbuat sesuatu yang berbeda dengan keyakinan, dalam rangka nifaq, dusta, dan menipu umat manusia. (Lihat Firaq Mu?ashirah, 1/195 dan Asy-Syi?ah Al-Itsna ?Asyariyyah, hal. 80)
Mereka berkeyakinan bahwa taqiyyah ini bagian dari agama. Bahkan sembilan per sepuluh agama. Al-Kulaini meriwayatkan dalam Al-Kaafi (2/175) dari Abu Abdillah, ia berkata kepada Abu Umar Al-A?jami: ?Wahai Abu ?Umar, sesungguhnya sembilan per sepuluh dari agama ini adalah taqiyyah, dan tidak ada agama bagi siapa saja yang tidak ber-taqiyyah.? (Dinukil dari Firaq Mu?ashirah, 1/196). Oleh karena itu Al-Imam Malik ketika ditanya tentang mereka beliau berkata: ?Jangan kamu berbincang dengan mereka dan jangan pula meriwayatkan dari mereka, karena sungguh mereka itu selalu berdusta.? Demikian pula Al-Imam Asy-Syafi?i berkata: ?Aku belum pernah tahu ada yang melebihi Rafidhah dalam persaksian palsu.? (Mizanul I?tidal, 2/27-28, karya Al-Imam Adz-Dzahabi)

e. Tentang Raj?ah
Raj?ah adalah keyakinan hidupnya kembali orang yang telah meninggal. ?Ahli tafsir? mereka, Al-Qummi ketika menafsirkan surat An-Nahl ayat 85, berkata: ?Yang dimaksud dengan ayat tersebut adalah raj?ah, kemudian menukil dari Husain bin ?Ali bahwa ia berkata tentang ayat ini: ?Nabi kalian dan Amirul Mukminin (?Ali bin Abu Thalib) serta para imam ?alaihimus salam akan kembali kepada kalian?.? (Dinukil dari kitab Atsarut Tasyayyu? ?Alar Riwayatit Tarikhiyyah, hal. 32, karya Dr. Abdul ?Aziz Nurwali)

f. Tentang Al-Bada?
Al-Bada? adalah mengetahui sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui. Mereka berkeyakinan bahwa Al-Bada? ini terjadi pada Allah ?. Bahkan mereka berlebihan dalam hal ini. Al-Kulaini dalam Al-Kaafi (1/111), meriwayatkan dari Abu Abdullah (ia berkata): ?Tidak ada pengagungan kepada Allah yang melebihi Al-Bada?.? (Dinukil dari Firaq Mu?ashirah, 1/252). Suatu keyakinan kafir yang sebelumnya diyakini oleh Yahudi4.
Demikianlah beberapa dari sekian banyak prinsip Syi?ah Rafidhah, yang darinya saja sudah sangat jelas kesesatan dan penyimpangannya. Namun sayang, tanpa rasa malu Al-Khumaini (Khomeini) berkata: ?Sesungguhnya dengan penuh keberanian aku katakan bahwa jutaan masyarakat Iran di masa sekarang lebih utama dari masyarakat Hijaz (Makkah dan Madinah, pen) di masa Rasulullah ?, dan lebih utama dari masyarakat Kufah dan Iraq di masa Amirul Mukminin (?Ali bin Abu Thalib) dan Husein bin ?Ali.? (Al-Washiyyah Al-Ilahiyyah, hal. 16, dinukil dari Firaq Mu?ashirah, hal. 192)

Perkataan Ulama tentang Syi?ah Rafidhah
Asy-Syaikh Dr. Ibrahim Ar-Ruhaili di dalam kitabnya Al-Intishar Lish Shahbi Wal Aal (hal. 100-153) menukilkan sekian banyak perkataan para ulama tentang mereka. Namun dikarenakan sangat sempitnya ruang rubrik ini, maka hanya bisa ternukil sebagiannya saja.
1. Al-Imam ?Amir Asy-Sya?bi berkata: ?Aku tidak pernah melihat kaum yang lebih dungu dari Syi?ah.? (As-Sunnah, 2/549, karya Abdullah bin Al-Imam Ahmad)
2. Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri ketika ditanya tentang seorang yang mencela Abu Bakr dan ?Umar, beliau berkata: ?Ia telah kafir kepada Allah.? Kemudian ditanya: ?Apakah kita menshalatinya (bila meninggal dunia)?? Beliau berkata: ?Tidak, tiada kehormatan (baginya)?.? (Siyar A?lamin Nubala, 7/253)
3. Al-Imam Malik dan Al-Imam Asy-Syafi?i, telah disebut di atas.
4. Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata: ?Aku tidak melihat dia (orang yang mencela Abu Bakr, ?Umar, dan ?Aisyah) itu orang Islam.? (As-Sunnah, 1/493, karya Al-Khallal)
5. Al-Imam Al-Bukhari berkata: ?Bagiku sama saja apakah aku shalat di belakang Jahmi, dan Rafidhi atau di belakang Yahudi dan Nashara (yakni sama-sama tidak boleh -red). Mereka tidak boleh diberi salam, tidak dikunjungi ketika sakit, tidak dinikahkan, tidak dijadikan saksi, dan tidak dimakan sembelihan mereka.? (Khalqu Af?alil ?Ibad, hal. 125)
6. Al-Imam Abu Zur?ah Ar-Razi berkata: ?Jika engkau melihat orang yang mencela salah satu dari shahabat Rasulullah ?, maka ketahuilah bahwa ia seorang zindiq. Yang demikian itu karena Rasul bagi kita haq, dan Al Qur?an haq, dan sesungguhnya yang menyampaikan Al Qur?an dan As Sunnah adalah para shahabat Rasulullah ?. Sungguh mereka mencela para saksi kita (para shahabat) dengan tujuan untuk meniadakan Al Qur?an dan As Sunnah. Mereka (Rafidhah) lebih pantas untuk dicela dan mereka adalah zanadiqah.? (Al-Kifayah, hal. 49, karya Al-Khathib Al-Baghdadi)
Demikianlah selayang pandang tentang Syi?ah Rafidhah, mudah-mudahan bisa menjadi pelita dalam kegelapan dan embun penyejuk bagi pencari kebenaran?Amin

Penulis : Al-Ustadz Ruwaifi? bin Sulaimi Al-Atsari

Apakah Benar Al Quran Syi`ah itu Sama dengan Al Quran Sunni????

Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillah wassalatu wassalamu `ala rasulillah wa ala alihi wa ashabih wa ba`du :

Sesungguhnya apa yang didakwakan sebagian orang bahwa Al Quran Syi`ah sama seperti Al Quran sunni, bertentangan dengan apa yang telah ditulis dan ditetapkan oleh ulama syi`ah dalam kitab-kitab mereka. Sebagai buktinya adalah kitab : “Fashlu Al khithab fi tahriifi kitab rabbil arbaab” karangan Husain An Nuuri At Tibrisi. Dan dalam buku ini membuktikan dari kitab-kitab mereka bahwa Al Quran yang ada sekarang ini telah diubah, dinukil dari jumlah yang besar dari riwayat-riwayat mereka yang mencela Al Quran, ia berkata : Riwayat itu telah dikumpulkan dari buku-buku yang terpercaya yang dijadikan rujukan bagi pemeluk (ajaran ini). (fashlul khitab lembaran 117).
Dan ia berkata di halaman yang lain : “Dan ketahuilah bahwasanya riwayat-riwayat itu dinukil dari kitab-kitab yang terpercaya yang dijadikan sebagai rujukan oleh pengikut kita dalam menentukan hukum syara` dan hadits nabi”. (fashlul khitab lembaran 126).

Dalam buku ini juga anda akan mendapatkan surat yang didakwakan oleh kaum Syi`ah, surat yang telah dihapus dari Al Quran yaitu surat wilayah.
Coba anda lihat juga di kitab Al Kafi, yang pengarangnya mengatakan ia konsisten mengeluarkan hadits yang shahih saja (menurutnya). Sebagai contoh lihatlah dalam nomor-nomor berikut ini :
Kitab AL Kafi 1/413 dan setelahnya. Lihat pada nomor-nomor berikut ini : 8, 23, 25, 26, 27, 28, 31, 32, 45, 47, 58, 59, 60, 64.
Lihat di jilid dua (2/619) dari buku yang sama (Al Kafi) bab Al Quran akan diangkat sebagaimana diturunkan, no 2. dan bab An Nawadir (hal-hal yang asing), hal 627 dan setelahnya dengan nomor-nomor : 2, 3, 4, 16, 23, 28, .

Riwayat ini semua di dalam kitab Al Kafi terang-terangan dalam mencela kitab Allah, dan tidak bisa ditafsirkan bahwa itu adalah dari segi atau bagian dari qiraat atau tafsir.
Untuk memperkuat perkataan ini, saya akan mencantumkan beberapa perkataan ulama mereka yang diakui terpercaya :

Berkata al Majlisi pengarang kitab “Biharul Anwar” : “Menurut saya, sesungguhnya kabar-kabar (riwayat-riwayat) dalam bab ini (keyakinan bahwa Alquran dirubah), adalah kabar (riwayat) mutawatir makna, dan membuang seluruh riwayat itu mengharuskan untuk tidak mengakui dan mempercayai kabar itu, bahkan perkiraan saya sesungguhnya riwayat-riwayat itu pada masalah ini tidak hanya sebatas riwayat-riwayat para imam. (miraatul `Uqul 2/536).

Berkata syeikh syi`ah Al Mufiid : “Sesungguhnya riwayat-riwayat itu sungguh telah datang secara masyhur dan banyak dari para imam huda dari keluarga Muhammad -shallallahu `alaihi wa sallam- dengan (menerangkan) perbedaan Al Quran , dan apa yang telah dilakukakannya oleh sebagian orang-orang yang zholim dari menghapus dan mengurangi. (buku Awail al maqaalaat oleh AL Mufiid, hal : 98).

Berkata At Thibrisi tentang riwayat-riwayat mereka dalam mencela Al Quran : “Dan riwayat-riwayat itu banyak sekali, sehingga berkata Saiyid Ni`matullah al Jazairi di sebagian karangan-karangannya, sebagaimana diriwayatkan darinya, bahwa riwayat-riwayat yang menunjukkan terhadap hal itu (alQuran dirubah) melebihi dari dua ribu hadits”. ( buku Fashlul Khithab oleh At Thibrisi lembaran125.

Dan berkata Muhammad Sholeh Al Mazindaraani (wafat 1081 H), : “? membuang sebagian Al Quran dan merubahnya adalah hal yang telah tetap dari jalan (sanad) kami dengan riwayat mutawatir makna, sebagaimana tampak jelas bagi siapa yang memperhatikan dalam buku-buku hadits dari awal sampai akhir” (Muhammad Al Mazindaraani : Syarh Jami` Al Kafi : 11/76).

Berkata Ni`matullah Al Jazairi : Sesungguhnya perkataan bahwa Al Quran terjaga dan terpelihara, akan mengakibatkan kepada pembuangan riwayat-riwayat yang masyhur dan banyak, bahkan mutawatir yang mengindikasikan dengan jelas dan terang atas terjadinya perubahan pada Al Quran? sedangkan pengikut-pengikut kita telah sepakat atas keabsahannya dan mempercayainya”. (kitab AL Nawar An Ni`maniayah : 2/358-358).

At Thibrisi memandang sesungguhnya tidaklah pantas bagi mereka untuk melihat dan meneliti sanad-sanadnya disebabkan kemutawatirannya dari jalan-jalan (sanad-sanad) mereka, ia berkata : “Sesungguhnya meneliti sanad pada riwayat-riwayat yang banyak itu mengakibatkan kepada penutupan pintu menghukum mutawatir maknawi di riwayat itu, bahkan hal itu seperti waswas yang pantas untuk berlindung darinya.” (fashlul Khitab, lebaran 124.)

Bagi siapa yang ingin mengetahuinya dengan yakin lihatlah pada buku-buku tersebut di atas, dan kitab hadits mereka yaitu Al Kafi, sebagai contoh :
Al Kulaini meriwayatkan dalam kitab Al Kafi dari Hisyam bin Salim dari Abi Abdillah alaihi salam : “Sesungguhnya Al Quran yang dibawa Jibril `Alaihi salam kepada Muhammad -shallallahu `alaihi wa sallam- tujuh belas ribu ayat”. ( Ushul Kafi, kitab Fadhlul Al Quran, bab An Nawadir 2/134).
Perlu diketahui ayat Al Quran -sebagaimana yang diketahui- lebih sedikit dari enam ribu ayat.
Keterangan seperti ini banyak sekali dalam buku-buku syi`ah yang asli. Keyakinan ini sangatlah berbahaya. Sebab umat nabi Muhammad telah sepakat terhadap penjagaan Allah terhadap kitab-Nya yang agung, dan bahwasanya Al Quran tidak akan didatangi oleh kebatilan dari hadapannya dan tidak juga dari belakangnya, (karena) diturunkan dari Yang Maha Bijaksana dan Maha terpuji. Al Quran adalah Hujjah Allah yang kekal dan mu`jizat nabi-Nya yang paling besar. Sungguh Allah telah menjamin untuk menjaganya, Allah berfirman :
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur`an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS. 15:9)
Maka barangsiapa yang berusaha menyentuhnya dan mencela kesuciannya maka sesungguhnya ia jauh dari agama islam, walaupun menamakan diri dengan islam, maka wajiblah membuka kedoknya agar umat ini mengetahui permusuhan dan kejahatannya, karena ia telah memerangi agama Islam pada dasar pokoknya yang agung dan tonggaknya yang kuat.

Sesungguhnya dakwaan bahwa perobahan al Quran itu merupakan usaha yang terakhir dari musuh-musuh kaum muslimin, yang bertujuan mencela dan melumpuhkan agama mereka dan Al quran mereka, hal itu disebabkan mereka tidak mampu untuk mengotak atik Al Quran karena hal itu diluar dari kemampuan mereka, maka mereka mengarahkan bidikan anak panah mereka kepada dakwaan bohong dan dusta, yaitu dakwaan bahwa di Al quran telah terjadi pengurangan dan perubahan.

Jadi orang yang meyakini hal seperti itu, tanpa disadarinya ia tidak beriman kepada firman Allah dan tidak beriman kepada Allah atas jaminan Allah untuk menjaga Al Quran ini.

Maka hati-hatilah saudara-saudara yang tertipu, yang terlanjur mengagumi mazhab yang sesat ini, tapi tidak menerima adanya perubahan dalam Al Quran, dan mempunyai keimanan kepada Allah dan kepada jaminan Allah untuk menjaga Al Quran ini dari perubahan, tinggalkanlah mazhab itu, karena akidahnya bisa membawa anda untuk mengkufuri Al Quran dan kemudian kufur kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka betaubatlah sebelum pintu taubat tertutup.

Sebenarnya orang yang mengatakan Al Quran Syi`ah tidak ada bedanya dengan Al Quran Sunni, dakwaan dan perkataan ini adalah usaha untuk mendekatkan antara syi`ah dan sunni. Akan tetapi bagi siapa yang mengtahui hakikat ajaran syi`ah, maka ia akan mengetahui bahwa usaha itu tidak mungkin, kecuali salah satunya harus meninggalkan akidahnya dan pindah ke akidah yang lain. Sebab Al Qurannya saja sudah berbeda apalagi yang lain. Maka janganlah kita terpikau oleh rayuan syi`ah yang mengakatakan kita harus bersatu dan harus bersaudara, karena kita tidak akan bisa bersatu dengan mereka bagaikan air dengan minyak.
Wassalamu`alaikum warahmatullah bawarakatuh.

[Kontributor : Muhammad Elvi Bin Syamsi, Lc., 14 Juni 2002 ]

Membendung makar Syiah

Ketahuilah wahai saudaraku, semoga Allah membimbingmu ke atas Siratal Mustaqim.
Bahwasanya orang-orang orientalis dan orang-orang syiah berusaha untuk merusak aqidah umat Islam. Mereka mencela, menuduh pengkhianat, bahkan kafir terhadap para Sahabat – murid-murid Rasululllah shallallahu waalaihi wa sallam.

Mereka membungkus kejahatan mereka dengan kata-kata yang indah, dengan memberikan tinjauan-tinjauan politik, ekonomi, sosial budaya terhadap Sejarah Islam, tetapi pada ujungnya mereka mencela para Sahabat.

Mengapa mereka mencela para Sahabat ?
Karena dengan mencela para sahabat mereka bermaksud untuk membatalkan Al-Quran dan Al-Hadits, karena lewat para Sahabatlah kita mengetahui Al-Quran dan Al-Hadits dan itulah tujuan mereka.

Mencela para Sahabat dengan tuduhan pendusta, pengkhianat, bahkan kafir berarti juga menuduh dakwah Rasulullah gagal. Mencela para Sahabat berarti juga mencela Rasulullah. Misalkan, jika dikatakan bahwa teman-teman akrabnya si Fulan itu: tukang mabok, pencopet, perampok, suka pergi ke tempat pelacuran, apa yang kalian simpulkan tentang si Fulan. Tentu kalian akan mengatakan bahwa si Fulan kurang lebih sama dengan teman-temannya itu.

Lewat pintu inilah (mencela para Sahabat Nabi) orang-orang orientalis dan syiah berusaha merusak aqidah umat Islam. Syiah itu seperti serigala berbulu domba, mereka mengaku sebagai umat Islam, tetapi mereka sesungguhnya akan menikam aqidah kalian-wahai saudaraku, hati-hatilah !

Tulisan singkat ini berusaha untuk menutup pintu yang biasanya digunakan masuk oleh srigala-srigala berbulu domba dan kemudian akan merusak aqidah umat Islam. Bila ingin rinci, bacalah kitab-kitab para ulama ahli hadits yang mengupas masalah seperti ini. Tulisan ini merupakan pembelaan bagi para Sahabat.

I. PARA SAHABAT ADALAH SEBAIK-BAIK UMAT

Allah taala menyatakan bahwa para sahabat merupakan sebaik-baik umat, Allah taala berfirman [artinya]: “Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang maruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.”(Ali-Imran:110)

Rasulullah shallallahualaihi wa sallam bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah pada generasiku (sahabat), kemudian setelahnya (tabiin) kemudian setelahnya (tabiut tabiin)” (HR. Bukhari & Muslim dan lainnya)

Apabila ada orang sesat yang menuduh para sahabat nabi sebagai sejahat-jahat umat-sebagai pengkhianat, siapa yang akan kalian benarkan, apakah ucapan Allah dan Rasul-Nya atau orang-orang sesat tersebut wahai orang-orang yang berakal ?

II. PERSAKSIAN AL-QURAN BAHWA PARA SAHABAT BERIMAN DENGAN SEBENAR-BENARNYA

Sungguh, Allah taala telah bersaksi bahwa para sahabat Nabi, baik dari Muhajirin maupun Anshar bahwa mereka adalah mumin yang haqiqi. Allah berfirman [artinya]: “Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia. (Al-Anfaal:74)

III. PARA SAHABAT TELAH DI RIDHAI OLEH ALLAH TAALA

Allah telah meridhai para sahabat, dan menjanjikan begi mereka Sorga, Allah berfirman [artinya]: “Dan orang-orang yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. (At-Taubah:100)

IV. KEKAFIRAN MERUPAKAN HAL YANG SANGAT JAUH BAGI PARA SAHABAT

Allah telah membimbing para Sahabat untuk mencintai keimanan dan membenci kekafiran, Allah berfirman: “Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, (Al-Hujurat:7)

Adalah sangat menggelikan mendengar gonggongan serigala-serigala berbulu domba, yang mereka menuduh para Sahabat kemudian murtad sepeninggal Rasulullah. Padahal Allah telah menjadikan para Sahabat mencintai keimanan dan membenci kekafiran, Allah juga telah menjanjikan Surga bagi Muhajirin dan Anshar. Apakah mungkin Allah menjanjikan sorga kepada orang-orang yang murtad ?. Berita gembira bahwa para sahabat akan memperoleh sorga membuktikan bahwa para sahabat terbebas dari kemunafikan.

V. ALLAH TELAH MENJADIKAN SAHABAT SEBAGAI KHALIFAH DAN BUKTI-BUKTINYA.

Sungguh, Allah telah berjanji akan menjadikan khalifah (penguasa) bagi orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, Allah berfirman [artinya]: ” Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa” (An-Nur:55).

Pada masa kekhalifahan khulafaur Rasyidin wilayah umat Islam meluas sampai ke Persia, Bashra, Damaskus, Mesir, Rumawi, Konstantinopel (sekarang Ankara Turki), Maroko, Cyprus, Cina, Iraq, Khurasan, Ahwaz dan negeri-negeri lainnya.

Kenyataan sejarah ini sebagai bukti bahwa para Sahabat merupakan orang-orang yang beriman dan beramal shaleh.

VI. PARA SAHABAT TIDAK MENGUBAH SEDIKITPUN DIEN DAN SYARIAT.

Allah juga menjamin bahwa para Sahabat tidak akan merubah sedikitpun dien (agama) dan syariat yang mereka terima dari Rasulullah shallallahualaihi wa sallam, Allah berfirman [artinya]: ” Di antara orang-orang mumin itu ada orang-orang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur.Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merobah (janjinya)” (Al-Ahzab:23)

VII. SAHABAT BUKAN MUNAFIQ DAN MUNAFIQ BUKAN SAHABAT

Munafiq pada masa Rasulullah tidaklah banyak dan mereka jelas ciri-cirinya. Kaum Mukminin mengetahui orang-orang munafiq dari Al-Quran, Al-Quran menerangkan bahwa bahwa kaum munafiq akan mengatakan demikian-demikian. Allah juga telah menyingkap keadaan munafiqin. Dalil tentang hal ini akan terlalu banyak untuk disebutkan disini.

Definisi Sahabat Nabi adalah orang yang bertemu Nabi dalam keadaan iman dan meninggal dalam keadaan iman.

VIII. PARA SAHABAT BUKANLAH MALAIKAT DAN BUKAN PULA NABI, SEHINGGA TIDAK MASUM

Ketahuilah wahai saudaraku, semoga Allah membimbingmu ke atas Siratal Mustaqim.
Para Sahabat itu bukanlah malaikat dan bukan pula Nabi, sehingga tidak terbebas dari kesalahan, namun Allah telah menjanjikan ampunan bagi mereka. Sehingga tidak pantas bagi kita mengorek-ngorek kesalahan-kesalahan mereka, misalnya dengan membahas perselisihan diantara mereka dan kemudian sebagian sahabat dicela.

Ketahuilah wahai saudaraku, semoga Allah membimbingmu ke atas Siratal Mustaqim.
Sahabat itu mujtahidin, sehingga bila ijtihadnya keliru mereka mendapat satu pahala dan jika benar mendapat 2 pahala.

Allah taala berfirman [artinya]: “Itu adalah umat yang telah lalu, baginya apa yang diusahakannya dan bagimu apa yang kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungjawaban tentang apa yang telah mereka kerjakan” (Al-Baqarah:141)

Para Sahabat telah pergi dengan membawa keridhaan Rabb, dijanjikan sorga, diampuni kesalahannya dan keutamaan-keutamaan lainnya. Pantaskah kita mengorek-ngorek kesalahan mereka ?.
Beramalah untuk bekal kalian menghadap Rabbul Alamin !

IX. HUKUM ORANG YANG MENCACI PARA SAHABAT DENGAN MENUDUHNYA KAFIR, MURTAD DAN FASIQ SEMUANYA ATAU SEBAGIANNYA.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menerangkan: ” Adapun orang yang melampaui masalah itu, hingga menyangka bahwa para sahabat itu murtad sepeninggal Rasulullah shallallahualaihi wa sallam kecuali hanya beberapa orang saja yang tidak sampai sepuluh orang, atau menganggap para Sahabat pada umumnya fasiq, maka yang demikian itu tidak diragukan kekafirannya, karena dengan demikian dia telah mengkufuri banyak ayat-ayat Al-Quran yang menyatakan karidhaan dan pujian Allah kepada mereka. Bahkan barangsiapa yang meragukan kekafirannya, berarti dia kafir dengan kafir yang sebenar-benarnya kafir…” kemudian beliau menyatakan: ” Dan kekafiran yang demikian ini adalah perkara yang sudah diketahui dengan pasti dari agama Islam. (As-Sharimul Maslul)

Imam Malik berpendapat kafir terhadap orang-orang yang membenci para Sahabat berdasarkan Surat Al-Fath ayat 29 yang menerangkan keadaan para Sahabat: “Agar Allah menjengkelkan orang-orang kafir dengan keadaan mereka seperti itu”. Pengertian seperti ini juga disepakati oleh Imam Syafii dan lainya. (As-Shawaiqul Muhriqah, Tafsir Ibnu Katsier, As-Sunnah karya Al-Khallal)

Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Rasulullah, keluarga, dan para Sahabatnya.
Allahu taala alam. Akhiru dawana wal hamdulillahirabbil alamin.

Pokok-Pokok Kesesatan Syiah

Asal-usul Syiah
Syiah secara etimologi bahasa berarti pengikut, sekte dan golongan. Sedangkan dalam istilah Syara’, Syi’ah adalah suatu aliran yang timbul sejak pemerintahan Utsman bin Affan yang dikomandoi oleh Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi dari Yaman. Setelah terbunuhnya Utsman bin Affan, lalu Abdullah bin Saba’ mengintrodusir ajarannya secara terang-terangan dan menggalang massa untuk memproklamirkan bahwa kepemimpinan (baca: imamah) sesudah Nabi saw sebenarnya ke tangan Ali bin Abi Thalib karena suatu nash (teks) Nabi saw. Namun, menurut Abdullah bin Saba’, Khalifah Abu Bakar, Umar, Utsman telah mengambil alih kedudukan tersebut.

Keyakinan itu berkembang sampai kepada menuhankan Ali bin Abi Thalib. Berhubung hal itu suatu kebohongan, maka diambil tindakan oleh Ali bin Abi Thalib, yaitu mereka dibakar, lalu sebagian mereka melarikan diri ke Madain.

Aliran Syi’ah pada abad pertama hijriyah belum merupakan aliran yang solid sebagai trend yang mempunyai berbagai macam keyakinan seperti yang berkembang pada abad ke-2 hijriyah dan abad-abad berikutnya.

Pokok-Pokok Penyimpangan Syiah pada Periode Pertama:
1. Keyakinan bahwa imam sesudah Rasulullah saw adalah Ali bin Abi Thalib, sesuai dengan sabda Nabi saw. Karena itu para Khalifah dituduh merampok kepemimpinan dari tangan Ali bin Abi Thalib ra.

2. Keyakinan bahwa imam mereka maksum (terjaga dari salah dan dosa)

3. Keyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib dan para Imam yang telah wafat akan hidup kembali sebelum hari Kiamat untuk membalas dendam kepada lawan-lawannya, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah dll.

4. Keyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib dan para Imam mengetahui rahasia ghaib, baik yang lalu maupun yang akan datang. Ini berarti sama dengan menuhankan Ali dan Imam.

5. Keyakinan tentang ketuhanan Ali bin Abi Thalib yang dideklarasikan oleh para pengikut Abdullah bin Saba’ dan akhirnya mereka dihukum bakar oleh Ali bin Abi Thalib karena keyakinan tersebut.

6. Keyakinan mengutamakan Ali bin Abi Thalib atas Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Padahal Ali sendiri mengambil tindakan hukum cambuk 80 kali terhadap orang yang meyakini kebohongan tersebut

7. Keyakinan mencaci maki para Sahabat atau sebagian Sahabat seperti Utsman bin Affan (lihat Dirasat fil Ahwaa’ wal Firaq wal Bida’ wa Mauqifus Salaf minhaa, Dr. Nashir bin Abdul Karim Al-Aql hal. 237)

Pada abad ke-2 hijriyah, perkembangan keyakinan Syi’ah semakin menjadi-jadi sebagai aliran yang mempunyai berbagai perangkat keyakinan baku dan terus berkembang sampai berdirinya dinasti Fathimiyyah di Mesir dan dinasti Sofawiyah di Iran. Terakhir aliran tersebut terangkat kembali dengan revolusi Khomaini dan dijadikan sebagai aliran resmi negara Iran sejak 1979.

Pokok-Pokok Penyimpangan Syi’ah Secara Umum:
1. Pada Rukun Iman:
Syiah hanya memiliki 5 rukun iman, tanpa menyebut keimanan kepada para Malaikat, Rasul dan Qadha dan Qadar- yaitu: 1. Tauhid (keesaan Allah), 2. Al-‘Adl (keadilan Allah) 3. Nubuwwah (kenabian), 4. Imamah (kepemimpinan Imam), 5.Ma’ad (hari kebangkitan dan pembalasan). (Lihat ‘Aqa’idul Imamiyah oleh Muhammad Ridha Mudhoffar dll)

2. Pada Rukum Islam:
Syiah tidak mencantumkan Syahadatain dalam rukun Islam, yaitu: 1.Shalat, 2.Zakat, 3.Puasa, 4.Haji, 5.Wilayah (perwalian) (lihat Al-Khafie juz II hal 18)

3. Syi’ah meyakini bahwa Al-Qur’an sekarang ini telah dirubah, ditambahi atau dikurangi dari yang seharusnya, seperti:
“wa inkuntum fii roibim mimma nazzalna ‘ala ‘abdina FII ‘ALIYYIN fa`tu bi shuratim mim mits lih (Al-Kafie, Kitabul Hujjah: I/417)
Ada tambahan “fii ‘Aliyyin” dari teks asli Al-Qur’an yang berbunyi:
“wa inkuntum fii roibim mimma nazzalna ‘ala ‘abdina fa`tu bi shuratim mim mits lih” (Al-Baqarah:23)

Karena itu mereka meyakini bahwa: Abu Abdillah a.s (imam Syiah) berkata: “Al-Qur’an yang dibawa oleh Jibril a.s kepada Nabi Muhammad saw adalah 17.000 ayat (Al-Kafi fil Ushul Juz II hal.634). Al-Qur’an mereka yang berjumlah 17.000 ayat itu disebut Mushaf Fatimah (lihat kitab Syi’ah Al-Kafi fil Ushul juz I hal 240-241 dan Fashlul Khithab karangan An-Nuri Ath-Thibrisy)

4. Syi’ah meyakini bahwa para Sahabat sepeninggal Nabi saw, mereka murtad, kecuali beberapa orang saja, seperti: Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifary dan Salman Al-Farisy (Ar Raudhah minal Kafi juz VIII hal.245, Al-Ushul minal Kafi juz II hal 244)

5. Syi’ah menggunakan senjata “taqiyyah” yaitu berbohong, dengan cara menampakkan sesuatu yang berbeda dengan yang sebenarnya, untuk mengelabui (Al Kafi fil Ushul Juz II hal.217)

6. Syi’ah percaya kepada Ar-Raj’ah yaitu kembalinya roh-roh ke jasadnya masing-masing di dunia ini sebelum Qiamat dikala imam Ghaib mereka keluar dari persembunyiannya dan menghidupkan Ali dan anak-anaknya untuk balas dendam kepada lawan-lawannya.

7. Syi’ah percaya kepada Al-Bada’, yakni tampak bagi Allah dalam hal keimaman Ismail (yang telah dinobatkan keimamannya oleh ayahnya, Ja’far As-Shadiq, tetapi kemudian meninggal disaat ayahnya masih hidup) yang tadinya tidak tampak. Jadi bagi mereka, Allah boleh khilaf, tetapi Imam mereka tetap maksum (terjaga).

8. Syiah membolehkan “nikah mut’ah”, yaitu nikah kontrak dengan jangka waktu tertentu (lihat Tafsir Minhajus Shadiqin Juz II hal.493). Padahal hal itu telah diharamkan oleh Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib sendiri.

Nikah Mut’ah
Nikah mut’ah ialah perkawinan antara seorang lelaki dan wanita dengan maskawin tertentu untuk jangka waktu terbatas yang berakhir dengan habisnya masa tersebut, dimana suami tidak berkewajiban memberikan nafkah, dan tempat tinggal kepada istri, serta tidak menimbulkan pewarisan antara keduanya.

Ada 6 perbedaan prinsip antara nikah mut’ah dan nikah sunni (syar’i):
1. Nikah mut’ah dibatasi oleh waktu, nikah sunni tidak dibatasi oleh waktu.
2. Nikah mut’ah berakhir dengan habisnya waktu yang ditentukan dalam akad atau fasakh, sedangkan nikah sunni berakhir dengan talaq atau meninggal dunia
3. Nikah mut’ah tidak berakibat saling mewarisi antara suami istri, nikah sunni menimbulkan pewarisan antara keduanya.
4. Nikah mut’ah tidak membatasi jumlah istri, nikah sunni dibatasi dengan jumlah istri hingga maksimal 4 orang.
5. Nikah mut’ah dapat dilaksanakan tanpa wali dan saksi, nikah sunni harus dilaksanakan dengan wali dan saksi.
6. Nikah mut’ah tidak mewajibkan suami memberikan nafkah kepada istri, nikah sunni mewajibkan suami memberikan nafkah kepada istri.

Dalil-Dali Haramnya Nikah Mut’ah
Haramnya nikah mut’ah berlandaskan dalil-dalil hadits Nabi saw juga pendapat para ulama dari 4 madzhab.

Dalil dari hadits Nabi saw yang diwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitabnya Shahih Muslim menyatakan bahwa dari Sabrah bin Ma’bad Al-Juhaini, ia berkata: “Kami bersama Rasulullah saw dalam suatu perjalanan haji. Pada suatu saat kami berjalan bersama saudara sepupu kami dan bertemu dengan seorang wanita. Jiwa muda kami mengagumi wanita tersebut, sementara dia mengagumi selimut (selendang) yang dipakai oleh saudaraku itu. Kemudian wanita tadi berkata: “Ada selimut seperti selimut”. Akhirnya aku menikahinya dan tidur bersamanya satu malam. Keesokan harinya aku pergi ke Masjidil Haram, dan tiba-tiba aku melihat Rasulullah saw sedang berpidato diantara pintu Ka’bah dan Hijr Ismail. Beliau bersabda, “Wahai sekalian manusia, aku pernah mengizinkan kepada kalian untuk melakukan nikah mut’ah. Maka sekarang siapa yang memiliki istri dengan cara nikah mut’ah, haruslah ia menceraikannya, dan segala sesuatu yang telah kalian berikan kepadanya, janganlah kalian ambil lagi. Karena Allah azza wa jalla telah mengharamkan nikah mut’ah sampai Hari Kiamat (Shahih Muslim II/1024)

Dalil hadits lainnya: Dari Ali bin Abi Thalib ra. ia berkata kepada Ibnu Abbas ra bahwa Nabi Muhammad saw melarang nikah mut’ah dan memakan daging keledai jinak pada waktu perang Khaibar (Fathul Bari IX/71)

Pendapat Para Ulama
Berdasarkan hadits-hadits tersebut diatas, para ulama berpendapat sebagai berikut:

– Dari Madzhab Hanafi, Imam Syamsuddin Al-Sarkhasi (wafat 490 H) dalam kitabnya Al-Mabsuth (V/152) mengatakan: “Nikah mut’ah ini bathil menurut madzhab kami. Demikian pula Imam Ala Al Din Al-Kasani (wafat 587 H) dalam kitabnya Bada’i Al-Sana’i fi Tartib Al-Syara’i (II/272) mengatakan, “Tidak boleh nikah yang bersifat sementara, yaitu nikah mut’ah”

– Dari Madzhab Maliki, Imam Ibnu Rusyd (wafat 595 H) dalam kitabnya Bidayatul Mujtahid wa Nihayah Al-Muqtashid (IV/325 s.d 334) mengatakan, “hadits-hadits yang mengharamkan nikah mut’ah mencapai peringkat mutawatir” Sementara itu Imam Malik bin Anas (wafat 179 H) dalam kitabnya Al-Mudawanah Al-Kubra (II/130) mengatakan, “Apabila seorang lelaki menikahi wanita dengan dibatasi waktu, maka nikahnya batil.”

– Dari Madzhab Syafi’, Imam Syafi’i (wafat 204 H) dalam kitabnya Al-Umm (V/85) mengatakan, “Nikah mut’ah yang dilarang itu adalah semua nikah yang dibatasi dengan waktu, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, seperti ucapan seorang lelaki kepada seorang perempuan, aku nikahi kamu selama satu hari, sepuluh hari atau satu bulan.” Sementara itu Imam Nawawi (wafat 676 H) dalam kitabnya Al-Majmu’ (XVII/356) mengatakan, “Nikah mut’ah tidak diperbolehkan, karena pernikahan itu pada dasarnya adalah suatu aqad yang bersifat mutlaq, maka tidak sah apabila dibatasi dengan waktu.”

– Dari Madzhab Hambali, Imam Ibnu Qudamah (wafat 620 H) dalam kitabnya Al-Mughni (X/46) mengatakan, “Nikah Mut’ah ini adalah nikah yang bathil.” Ibnu Qudamah juga menukil pendapat Imam Ahmad bin Hambal (wafat 242 H) yang menegaskan bahwa nikah mut’ah adalah haram.

Dan masih banyak lagi kesesatan dan penyimpangan Syi’ah. Kami ingatkan kepada kaum muslimin agar waspada terhadap ajakan para propagandis Syi’ah yang biasanya mereka berkedok dengan nama “Wajib mengikuti madzhab Ahlul Bait”, sementara pada hakikatnya Ahlul Bait berlepas diri dari mereka, itulah manipulasi mereka. Semoga Allah selalu membimbing kita ke jalan yang lurus berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman Salafus Shalih. Lebih lanjut bagi yang ingin tahu lebih banyak, silakan membaca buku kami “Mengapa Kita Menolah Syi’ah”.

Penulis: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Al-Atsari, Lc.
Syariah, Manhaji, 12 – Februari – 2004, 01:05:04
http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=142

Rujukan:
1. Dr. Nashir bin Abdul Karim Al-Aql, Dirasat fil ahwa wal firaq wal Bida’ wa Mauqifus Salaf minha
2. Drs. KH Dawam Anwar dkk, Mengapa Kita menolak Syi’ah
3. H. Hartono Ahmad Jaiz, Di bawah Bayang-bayang Soekarno-Soeharto
4. Abdullah bin Sa’id Al-Junaid, Perbandingan antara Sunnah dan Syi’ah.
5. Dan lain-lain, kitab-kitab karangan orang Syi’ah.

Sumber: Buletin LPPI.
Masjid Al-Ihsan Lt.III Proyek Pasar Rumput Jakarta 12970 Telp/Fax. (021)8281606

2 thoughts on “syi’ah BUKAN ISLAM……!!!! (warning..!!!)

  1. AGama WAHABI adalah AGAMA yg PALING benar… Oleh Karena itu MUI harus wajib untuk mengkafirkan Agama Islam. sbb Agama yg Paling Benar dan selamat adalah AGAMA WAHABI, SAATnya berdakwah utk memurtadkan kaum KAFIR agama ISLAM supaya MASUK ke AGAMA WAHABI. ANDA bisa menjadi Imam Tertinggi AGAMA WAHABI.

    1. wahabi bukan lah agama menurut salafushalih melakinkan suatu sebutan yang di lontarkan para ahlul bid’ah dll yang tidak menyukai islam yang haq… padahal syekh abdul wahab bukan lah wahabi πŸ™‚

Masbro dan Mbkbro Bisa Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s